Setelah sekian purnama,


Tak berasa, 12 tahun berlalu. Hari ini kembali mengunjungi web ini demi kembali menoreh tinta yg telah lama tak menghiasi singgasana.

 

Begitu banyak perubahan pola penyakit hingga 2020 ini, bahkan baru ini di indonesia tengah hangatnya membahas “Coronavirus”.  Dan banyak isu2 terkini kesehatan masyarakat lainnya. Ingin sekali berbagi Info-info kesehatan terkini melalui web ini.

 

#hayu menulis lagi

#germas

#salam indonesia sehat

 

 

 

Investigasi Rabies


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

 

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. KLB ini merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.

Kejadian Luar Biasa atau wabah masih sering terjadi di daerah-daerah di wilayah Indonesia. Kejadian ini mempunyai karakter tersendiri karena kejadiannya sangat mendadak, mengenai banyak orang dan dapat menimbulkan kematian yang tinggi bila tidak ditanggulangi dengan segera.

Salah satu penyakit yang masih sering menimbulkan KLB atau wabah adalah penyakit rabies. Penyakit rabies merupakan penyakit zoonotik yang sangat penting artinya bagi kesehatan masyarakat karena mengakibatkan kematian pada penderita apabila tidak mendapatkan perawatan medis. Hampir sebagian besar wilayah di Indonesia masih dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Upaya pemberantasan rabies yang dilakukan pemerintah masih banyak mengalami kendala. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut maka penulis tertarik untuk membahas tentang epidemiologi rabies dan investigasi KLB/wabah rabies di Indonesia.

B. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai studi kasus investigasi KLB/wabah rabies. Disamping itu juga bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan dalam bidang ilmu Investigasi Wabah.

C. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari pemakalahan ini adalah :

  1. Menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai studi kasus investigasi wabah rabies secara lebih terperinci.
  2. Sebagai bahan bacaan atau literatur institusi pendidikan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya serta masyarakat pada umumnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rabies

Rabies merupakan salah satu penyakit infeksi pada manusia yang paling lama dikenal. Istilah rabies sudah dikenal sejak zaman Babilonia sekitar abad ke-23 SM dan Democritus menulis secara jelas tentang hewan yang menderita rabies pada tahun 500 SM. Tulisan tentang rabies pada manusia dengan gejala hidrofobia dibuat oleh Celsus pada abad pertama dan gejala klinis rabies ditulis secara jelas oleh dokter Italia bernama Fracastoro pada abad ke-16. Pada tahun 1880 Louis Pasteur mendemonstrasikan adanya infeksi pada susunan saraf pusat (SSP) sedangkan virus rabies sendiri baru dapat diperlihatkan dengan mikroskop elektron pada tahun 1960.(1)

Rabies adalah infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf  pusat manusia dan mamalia (ensefalitis virus) dengan mortalitas 100 %. Penyebabnya adalah virus rabies yang termasuk genus Lyssa virus, famili Rhabdoviridae. Virus rabies single stranded RNA berbentuk seperti peluru berukuran 180 x 75 nm. Rabies  adalah kera, musang, serigala, raccoon, kelelawar. Virus masuk melalui kulit yang terluka atau melalui mukosa utuh seperti konjungtiva mata, mulut, anus, genitalia eksterna, atau transplantasi kornea. Infeksi melalui inhalasi virus sangat jarang ditemukan, pernah dilaporkan pada 3 kasus. (1)

Walaupun telah tersedia vaksin rabies yang efektif dan aman bagi manusia dan hewan sehingga rabies dapat dicegah (vaccine-preventable disease), sampai saat ini rabies masih menjadi masalah kesehatan penting di erbagai negara Asia, Afrika dan Amerika Latin mengingat ketersediaan vaksin dan imunoglobulin yang terbatas dan relatif mahal; sebagian besar pasien meninggal tanpa penanganan memadai. Boleh dikatakan rabies merupakan penyakit zoonosis mematikan yang terabaikan (neglected zoonotic disease). Tanggal 28 September telah ditetapkan oleh WHO sebagai hari rabies sedunia (World Rabies Day).(1)

B. Epidemiologi Rabies

Rabies adalah penyakit virus zoonotik yang menginfeksi domestik dan hewan liar. Hal ini ditularkan kepada binatang lain dan manusia melalui kontak dekat dengan air liur dari hewan yang terinfeksi (mis. gigitan, goresan, menjilat di atas pecahan kulit dan selaput lendir). Setelah gejala penyakit berkembang, rabies adalah fatal bagi hewan dan manusia. Gejala pertama rabies biasanya tidak spesifik dan menyarankan keterlibatan pernapasan, gastrointestinal dan / atau sistem saraf pusat. Pada tahap akut, tanda-tanda hiperaktif (marah rabies) atau paralysis (dumb rabies) mendominasi. Dalam kedua marah dan bodoh rabies, kelumpuhan pada akhirnya berkembang menjadi kelumpuhan lengkap diikuti dengan koma dan kematian dalam semua kasus, biasanya akibat kegagalan pernapasan. Kematian terjadi selama tujuh hari pertama sakit tanpa perawatan intensif. (2)

Di sebagian besar negara, hanya satu spesies hewan darat mempertahankan Rabies di alam (misalnya, rubah merah di Eropa Barat, anjing di kebanyakan negara berkembang). Di negara-negara tertentu, Namun, berbeda dan independen siklus hutan, dan abu-abu rubah di Amerika Serikat, musang, anjing, kelelawar, rubah, dan serigala di Afrika Selatan, anjing dan serigala di Iran, anjing dan rubah di Israel). Selain itu, seperti yang diamati di beberapa negara di mana hanya anjing rabies dilaporkan sebelumnya, satwa liar termasuk Rabies kelelawar mungkin muncul ketika insiden anjing rabies secara drastis dikurangi atau dihilangkan penyakit pada anjing (misalnya, Brasil, Korea Selatan, Amerika Serikat).(2)

Di sebagian besar negara-negara Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah, anjing terus menjadi host utama dan bertanggung jawab atas sebagian besar kematian rabies manusia yang terjadi di seluruh dunia. Sebaliknya, di Amerika utara, paling didokumentasikan Rabies manusia kematian terjadi sebagai akibat infeksi dari virus rabies kelelawar dan di Australia setidaknya dua kematian manusia telah terjadi dari pemaparan ke yang sebelumnya tidak dikenali virus rabies. (2)

Manusia juga terinfeksi rabies terinfeksi gigitan kucing, spesies karnivora liar seperti rubah, rakun, sigung, serigala dan serigala. Sapi, kuda, rusa dan herbivora lainnya dapat terinfeksi rabies dan walaupun mereka bisa menularkan virus kepada binatang lain dan manusia, hal ini jarang terjadi. (2)

Anak-anak adalah korban utama anjing rabies. Empat puluh persen dari orang (2)usia 5-15 tahun. Mayoritas gigitan yang tidak dilaporkan dan tidak dikenali oleh kedua orangtua dan pejabat kesehatan. Akibatnya, anak-anak tidak terkena sering menerima tepat waktu dan lengkap perawatan pasca pajanan, dan proporsi yang jauh lebih tinggi dari anak-anak muda kontrak dan mati terdiagnosis rabies dari perkiraan dari Asia. Strategi WHO untuk pencegahan rabies manusia yaitu dengan mempromosikan akses yang lebih luas sesuai perawatan pasca-paparan menggunakan kultur jaringan modern atau embrio unggas yang diturunkan dari vaksin Rabies melalui :(2)

  1. Penggunaan multisitus intradermal rejimen untuk mengurangi biaya perawatan pasca pajanan
  2. Mungkin produksi dalam negeri rabies biologis, yang pendek kritis pasokan global, terutama rabies immunoglobulin
  3. Melanjutkan pendidikan dan kesehatan hewan rabies profesional dalam pencegahan dan pengendalian

Rabies ditemukan pada hampir semua negara di dunia, kecuali Australia, Inggris, sebagian besar Skandinavia, Islandia, Yunani, Portugal, Uruguay, Chili, Papua Nugini, Selandia Baru, Brunai, Jepang, Taiwan. Jumlah kematian karena rabies di seluruh dunia diperkirakan mencapai 55.000 orang per tahun dan terbanyak di negara Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Eurasia.(1)

Negara endemis rabies antara lain India, Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, China, Filipina, Thailand, Indonesia, Meksiko, Brasilia,  Amerika Serikat dan Amerika Tengah. Negara dengan kejadian  rabies tertinggi di dunia adalah India dengan 30.000 kasus kematian per tahun atau 3 : 100.000 penduduk (1990 2002), kurang lebih 60 % dari kematian karena rabies di seluruh dunia. Sampai tahun 2001 di Indonesia terdapat 7 provinsi yang dinyatakan bebas rabies yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, NTB, Maluku dan Papua. Tahun 2007 terdapat 10 provinsi dari 33 provinsi yang dinyatakan bebas rabies yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY Yogyakarta, Bali, NTB, Irjabar, Papua.(1)

Ilustrasi jumlah kematian orang karena rabies di setiap Negara di Asia tahun 2001 dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Ilustrasi Jumlah Kematian Orang karena Rabies di Setiap Negara di Asia Tahun 2001

Sumber : Organisasi Kesehatan Dunia/WHO

Dari gambar tersebut terlihat bahwa jumlah kematian orang karena rabies di Asia yang paling tinggi (> 100.000) ditempati oleh India.  Dari tahun 1997 sampai 2003 dilaporkan lebih dari 86.000 kasus gigitan hewan tersangka rabies di seluruh Indonesia (rata- rata 12.400 kasus per tahun) dan yang terbukti rabies 538 orang (rata-rata 76 kasus per tahun). Dari tahun 2004 sampai 2007 dilaporkan berturut-turut 1.308, 889, 1.708, 1.396 kasus gigitan hewan tersangka rabies di Indonesia. Kejadian sesungguhnya mungkin lebih besar karena sebagian pasien meninggal di rumah tanpa terdiagnosis. Di Provinsi Kalimantan Timur dari tahun 2001 sampai 2006 tercatat 15 kasus kematian karena rabies (data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur).(1)

Kejadian rabies lebih banyak pada laki-laki. Laporan dari India tahun 1992 2002 atas lebih dari 9.000 kasus menunjukkan 71,1 % pasien rabies adalah laki-laki; dewasa (> 14 tahun) lebih banyak daripada anak-anak (64,7 % : 35,3 %).  Laki-laki lebih banyak kontak dengan hewan pembawa virus rabies sehubungan dengan kegemaran  memelihara hewan dan aktivitas di luar rumah, seperti bekerja di ladang, bekerja di hutan, berburu. Di Indonesia hewan penggigit yang paling banyak adalah anjing (90 %), kucing (6 %), monyet dan lain-lain (4 %).(1)

Penelitian di India menunjukkan hewan penggigit adalah anjing (96,2 %), kucing (1,7 %), hewan lain (2,1 %). Di Brazilia hewan penggigit terbanyak adalah serigala, anjing, kucing dan kelelawar. Pada bulan Juli – September 2005 dilaporkan 6 kematian karena rabies yang disebabkan oleh gigitan kelelawar vampir (Desmodus rotundus) di daerah pedesaan Alto Turi, Provinsi Maranhao, Brazilia; di daerah ini gigitan kelelawar vampir sering terjadi (3,9% populasi atau lebih dari 900 orang selama tahun 2004). Harijanto dari Sulawesi Utara mendapatkan bahwa kasus rabies paling banyak terjadi karena gigitan anjing di ekstremitas bawah. Penelitian di India yang mencakup lebih dari 9.000 kasus  selama 10 tahun menunjukkan lokasi gigitan terbanyak adalah ekstremitas bawah (56,2 %), ekstremitas atas (20,9 %) dan tangan (17,0 %), lokasi lain adalah kepala/ leher (11,5 %), badan (1,7 %), lain-lain (2,1 %).(1)

Berikut ini adalah peta dunia yang menggambarkan kejadian rabies pada tahun 2007. Pada gambar tersebut terlihat bahwa hampir seluruh Negara di belahan dunia terserang oleh kasus rabies. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar berikut.

 

Gambar 2. Presence/Absence of Rabies in 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sumber : Organisasi Kesehatan Dunia/WHO

 

Sedangkan negara yang beresiko rabies di dunia dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3. Rabies, Countries at Risk

Sumber : WHO

Pada ganbar tersebut terlihat bahwa hamper semua benua di dunia beresiko tinggi terhadap rabies. Benua Asia dan Afrika sebagian besar berada pada zona resiko tinggi terhadap rabies.

1. Gambaran Klinis

Gejala klinis rabies terbagi 4 stadium berdasarkan diagnosa klinik :(3)

  1. Stadium Prodroma, dengan gejala awal demam, malaise, mual dan rasa nyeri tenggorokan. Dan biasanya sulit didiagnosa.
  2. Stadium sensoris, rasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Diikuti gejala cemas dan reaksi berlebihan terhadap rangsangan sensorik.
  3. Stadium exitasi, tonus otot-otot aktifitas simpatis jadi meninggi, gugup, kejang, sakit kepala berat, sulit menelan, hipersalivasi, keringat banyak (hiperhidrosis), hidrophobi, photophobi, aerophobia.
  4. Stadium Paralyse, terjadi inkontinensia urine, paralyse ascendens, koma dan meninggal karena kelumpuhan otot pernafasan.

2. Etiologi

Virus Rabies termasuk golongan Rhabdovirus, berbentuk peluru dengan komposisi RNA, Lipid, Karbohidrat dan Protein. Sifat virus rabies cepat mati dengan sinar ultraviolet dan zat pelarut lemak serta di luar jaringan hidup, dapat diinaktifkan dengan B-propiolakton, phenol, halidol azirin, tahan hidup dalam beberapa minggu di dalam gliserin pada suhu kamar. (3)

3. Masa Inkubasi dan Patogenitas

Masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi, mulai dari 7 hari sampai lebih dari 1 tahun, rata-rata 1-2 bulan, tergantung jumlah  virus yang masuk, berat dan luasnya kerusakan jaringan tempat  gigitan, jauh dekatnya lokasi gigitan ke sistem saraf pusat,  persarafan daerah luka gigitan, sistem kekebalan tubuh. Pada gigitan di kepala, muka, leher 30 hari; gigitan di lengan, tangan,  jari tangan 40 hari; gigitan di tungkai, kaki, jari kaki 60 hari (Webster).(1)

Penelitian epidemiologis di India menunjukkan pada gigitan di ekstremitas bawah masa inkubasi 15 545 hari  (rata-rata 75 hari), sedangkan gigitan pada tangan 8-360 hari (rata-rata 60 hari), gigitan pada badan rata-rata 45 hari, dan gigitan pada kepala/wajah 12-180 hari (rata-rata 22 hari). Masa inkubasi kebanyakan 3- 90 hari (53,2 %), 15 30 hari (17,9 %), 91-180 hari (14,0 %), masa inkubasi antara 0-14 hari 5,1 %, 181- 365 hari 5,1 %, lebih dari 1 tahun 4,7 %. Data menunjukkan 85 % kasus masa inkubasinya antara 2 minggu sampai 6 bulan. Penelitian lain di Bangalore, India menunjukkan 95 % kasus masa inkubasinya < 6 bulan.(1)

Penyebaran virus secara sentripetal melalui endoneurium sel Schwann dan aliran aksoplasma, mencapai ganglion dorsalis dalam waktu 60 72 jam. Selanjutnya virus menyebar dengan kecepatan 3 mm/ jam menuju SSP (otak dan medula spinalis) melalui cairan serebrospinal. Di otak virus memperbanyak diri di semua neuron, kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen, saraf volunteer maupun saraf otonom, selanjutnya mencapai otot skeletal, otot jantung, medula adrenal, ginjal, mata, pankreas. Pada tahap berikutnya virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, sistem respirasi, urin dan air susu.(1)

4. Sumber dan Cara Penularan

Sumber penyakit Rabies adalah anjing, kucing, kera serta hewan liar lainnya (fox, raccoon, harimau, kelelawar). Cara penularan melalui gigitan dan non gigitan (aerogen, transplantasi, kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa). (3)

5. Prognosis

 

Kematian karena rabies boleh dikatakan 100 % bila virus sudah mencapai sistem saraf. Dari tahun 1875 sampai 1972 dilaporkan 10 pasien sembuh dari rabies namun sejak tahun 1972 sampai sekarang belum ada pasien rabies yang dilaporkan hidup.(1)

Berbagai penelitian dari tahun 1986 sampai 2000 yang melibatkan lebih dari 800 kasus gigitan anjing rabies yang segera mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) menunjukkan angka survival 100 %. Data dari India yang (1)kasus rabies), menunjukkan hanya 20,9 % pasien mendapat VAR dan hanya 1,3 % mendapat SAR, 40,5 % pasien tidak mendapatkan terapi sama sekali; hanya 55,8 % pasien yang sempat dirawat di rumah sakit dan 50,6 % pasien dilaporkan meninggal di menunjukkan 1.617 kasus gigitan anjing yang dilaporkan dan 855 (52,9 %) pasien mendapat VAR. (1)

6. Pengobatan

 

Setiap kasus gigitan hewan penular rabies ditangani dengan cepat melalui pencucian luka gigitan dengan sabun/detergen lain, kemudian diberikan antibiotic. Penyuntikan dengan Vaksin Anti Rabies diberikan pada hari ke 0 sebanyak 2 dosis secara intramuskuler (i.m) di lengan kiri dan kanan. Suntikan kedua dilanjutkan pada hari ke 7 sebanyak 1 dosis dan hari ke 21 sebanyak 1dosis. (3)

Kombinasi VAR dan SAR, SAR diberikan saat bersamaan dengan VAR pada hari ke 0, sebagian disuntikan pada bekas luka gigitan dan sisanya disuntikan secara i.m pada bagian tubuh lain yang letaknya berbeda dengan penyuntikan VAR. Pemberian booster VAR pada hari ke 30 sebanyak 1dosis. (3)

Penanganan meliputi isolasi pasien untuk menghindari rangsangan yang menimbulkan spasme otot dan mencegah penularan; penanganan luka dengan pencucian, desinfeksi, debridement, pemberian tetanus toksoid atau tetanus imunoglobulin serta antibiotik; pemberian vaksin anti rabies (VAR) dan atau serum anti rabies (SAR); terapi simptomatik dan suportif seperti pemberian sedatif, analgetik, antikonvulsan; terapi terhadap komplikasi respirasi dan kardiovaskuler seperti pemasangan ventilator, defibrilasi.(1)

Vaksin rabies dianjurkan diberikan pada semua orang dengan riwayat kontak dengan hewan pengidap rabies, kecuali kontak hanya jilatan pada kulit utuh. Vaksin rabies yang lazim saat ini adalah tissue culture vaccine, suatu inactivated vaccine yang ditumbuhkan pada kultur sel seperti human diploid cell vaccine (HDCV), diproduksi sejak tahun 1964 dengan nama dagang Imovax®, purified vero cell rabies vaccine (PVRV), diproduksi mulai tahun 1985 dengan nama Verorab®, purified chick embryo cell vaccine (PCEC) dengan nama Rabipur® yang mulai dipasarkan tahun 1985. Vaksin generasi lama seperti suckling mouse brain vaccine (SMBV), suatu nerve tissue vaccine dan duck embryo vaccine (DEV), suatu non-nerve tissue vaccine, tidak digunakan lagi karena dapat menimbulkan komplikasi ensefalomielitis post-vaksinasi dan reaksi anafilaksis.(1)

Namun demikian nerve tissue vaccine masih diproduksi dan dipergunakan di beberapa negara Asia. WHO merekomendasikan pemberian VAR secara intramuskuler pada otot deltoid atau anterolateral paha 0,5 ml pada hari 0, 3, 7, 14, 28 (regimen Essen), sedangkan Depkes RI menganjurkan pemberian tiga kali pada hari 0, 7, 21 (regimen Zagreb). Karena mahalnya harga vaksin, di Thailand digunakan regimen Thai Red Cross Intradermal (TRC-ID), dengan pemberian 0,1 ml intradermal 2 dosis pada hari 0, 3, 7 kemudian 1 dosis pada hari 28 dan 90.22 Jika sudah mendapat vaksin rabies dalam 5 tahun terakhir, bila digigit anjing tersangka rabies, vaksin diberikan hanya 2 dosis yaitu hari 0 dan 3, namun bila gigitan dikategorikan berat, vaksin diberikan lengkap.(1)

VAR dapat diberikan pada ibu hamil atau bayi. SAR diberikan pada orang dengan luka gigitan multipel, luka lebar dan dalam, jilatan pada mukosa, luka di leher dan kepala, jari tangan atau kaki, atau di genitalia. Human rabies immune globulin (BayRab®, Imogam®) diberikan dengan dosis tunggal 20 IU/ kgBB : setengah dosis infiltrasi daerah sekitar luka dan setengah dosis intramuskuler di tempat yang berlainan dengan suntikan VAR, diberikan pada hari yang sama dengan dosis pertama VAR. Pemberian VAR maupun SAR dapat menimbulkan efek samping ringan lokal maupun sistemik seperti nyeri, eritema, edema tempat suntikan, demam, nyeri kepala, mual, nyeri otot, nyeri sendi. Pada pemberian HDCV gejala seperti sindrom Guillain Barre sangat jarang terjadi, sedangkan ensefalomielitis tidak pernah dilaporkan lagi pada pemberian PVRV. Reaksi anafilaksis sangat jarang. (1)

Dalam dekade terakhir ini tidak ada perkembangan yang berarti dalam penanganan  infeksi rabies. Jackson dkk menuliskan perlunya penanganan rabies secara lebih agresif dengan pemberian VAR, SAR, ribavirin, interferon alfa dan ketamin. (1)

7. Pencegahan

 

Diperlukan kontrol terhadap hewan pengidap rabies dan anjing liar, vaksinasi hewan peliharaan yang berpotensi terkena rabies, vaksinasi profilaksis (pre-exposure immunization) pada individu berisiko tinggi terpapar virus rabies seperti dokter hewan, pekerja di kebun binatang, petugas karantina hewan, penangkap binatang, petugas laboratorium penelitian yang bekerja dengan virus rabies dan wisatawan ke daerah endemis rabies seperti Meksiko, Thailand, Filipina, India, Sri Lanka.(1)

Beberapa penelitian menunjukkan risiko rabies karena gigitan anjing di daerah endemis 1 3,6 : 1000 wisatawan/ bulan. Vaksinasi profilaksis diberikan secara intramuskuler (0,5 ml) pada hari 0, 7 dan 28 lalu booster setelah 1 tahun dan tiap 5 tahun. Dosis VAR pada anak sama dengan orang dewasa. Pada wanita hamil dan menyusui sebaiknya vaksinasi profilaksis ditunda. Efektifitas vaksin dilaporkan mencapai 100 %. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah pencucian luka secara benar dan pemberian segera VAR dan SAR pada pasien yang mengalami gigitan hewan pengidap rabies karena bila virus sudah mencapai sistem saraf kematian mencapai 100 %.(1)

C. Upaya Penanggulangan KLB Rabies

    1. Penanggulangan : (3)
    2. Pencucian luka gigitan hewan penular rabies dengan sabun atau detergen dengan air mengalir selama 10-15 menit
    3. Penyuntikan dengan vaksin anti rabies diberikan pada hari ke 0 sebanyak 2 dosis secara intramuskuler di lengan kiri dan kanan. Suntikan ke dua dilanjutkan pada hari ke 7 sebnayak 1 dosis dan hari ke 21 sebanyak 1 dosis
    4. Membentuk dan mengaktifkan rabies center
    5. Melaksanakan vaksinasi pada anjing-anjing yang berpemilik dan eliminasi terhadap anjing yangtidak berpemilik
    6. Penyuluhan tentang bahaya rabies serta pencegahannya kepada masyarakat
    7. Pembatasan laulintas hewan penular rabies
      1. Surveilans ketat pada KLB : (3)
      2. Perkembangan jumlah kasus gigitan dan kasus rabies
      3. Perkembangan populasi hewan tersangka rabies D. Sistem Kewaspadaan Dini KLB Rabies (3)
        1. Jumlah kasus gigitan hewan tersangka rabies
        2. Jumlah populasi hewan penular rabies
        3. Jumlah populasi hewan tersangka rabies
        4. Pengawasan lalu lintas hewan antar daerah

BAB III

INVESTIGASI RABIES

A. Situasi Rabies di Indonesia

1. Situasi Rabies Berdasarkan Waktu

 

Penyakit rabies telah menyerang hampir di semua provinsi di Indonesia. Jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (GPHR) pada tahun 2005 sebanyak 17.651 kasus, tahun 2006 sebanyak 15.814 kasus, tahun 2007 sebanyak 9.746 kasus. Jumlah pemberian vaksin anti rabies sebanyak 11.514 pada tahun 2005, 10.536 tahun 2006, 6.137 pada tahun 2007. Sedangkan jumlah kasus penyakit rabies yang menyebabkan kematian (Lyssa) sebanyak 147 kasus pada tahun 2005, 136 kasus pada tahun 2006, dan 87 kasus pada tahun 2007. Pada grafik dibawah ini terlihat situasi rabies di Indonesia yang menggambarkan perubahan kasus GHPR, jumlah pemberian VAR dan kasus yang menyebabkan lyssa dari tahun ke tahun (2001-2007).(4-6)

Grafik 1. Situasi Rabies di Indonesia Tahun 2001-2006

Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2005-2007) terjadi penurunan kasus GHPR. Dari 17.651 menjadi 9.746. Pola serupa terjadi pada indikator VAR dari 11.514 menjadi 6.137. kasus rabies yang menyebabkan kematian juga menurun dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2005 terdapat 147 kasus yang kemudian turun menjadi 136 kasus pada tahun 2006. Angka ini kembali turun menjadi 87 kasus pada tahun 2007. (4-6) untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Grafik 2. Situasi Rabies di Indonesia Tahun 2003-2007

Kasus rabies di Kota Padang pada tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas sebanyak 236 kasus gigitan, dan pada Rumah Sakit ada 191 gigitan. Jumlah yang mendapatkan VAR, Puskesmas sebanyak 149 Kuer dan Rumah sakit sebanyak 191 Kuer. Kasus gigitan Rabies terbanyak ada pada wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya, Andalas, dan Nanggalo. Sedangkan Puskesmas Air Tawar bebas kasus gigitan Rabies. Dari semua kasus ini specimen yang positif sebanyak 7 kasus, dan menyebabkan kematian 1 orang di wilayah Puskesmas Pemancungan. (7)

Tingginya populasi anjing di Kota Padang, maka kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) juga cukup tinggi. Untuk mencegah terjadinya penyakit rabies, disamping melakukan pemeliharaan hewan dengan baik, dengan pemberian vaksinasi secara rutin dan tidak dibiarkan lepas, juga pada setiap kasus gigitan HPR harus ditangani dengan baik dan benar, dimana setiap kasus gigitan HPR, penanganan yang utama sesegeranya mencuci luka / bekas gigitan dengan sabun dan air mengalir selama ± 10 – 15 menit dan diberikan VAR sesuai dengan protap yang ada. Apabila HPR bisa di observasi, dilakukan observasi selama 14 hari. Bila hewan tersebut menderita rabies, akan mati setelah beberapa hari menggigit, maka penderita harus diberikan VAR. (7)

Bila HPR tidak bisa diobservasi karena hilang, maka penderita yang digigit HPR juga diberikan VAR. Untuk pemberian SAR melihat tempat luka / besar / luas gigitan. Pada luka yang besar dan banyak serta serta tempat gigitan yang dekat ke kepala selain pemberian VAR juga diiringi dengan pemberian SAR. Untuk tahun 2007 ini jumlah kasus gigitan HPR cukup tinggi, yaitu sebanyak 427 kasus dan yang diberi VAR sebanyak 340 kasus. Dari seluruh kasus tersebut yang positif rabies sebanyak 7 kasus dan meninggal 1 kasus. Kasus ini naik dibanding tahun 2006 sebanyak 340 kasus yang diberi VAR sebanyak 201 kasus dan turun dibanding tahun 2005 sebanyak 487 kasus dan yang diberi VAR sebanyak 381 kasus. (7)

Ilustrasi penyebaran Rabies di Indonesia berdasarkan awal tahun penyebarannya di setiap provinsi dapat dilihat pada gambar berikut.(8)

Gambar 4. Ilustrasi Penyebaran Rabies di Indonesia Pasca 1945 sampai Tahun 2005 berdasar awal tahun penyebarannya di Setiap Provinsi

 

Sumber : WHO

2. Situasi Rabies Berdasarkan Tempat

 

 

Jumlah kabupaten/kota terjangkit rabies di Indonesia pada tahun 2005 sebanyak 186 kabupaten/kota. Pada awal tahun 2005 terjadi KLB rabies di provinsi kalimantan barat dan maluku utara yang pada tahun sebelumnya masih merupakan daerah bebas rabies, sehingga saampai saat ini rabies telah terjangkit di 22 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Peta daerah tertular rabies tahun 2005 dapat dilihat pada gambar berikut:(4)

Gambar 5.

Pada tahun 2006, jumlah kabupaten/kota terjangkit rabies sebanyak 199 kabupaten/kota dari 23 provinsi. Bertambah  beberapa kabupaten/kota yang terjangkit rabies bila dibandingkan tahun 2005. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar di bawah ini.(5)

Gambar 6. Daerah Tertular Rabies Tahun 2006

Sumber Ditjen PP-PL, Depkes RI

Situasi penyakit rabies ditinjau dari kasus GHPR dan lyssa di Indonesia per proinsi tahun 2005 terlihat pada grafik di bawah ini. Dari grafik, provinsi yang memiliki jumlah kasus GHPR paling tinggi adalah NTT, sedangkan Lyssa yang tertinggi adalah pada provinsi Sulawesi Tengah. Untuk lebih jelas dapat dilihat grafik di bawah ini.(4)

Grafik 3. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan Lyssa Per Provinsi di  Indonesia Tahun 2005

 

 

Sedangkan, situasi penyakit rabies ditinjau dari kasus GHPR dan lyssa di Indonesia per proinsi tahun 2006 terlihat pada grafik di bawah ini. Dari grafik, provinsi yang memiliki jumlah kasus GHPR paling tinggi dilaporkan dari sumatera barat (2.538 kasus) sedangkan terkecil adalah banten (10 kasus). Kasus penyakit rabies yang menyebabkan kematian pada manusia (lyssa) terbanyak dilaporkan dari Sulawesi utara (21 kasus) dan Sulawesi tengah (15 kasus). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik di bawah ini.(5)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Ditjen PP-PL Depkes RI

Grafik 4. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan Lyssa per Provinsi di Indonesia Tahun 2006

Gambar 7. Daerah Tertular dan Daerah Bebas Rabies di Indonesia berdasar Kabupaten dan Tingkat Prevalensinya tahun 2005

 

 

 

 

Gambar 8. Jumlah Spesimen Positif Rabies Pada Hewan

Tahun 2000-2007

 

 

Jumlah specimen positif rabies berfluktuasi selama tahun 2000-2007. Jumlah specimen positif pada tahun 2007 sebanyak 1.396. angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.708. sepanjang tahun 2007 terdapat beberapa provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus. Provinsi tersebut antara lain: jawa barat,  sumatera selatan, Bengkulu, Kalimantan barat, Kalimantan tengah, dan Kalimantan selatan.(6)

B. Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Dan Kasus Rabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Kotapadang Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2006

 

 

 

Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Menular dan Gigitan Hewan Tersangka Rabies (GHTR) masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat kecamatan Kota padang. Pada Tahun 2006 di wilayah puskesmas Kotapadang KLB diare dan kasus gigitan hewan tersangka rabies mengalami peningkatan. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar, disamping juga berdampak pada ekonomi dan social masyarakat. (9)

Penyakit Rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Ditularkan oleh hewan penular Rabies terutama anjing, kucing dank era melalui gigitan, aerogen, trnsplantasi atau kontak dengan bahan yang mengandung virus rabies pada kulit yang lecet atau mukosa. Angka kematian (CFR) mencapai 100% dengan menyerang pada semua umur dan jenis kelamin. Kekebalan alamiah pada manusia sampai saat ini belum diketahui. (9)

Telah terjadi KLB jika memenuhi salah satu kriteria : (9)

  1. Peningkatan jumlah kasus gigitan hewan tersangka rabies menurut periode waktu (mingguan/harian) di suatu kecamatan, desa/kelurahan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
  2. Terdapat satu kasus klinis Rabies pada manusia yang ditandai denga Hydrophobia.

Pada tahun 2006 telah terjadi kasus rabies (gigitan anjing) di wilayah kerja Puskesmas Kota padang Kecamatan Kotapadang sebanyak 12 kasus tanpa kematian. Pada grafik di bawah ini dapat dilihat distribusi frekuensi kasus rabies (Gigitan Hewan Tersangka Rabies) mulai minggu ke 25 – minggu ke 50 tahun 2006. Frekuensi Kasus Gigitan Hewan Tersangka Rabies Minggu Ke 25 – 50 Tahun 2006. (9)

Data yang diperoleh didapat dari laporan Puskesmas Pembantu (Pustu), tenaga kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kotapadang dan laporan Poliklinik Umum Puskesmas Kotapadang. Dari kasus rabies yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Kotapadang tidak terjadi kasus kematian. (9)

Kegiatan yang dilakukan. (9)

  1. Menerima laporan dari petugas Puskesmas Pembantu, bidan desa, perawat dan Poliklinik umum Puskesmas Kotapadang.
  2. Mengirimkan laporan mingguan (W2) ke Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong.
  3. Mengumpulkan data penderita yang berobat di Pustu, Bidan desa dan perawat.

Penanganan Penderita

Penanganan yang dilakukan terhadap penderita yaitu : (9)

  1. Perlu dilakukannya kewaspadaan terhadap penderita terkena gigitan hewan tersangka rabies.
  2. Melakukan disinfektan atau membersihkan luka bekas gigitan hewan tersangka rabies menggunakan air dan sabun/deterjen.
  3. Memberikan bantuan obat-obatan atau memberikan vaksin anti rabies yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong.

Saran

Dari kasus rabies (gigitan anjing) yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Kota padang dapat disarankan beberapa hal : (9)

  1. Perlu dilakukannya kerjasama lintas sektoral dengan Dinas Peternakan dalam hal pelaksanaan vaksinasi pada anjing-anjing yang berpemilik dan eliminasi terhadap anjing yang tidak berpemilik.
  2. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai tanda – tanda atau gejala dari anjing rabies dan cara penanggulangan dini apabila terjadi gigitan hewan tersangka rabies.
  3. Perlunya penyediaan stock obat vaksin anti rabies (VAR) di puskesmas yang akan dapat membantu pengobatan lanjutan dari penderita kasus rabies.

Kesimpulan

Pada tahun 2006 terjadi Kasus Rabies (gigitan anjing) dengan jumlah kasus sebanyak 12 Kasus dengan tanpa kematian. (9)

  1. C. Informasi KLB Penyakit Rabies Kab. Morowali Bulan Januari – Juni 2008

Penyakit Rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus Rabies yang ditularkan oleh hewan penular seperti anjing, kucing, kera melalui gigitan dan non gigitan (aerogan, transplantasi, kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa). (10)

Virus Rabies termasuk golongan Rhabdovirus berbentuk peluru dengan komposisi RNA, Lipid, Karbohidrat dan Protein. Penyakit Rabies secara epidemiologi tersebar luas di seluruh dunia dengan CFR 100 % yang menyerang semua umur dan jenis kelamin. Batasan kejadian luar biasa (KLB) secara epidemiologi adalah bila ditemukan satu kasus dengan gejala klinis yang ditandai dengan hydrofobia. Diagnosa KLB Rabies dapat ditegakkan berdasarkan, sebagai berikut : (10)

  1. Terjadi kasus rabies pada manusia.
  2. Terdapat cluster kasus gigitan hewan tersangka rabies pada manusia.

Berdasarkan laporan Kepala Puskesmas Beteleme beberapa tempat wilayah kerja puskesmas Beteleme ditemukan adanya beberapa masyarakat yang digigit anjing dimana sampai Bulan Juni telah dilaporkan sebanyak 19 kasus gigitan aning dengan dua penderita diantaranya meninggal dunia dengan CFR 14,3 %. Dari 19 penderita hanya satu penderita yang mendapatkan penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR). Demikian pula di wilayah kerja Puskesmas Bantula di Kelurahan Bahontula dan Kolonodale telah dilaporkan adanya gigitan anjing sebanyak 4 kasus dan semuanya telah dilakukan penyuntikan VAR sebagai upaya antisipasi dini. (10)

Tujuan penyelidikan epidemiologi ini adalah untuk mengetahui : (10)

  1. Keadaan kemungkinan permasalahan yang timbul sebagai akibat terjadinya peningkatan kasus Rabies, mengenai jumlah penduduk yang terkena, jumlah kematian kasus, penyebab dan sumber penularan.
  2. Mencari alternatif pemecahan untuk mengatasi masalah dan menentukan tindakan intervensi untuk pencegahan selanjutnya.

Daerah sasaran penyelidikan epidemiologi adalah daerah dimana terjadi peningkatan kasus atau terdapatnya kasus. Data dikumpulkan adalah data penderita Rabies berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, kematian. Data kasus yang berkunjung ke pelayanan kesehatan dan kunjungan ke lapangan pada saat penyelidikan epidemiologi. Data yang dikumpulkan diolah dalam bentuk tabel dan grafik. (10)

Jumlah penderita berdasarkan data hasil investigasi  Puskesmas Beteleme dari tanggal 2 Januari  sampai dengan 30 Mei 2008 berjumlah 14 penderita dengan 2 orang meninggal dunia dengan CFR 14,3 %. Kasus di wilayah kerja Puskesmas Kolonodale dari tanggal 16 Juni sampai dengan 23 Juni berjumlah 4 kasus tanpa kematian (CFR 0 %), lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini. (10)

Berdasarkan pengamatan di lokasi KLB, distribusi penderita menyebar ke desa tetangga bila dilihat dari kasus awal dari Desa Beteleme kemudian menyebar ke desa lainnya hingga mencapai 9 desa lainnya. Bila dibandingkan dengan wilayah kerja Puskesmas Beteleme dari 4 kasus gigitan yang terjadi di Kelurahan Bahontula dan Kolonodale adalah dua kelurahan yang bertetangga / berbatasan langsung, mengalami penyebaran. (10)

Kejadian Luar Biasa rabies berdasarkan hasil investigasi dimulai minggu pertama Januari sampai dengan minggu ke-25 Juni tahun 2008 dengan jumlah kasus sebanyak 23 penderita (CFR 14,3 %). Kasus tersebar di dua wilayah kerja Puskesmas, yaitu Beteleme dan Kolonodale. Dari hasil investigasi di lapangan dari 23 penderita yang tergigit anjing dengan lokasi gigitan adalah kaki dan tangan dengan anjing yang berbeda antara desa satu dengan yang lainnya. (10)

Faktor yang menunjang penyebaran kasus Rabies adalah kebiasaan masyarakat memelihara anjing dengan menjadikan anjing tersebut bagian dari kehidupan keluarga dan kurangnya kesadaran  untuk memberi vaksinasi ke anjing peliharaan. Data dari Dinas Pertanian dan Peternakan diperoleh bahwa tidak seluruhnya populasi anjing di kedua kecamatan tersebut mendapatkan vaksinasi anti rabies.  (10)

Ketersediaan bahan logistik vaksin anti rabies di Kabupaten Morowali belum memadai sehingga menyulitkan penanggulangan kasus serta mahalnya biaya VAR menyulitkan penderita untuk mendapatkannya.

Dari kasus tersebut berikut pemecahan masalah yang dapat dilakukan dengan cara : (10)

  1. Melakukan vaksinasi seluruh anjing yang ada diwilayah tersebut dalam hal ini perlu kerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan.
  2. Penyediaan logistik Vaksin Anti Rabies di Kabupaten.
  3. Koordinasi penanggulangan Lintas Program baik di Kabupaten maupun Provinsi.
  4. Penyuluhan.
  5. Pengobatan dan Perawatan.
  6. Pengamatan Pasca KLB.

D. Investigasi Rabies di Lampung Selatan

Banyaknya kasus gigitan hewan penular rabies yang terjadi hal ini dimungkinkan banyaknya populasi hewan penular rabies di masyarakat baik yang terpelihara maupun yang liar sehingga resiko terjadi gigitan semakin tinggi. Sedangkan untuk kasus gigitan yang mengakibatkan korban meninggal dunia berdasarkan hasil penyelidikan dilapangan terjadi karena adanya luka gigitan yang serius (luka pada daerah syaraf/banyak luka) tetapi penderita tidak berobat/terlambat berobat setelah mengalami gigitan. Untuk pengobatan kasus GHPR hampir 95 % mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR). (11)

Penanganan kasus yang terjadi selain pengobatan diunit puskesmas juga ada yang mendapat layanan di Rumah Sakit Umum (rujukan puskesmas). Proporsi kasus gigitan menurun hewan penggigit pada tahun 2007 dapat digambarkan dengan grafik berikut ini : (11)

Grafik 48

Proporsi kasus gigitan menurut jenis hewan penggigit

Kabupaten lampung selatan tahun 2007

Adapun upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya Program P2 Rabies Tahun 2007 adalah dengan melaksanakan kegiatan Pengadaan VAR/SAR, Penyuluhan tentang Penyakit Rabies dan juga Pengobatan terhadap penderita rabies. (11)

Beberapa permasalahan yang dihadapi yang sering terjadi yaitu masih adanya daerah rawan kasus GHTR (tingginya populasi hewan penyebab kasus gigitan misalnya anjing), Masih juga ada perilaku masyarakat yang tidak langsung berobat setelah terkena gigitan sehingga terlambat mendapatkan penanganan. Selain itu juga belum optimalnya penanganan kasus GHTR baik dalam penatalaksanaan kasus maupun ketersediaan stok VAR/SAR yang sering mengalami keterlambatan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilaksanakan sosialisasi penyakit Rabies, kerjasama lintas sektoral dan kesinambungan penatalaksanaan kasus serta ketersediaan vaksin. (11)

E. Investigasi Kasus KLB Rabies Di Puskesmas Tentena Kec. Pamona Utara Kab. Poso Maret 2008

Penyakit Rabies atau lebih dikenal penyakit anjing gila merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus. Di Indonesia penyakit rabies telah dikenal sejak tahun 1884 pada seekor kuda dan pada tahun 1889 diketemukan pada anjing dan kerbau, sedangkan pada manusia baru diketahui pada tahun 1894. Kabupaten Poso merupakan daerah endemis rabies, khususnya wilayah kerja Puskesmas Tentena Kecamatan Pamona Utara karena setiap tahunnya ada dilaporkan kasus rabies. (12)

Berdasarkan laporan secara lisan Puskesmas Tentena pada tanggal 22 Maret 2008 bahwa telah terjadi peningkatan kasus gigitan anjing secara bermakna sejak tanggal 25 Januari 2008 sampai tanggal 27 Januari 2008 dengan sebanyak 10 kasus gigitan dengan gejala positif rabies 1 orang penderita. Dari data tersebut diatas telah dapat dikategorikan terlah terjadi kasis Kejadian Luar Biasa (KLB) di wilayah kerja Puskesmas Tentena. (12)

Tujuan dilaksanakannya investigasi ini guna mengetahui gambaran secara epidemiologi KLB Rabies dan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya KLB pada wilayah kerja Puskesmas Tentena. (12)

Kejadian gigitan pertama terjadi pada tanggal 25 Januari 2008 dengan kasus gigitan 2 orang saat memberi makan pada seekor anak anjing (sebut saja anjing A) dengan lokasi gigitan pada kaki dan tangan. Kejadian pertama tersebut dianggap oleh pemiliknya kejadian biasa saja, tetapi pada esok harinya tanggal 26 Januari 2008 anjing A tersebut menggigit kembali sebanyak 4 orang dengan lokasi gigitan pada kaki dan akhirnya anjing tersebut dibunuh oleh pemiliknya. (12)

Pada tanggal 27 Januari 2008 terjadi gigitan kembali sebanyak 3 orang yang digigit oleh anjing B (saudara anak anjing A) dengan lokasi pada kaki sehingga anjing B tersebut juga dibunuh kembali oleh pemiliknya tanpa ada pemeriksaan laboratorium. Pada tanggal 29 Maret 2008 salah satu kasus gigitan dengan gejala positif rabies meninggal dalam perawatan RS GKST Tentena. Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Poso dapat dilihat pada tabel berikut ini. (12)

Berdasarkan data diatas terlihat bahwa telah terjadi peningkatan kasus gigitan anjing dari tanggal 25 Januari 2008 dengan 2 kasus gigitan, tanggal 26 Januari 2008 dengan kasus 4 gigitan dan pada tanggal 27 Januari 2008 sebanyak 4 kasus gigitan, dengan lokasi tempat kejadian di RW2 RT7 di Tentena Wilayah Puskesmas Tentena Kec. Pamona Utara oleh 2 ekor anjing penggigit. Pada tabel berikut dapat digambarkan lokasi gigitan dan bentuk tipe gigitan yang terjadi pada 10 kasus gigitan yang terjadi. (12)

Beradasarkan tabel diatas terlihat bahwa lokasi gigitan terbanyak pada kaki sebanyak 7 kasus gigitan, oada tangan terdapat 2 kasus gigitan dan pada pantat terdapat 1 kasus gigitan, sedangkan tipe gigitan yang terbanyak berupa sayatan dengan 6 kasus gigitan, tipe gigitan parut sebanyak 3 kasus gigitan dan tipe tembus terdapat 1 kasus gigitan. (12)

Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan bahwa setelah terjadi gigitan selama kurang lebih satu bulan telah timbul gejala rabies pada satu kasus gigitan berjenis kelamin laki-laki umur 10 tahun, lokasi gigitan pada kaki tipe gigitan tembus dengan gejala yang timbul sebagai berikut : (12)

  1. Berkeringat banyak.
  2. Sulit Menelan.
  3. Peka terhadap sinar.
  4. Peka pada suara.
  5. Air liur berlebihan.
  6. Takut pada air.
  7. Air mata berlebihan.
  8. Kejang-kejang.
  9. Nyeri tekan disekitar luka.

Pada tanggal 29 Maret 2008 satu kasus tersebut meninggal, sedangkan 9 kasus lainnya tidak terdapat gejala rabies. Upaya yang dilakukan keluarga pada kasus gigitan anjing adalah : (12)

  1. Semua kasus gigitan oleh keluarga diberikan perawatan luka dengan mencuci luka gigitan dengan menggunakan air jeruk.
  2. Membawa penderita kasus gigitan ke petugas kesehatan setelah terjadi gigitan.
  3. Minum obat sesuai anjuran petugas kesehatan.
  4. Membunuh dua ekor anjing yang menggigit dan menguburnya tanpa diperiksa dan dikonsultasikan dengan petugas kehewanan dan petugas kesehatan.

Upaya yang dilakukan petugas Puskesmas dan petugas Dinas Kesehatan diantaranya : (12)

  1. Tanggal 22 Maret 2008 petugas Puskesmas melaporkan secara lisan kejadian tersebut ke Dinas Kesehatan Kab. Poso.
  2. Tanggal 23 Maret 2008 petugas Program Rabies Dinas Kesehatan Kab. Poso meninjau lokasi kejadian dan memberikan  vaksin anti rabies (VAR) sebanyak 6 kasus gigitan.
  3. Salah seorang kasus gigitan mendapat perawatan di Rumah Sakit GKST Tentena dan meninggal pada tanggal 29 Maret 2008.
  4. Tanggal 2 April 2008 tim investigasi Dinas Kesehatan Kab. Poso melaksanakan investigasi dilingkungan tempat tinggal kasus gigitan.
  5. Memberikan suntikan VAR kembali kepada seluruh kasus gigitan berjumlah 10 kasus dari 2 ekor anjing yang menggigit.

Kesimpulan yang dapat diambil dari investigasi ini diantaranya telah terjadi KLB di wilayah kerja Puskesmas Tentena Kecamatan Pamona Utara yang terjadi kasus gigitan tersangka rabies dari tanggal 25 Januari sampai tanggal 27 Januari 2008 dengan jumlah kasus sebanyak 10 kasus gigitan dan meninggal 1 orang pada tanggal 29 Maret 2008. Anjing yang menggigit sebanyak 2 ekor anak anjing yang berasal dari induk yang sama (satu induk). Kejadian kasus gigitan tersebut oleh masyarakat terlambat dilaporkan kepada petugas kesehatan dan petugas kehewanan. (12)

Tim Investigasi dalam kasus ini menyarankan perlunya sosialisasi dalam penanganan kasus rabies di masyarakat sehingga masyarakat lebih memahami dan mengetahui masalah rabies, petugas kesehatan terutama petugas puskesmas supaya lebih tanggap dalam mengantisipasi kejadian yang terjadi sehingga tidak ada keterlambatan dalam penanganan kasus yang terjadi dan perlu koordinasi yang lebih intensif antara Dinas Pertanian dan Peternakan dengan Dinas Kesehatan dalam penanganan kejadian kasus gigitan anjing yang mana hewannya harus ditangani secara tepat dan cepat oleh Dinas Pertanian dan Kehewanan dan Dinas Kesehatan yang menangani manusianya. (12)

F. Kajian Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies Kasus Rabies Serta Pembebasan Rabies Terpadu Di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan Tahun 1993-1999 (Skripsi)

Penyakit rabies merupakan suatu penyakit zoonosis bersifat akut dan sulit diberantas, sehingga pemberantasannya merupakan program prioritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi kasus gigitan hewan penular rabies dan kasus rabies gambaran epidemiologi kasus gigitan hewan penular rabies serta evaluasi pembebasan rabies terpadu di Kabupaten Sindenreng Rappang. Metode penelitian ini menggunakan analisis data sekunder dengan sumber data dari dinkes, dinas peternakan dan tim koordinasi pembebasan rabbies tingakt Kabupaten. (13)

Hasil penelitian didapatkan bahwa pada hewan yang teridentifikasi menggigit manusia, anjing merupakan kelompok terbanyak (92,79%), pada penderita rabies ternyata (100%) penular utamanya adalah anjing. Untuk kelompok umur didapatkan usia diatas atau sama dengan 15 th merupakan kelompok terbanyak pada kasus gigitan (56,77%) dan kasus rabies (45%). menurut jenis kelamin masih didominasi kaum laki-laki pada kasus gigitan (56,91%) pada kasus rabies (90%). letak luka gigitan kaki merupakan yang beresiko untuk mendapatkan gigitan , pada kasus gigitan(55,48%) pada kasus rabies (40%). menurut masa inkubasi terbukti kepala mempunyai masa inkubasi lebih pendek (30,43 rata-rata hari) dari pada letak luka daerah lain. Lama kesakitan berkisar antara 4-5,5 hari. Berkaitan dengan Pasteru Treatment ternyata penderita rabies 95% tidak mendapatkan vaksinasi. Untuk penderita menurut evaluasi tim Koordinasi Pmbebasan Rabies ternyata sarana penunjang vaksinasi alokasinya berkisar (2,69%-73,78%) dari kebutuhan sedangkan racun berkisar (15,03-47,8%) dari kebutuhan, disamping itu Rabies Centre baru 5-11 yang dibutuhkan. (13)

Melihat fakta-fakta yang ada sehingga diperlukan sarana berupa vaksin, racun dan penambahan pelayanan Rabies Centre, serta sosialisasi rabies sehinga mempunyai dampak terhadap kasus rabies dan dapat menurunkan kematian karena rabies menjadi 0 kasus. (13)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Diare merupakan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi, malabsorpsi, alergi, keracunan, defisiensi dan sebab-sebab lain..

Terjadinya KLB diare pada suatu wilayah tertentu apabila memenuhi salah satu kriteria:

  1. Angka kesakitan dan atau kematian di suatu wilayah menunjukan kenaikan mencolok selama 3 kurun waktu observasi (harian atau mingguan).
  2. Jumlah penderita dan atau kematian di suatu wilayah menunjukan kenaikan 2 kali atau lebih dalam periode waktu tertentu (harian, mingguan dan bulanan) dibandingkan dengan angka rata-rata dalam satu tahun terakhir.
  3. Peningkatan CFR (Case Fatality Rate) pada suatu wilayah dalam waktu 1 bulan dibandingkan dengan CFR bulan lalu.
  4. Peningkatan jumlah kesakitan atau kematian dalam periode waktu (mingguan, bulanan) di suatu wilayah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun yang lalu.
  5. KLB kolera berlaku ketentuan :
    1. Daerah endemis, peningkatan jumlah penderita dengan gejala klinis kolera terutama yang menyerang golongan umur > 5 tahun atau dewasa.
    2. Daerah bebas, terdapat satu atau lebih penderita atau kematian karena diare dengan gejala klinis kolera dalam satu kecamatan, desa/kelurahan.
    3. Apabila ada peningkatan kasus diare dan ditemukan satu spesimen positif Vibrio cholera dari pemeriksaan usap dubur.

Berdasarkan laporan tahunan dinas kesehatan kota Padang edisi tahun 2008 dan 2009, selama tahun 2006, 2007 dan 2008 tidak ditemukan KLB diare di kota Padang.B. Saran

Untuk menanggulangi peningkatan kasus dan KLB Diare diperlukan pemantapan sistem kewaspadaan dini (SKD) di Puskesmas dan di Pustu. Selain itu diperlukan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga peningkatan kasus diare dapat dicegah.

LAMPIRAN

Lampiran 1

Form penyelidikan KLB rabies

Provinsi            :                                                                       kab./kota         :

Kecamatan      :                                                                       puskesmas       :

Desa                   :                                                                       dusun/RT        :

I.            IDENTITAS

Nama              :                                               umur    :                                   sex       :

Alamat            :                                               pekerjaan         :

II.            IDENTIFIKASI PENYAKIT

Gejala yang timbul

  1. Berkeringat banyak           b.  sulit menelan                      c.  peka pada sinar
  2. Peka pada suara                e.  air liur berlebihan                f.  takut pada air
  3. Air mata berlebihan           h.  kejang-kejang                     i.  nyeri tekan sekitar luka
  1. Apakah pernah digigit hewan/anjing                    : ya/tidak, kapan :………………………………………
  2. Hewan apa yang menggigit                                  : anjing/kucing/kera/………………………………..
  3. Lokasi gigitan di                                       : muka/telinga/leher/tangan-kaki/perut/pantat
  4. Bagaimana tipe luka gigitan                                  :sayatan/cakar/parut/tembus
  5. Riwayat gigitan                                         :tiba-tiba/memegang/mengganggu/galak
  6. Setelah menggigit apakah hewan tersebut di bunuh : ya/tidak, kalo tidak diapakan?

III.            RIWAYAT PENGOBATAN

    1. Bagaimana merawat luka : dicuci dengan air/air & sabun/yodiumtintur/antiseptik lain
    2. Dimana mendapatkan pengobatan pertama kali   : …………………………………………………………
    3. Obat yang sudah diberikan                                               : ………………………………………………………..
    4. Apakah penderita diberikan VAR? ya/tidak, berapa kali diberikan suntikan VAR :…………………
    5. Bagaimana kondisi pasien setelah mendapatkan suntikan VAR : sembuh/mati/tidak tahu

IV.            RIWAYAT KONTAK

    1. Apakah di rumah/sekitar rumah banyak orang yang digigit oleh hewan yang sama? Ya/tidak, kapan………………………….
    2. Apakah hanya ada 1 hewan yang menggigit orang di lokasi kejadian? Ya/tidak, kalau lebih berapa………………………

V.            PEMERIKSAAN SPESIMEN

    1. Sediaan yang diambil        : otak hewan tersangka, hasil Lab : +/-

Tanggal penyelidikan  :

Lampiran 2

Surveilans ketat pada KLB RABIES

Laporan Surveilans ketat gigitan anjing/hewan lain pada KLB RABIES

Puskesmas/RS                         : …………………………………….

Puskesmas                               : …………………………………….

Kabupaten/kota                       : …………………………………….

Tanggal laporan KLB/Mg       : ……………………/minggu 18

Tempat tinggal Lokasi pekerjaan Minggu kejadian total AR CFR
14 15 16 17 18
P M P M P M P M P M P M

DAFTAR PUSTAKA

 

1.Gunawan CA. Rabies: Diagnosis dan Penatalaksanaan.  Samarinda; 2009 [updated2009; cited]; CDK 172/vol.36 no.6/September – Oktober 2009:[Available from: http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/09_172Rabiesdiagnosispenatalaksanaan.pdf/09_172Rabiesdiagnosispenatalaksanaan.html.

2.WHO. Rabies. 2009 [updated 2009; cited]; Available from: http://www.who.int/rabies/rabies_maps/en/index.html.

3.DepkesRI. Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (Pedoman Epidemiologi Penyakit). Departemen Kesehatan RI & Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2007.

4.DepkesRI. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Jakarta; 2006.

5.DepkesRI. Profil Kesehatan Indonesia 2006. Jakarta; 2007 Contract No.: Document Number|.

6.DepkesRI. Profil Kesehatan Indonesia 2007 Jakarta; 2008 Contract No.: Document Number|.

7.Dinkespadang. Profil Kesehatan Kota Padang Tahun 2007 Padang; 2007 Contract No.: Document Number|.

8.Kanisius. Pencegahan dan Penangendalian Rabies Penyakit Menular pada Hewan dan Manusia. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI); 2007.

9.DinkeskabRejangLebong. Laporan Kegiatan Surveilans Puskesmas Kotapadang tahun 2006 (Kejadian Luar Biasa  Penyakit dan Kasus Gigitan Hewan Tersangka Rabies di Wilayah Kerja Puskesmas Kotapadang Tahun 2006). Rejang Lebong; 2006 Contract No.: Document Number|.

10.Dinkesprovsulteng. Informasi KLB Penyakit Rabies Kab. Morowali Bulan Januari – Juni 2008 Sulawesi Tengah; 2009 [updated 2009; cited]; Available from: http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/2009/04/14/informasi-klb-penyakit-rabies-kab-morowali-bulan-januari-juni-2008/.

11.Dinkeslampungselatan. Upaya Pemberantasan Penyakit Menular (Program P2 Rabies).  Lampung; 2008 [updated 2008; cited 2009]; Available from: http://keslamsel.wordpress.com/2008/06/18/upaya-pemberantasan-penyakit-menular.

12.Dinkesprovsulteng. Investigasi Kasus KLB Rabies Di Puskesmas Tentena Kec. Pamona Utara Kab. Poso. 2008 [updated 2008; cited]; Available from: http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/2009/04/10/laporan-hasil-investigasi-kasus-klb-rabies-di-puskesmas-tentena-kec-pamona-utara-kab-poso-maret-2008.

13.Alisyar A. Kajian Kasus Gigitan Hewan Penular rabies Kasus Rabies serta Pembebasan Rabies Terpadu di kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan Tahun 1993-1999. Sulawesi Selatan: Undip; 2000.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

statistika fertilitas


Statistika fertilitas merupakan bagian dari statistika peri kehidupan yang banyak digunakan dalam kependudukan dan kesehatan.dalam pencatatan dan pelaporan statistika fertilitas, terdapat beberapa hamabatan yang diakibatkan oleh hal- hal sebagai berikut:

1. Pencatatan yang tidak lengkap

Hal ini disebabkan karena masih banyak kelahiran yang tidak dilaporkan, terutama persalinan yang ditolong oleh dukun bayi di daerah pedesaan. Tidak dilaporkannya suatu kelahiran dapat disebabkan karena kurang pengertian tentang manfaat pelaporan atau mungkin karena prosedur pelaporan yang terlalu rumit.

2. Pelaporan yang terlambat

3. Terdapat kesalahan dalam pencatatan:

a. Tempat kelahiran

b. Umur ibu

c. Paritas

d. Interval persalinan

Di Indonesia, pencatatan kelahiran dapat dilakukan dikantor kecamatan dan di kota madya. Untuk pelaporan dikecamatan diberi surat kenal lahir sedangkan pelaporan dikota madya diberi akte kelahiran. Untuk pelaporan kelahiran yang terlambat dibutuhkan prosedur yang rumit yaitu:pembuatan akte kelahiran harus dilakukan melalui pengadilan dengan biaya yang cukup tinggi. Hal ini ungkin merupakan salah satu sebab masyarakat enggan untuk melaporkan bila telah melewati batas waktu yang telah ditetapkan.

Pengukuran fertilitas pada dasarnya ialah perbandingan antara jumlah kelahiran dan jumlah orang yang melahirkan atau orang yang mempunyai resiko untuk melahirkan.

Dalam pengukuran fertilitas terdapat dua pendekatan yaitu :

1. Fertilitas diukur berdasarkan jumlah kelahiran per orang selama usia masa subur. Periode yang digunakan ialah satu ” generasi ” masa subur yaitu kira- kira 35 tahun

2. Pengukuran fertilitas berdasarkan periode satu tahun

Meskipun cara pengukuran pertama lebih tepat dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tetapi cara ini tidak praktis karena untuk memperoleh informasi tentang fertilitas dibutuhkan waktu yang lama. Dalam praktek, pengukuran fertilitas dilakukan dengan pendekatan keduankarena selain praktis juga hailnya cukup memuaskan.

Ukuran- ukuran fertilitas yang banyak digunakan sebagai indikator kependudukan dan kesehatan adalah sebagai berikut:

  1. Rate Kelahiran Kasar ( Crude Birth Rate = CBR )
  2. Rate Fertilitas Umum ( General Fertility Rate = GFR)
  3. Rate Fertilitas Menurut Golongan Umur (Age Specific Fertility Rate = ASFR)
  4. Rate Fertilitas Total ( Total Fertility Rate = TFR )
  5. Gross Reproduction Rate = GFR
  6. Rasio Jenis Kelamin Waktu Lahir ( Sex Ratio At Birth )
  7. Child Women Ratio

A. Rate Kelahiran Kasar ( crude birth rate )

Rate kelahiran kasar ialah jumlah semua kelahiran hidup yang dicatat selama satu tahun per 1000 penduduk pertengahan tahun yang sama.

RUMUS:

Jumlah kelahiran hidup yang dicatat selama satu tahun

CBR = __________________________________________ x1000

Jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama

B

CBR = ______ x k

P

Dimana :

B = jumlah lahir hidup yang dicatat selama satu tahun

P = jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama

k = konstanta = 1000

Ukuran ini disebut rate kelahiran kasar karena sebagai penyebut digunakan jumlah penduduk pertengahan tahun. Ini berarti bahwa penduduk yang tidak mempunyai resiko untuk melahirkan ikut diperhitungkan ( anak- anak, laki- laki, dan wanita usia lanjut ). untuk mengurangi kelemahan ini dilakukan pemisahan antara penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan dengan penduduk yang tidak mempunyai resiko, hingga rumus rate kelahiran kasar menjadi:

B

CBR = x k

E + N

Dimana:

B = jumlah lahir hidup yang dicatat selama satu tahun

E = jumlah penduduk pertengahan tahun yang mempunyai resiko melahirkan

N = jumlah penduduk pertengahan tahun yang tidak mempunyai resiko melahirkan

k = konstanta = 1000

Pada perbandingan antara E dan N dengan N yang tetap, maka perubahan CBR dapat menggambarkan perubahan fertilitas. Dalam kenyataan, perbandingan antara E dan N tidak tetap, tetapi karena perubahan tersebut terjadinya lambat maka perubahan CBR masih dapat digunakan untuk menggambarkan perubahan fertilitas dalam periode yang pendek. Karena itu, rate kelahiran kasar dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara umum.Rate ini kurang bermanfaat untuk membandingkan tingkat fertilitas antara dua wilayah, kecuali bila perbandingan antara E dan N kedua populasi mempunyai variasi yang kecil.

Rate ini kurang sensitif untuk mengukur perubahan fertilitas yang kecil, karena kenaikan angka kelahiran akan meningkatkan pula jumlah penduduk hingga perubahan tersebut tidak tampak dan seolah- olah tidak terjadi penimgkatan fertilitas. Demikian pula bila terjai sebaliknya, tidk tampak adanya penurunan fertilitas.

Tingginya rate ini dapat memberi petunjuk tentang banyaknya bayi- bayi dilahirkan oleh ibu- ibu muda dan diatas 40 tahun. CBR yang tinggi juga menyatakan interval persalinan yang pendek.

Sumber data

Untuk jumlah kelahiran dapat diperoleh dari hasil sensus atau survei keluarga, laporan kelahiran dari rumah sakit, laporan dari petugas keluarga berencana, bidan dan dukun bayi.

Laporan kelahiran dari rumah sakit tidak dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas suatu wilayah dan bila angka ini digunakan akan menggambarkan tingkat fertilitas suatu wilayah akan menimbulkan bias yang besar.

Pada negara dengan sistem registrasi vital telah berjalan dengan baik, jumlah kelahiran dapat diperoleh dari sistem ini.

B. Rate Fertilitas Umum ( General Fertlity Rate = GFR )

Rate fertilitas umum dimaksudkan untuk memperhalus rate kelahiran kasar. Dengan rate fertilitas umum , pengukuran fertilitas dilakukan sesuai dengan populai yang sebenarnya yaitu sebagai penyebut digunakan jumlah wanita usia subur. Ini berarti wanita yang mempunyai resiko melahirkan.

Rate fertilitas umum ialah jumlah kelahiran hidup yang dicata selama satu tahun per 1000 penduduk wanita usia subur pada pertengahan tahun yang sama.

RUMUS:

Jumlah kelahiran hidup yang dicata selama satu tahun

GFR = ________________________________________________x 1000

Jumlah penduduk wanita usia subur padapertengahan

tahun yang sama

B

GFR = x k

F

Dimana:

B = jumlah kelahiran hidup yang dicatat selama satu tahun

F = Jumlah penduduk wanita usia subur pada pertengahan tahun yang sama

k = konstanta = 1000

  1. Batas Usia Subur

Untuk kepentingan seluruh negara, WHO menganjurkan untuk menggunakan umur 15-49 tahun sebagai batas usia subur, tetapi untuk memperoleh ketepatan yang tinggi, banyak negara menggunakan umur 15- 44 tahun sebagai batas usia subur, dengan catatan bahwa kelahiran oleh ibu berumur kurang dari 15 tahun dimasukkan dalam kelompok 15- 19 tahun dan kelahiran oleh ibu berumur diatas umur 44 tahun dimasukkan dalam kelompok umur 40-44 tahun.alasan yang dipakai untuk menggunakan umur 15- 44 tahun sebagi batas usia subur ialah dalam kenyataan jarang sekali terjadi kelahiran oleh ibu- ibu berumur lebih dari 44 tahun walaupun pada penduduk dengan tingakat fertilitas yang tinggi. Demikian pula dengan kelahiran oleh ibu- ibu berumur kurang dari 15 tahun.

  1. Kelemahan Rate Fertilitas Umum

Meskipun rate ini dimaksudkan untuk memperbaiki dan memperhalus rate kelahiran kasar dengan menggunakan wanita usia subur sebagai penyebut, tetapi masih terdapat beberapa kelemahan atau kritik terhidup perhitungan rate ini.

Kelemahan atau kritik tersebut adalah sebagai berikut:

1. Range umur wanita usia subur yang digunakan terlalu lebar, hingga tidak diketahui tingkat kesuburan pada tiap golongan umur.

2. Dalam kenyataan, meskipun wanita berumur 15 tahun mempunyai resiko untuk melahirkan, tetapi jarang dijumpai. Kritik ini kurang sesuai dengan keadaan di indonesia dan negara berkembang lain dimana masih banyak perkawinan usia muda.

3. Wanita berumur 45- 49 tahun telah jarang melahirkan, bahkan 80% dari wanita golongan umur ini telah mengalami menopause.

4. Wanita usia subur yang tidak menikah dan mandul ikut diperhitungkan.

  1. Manfaat dan Sumber Data

Rate fertilitas umum banyak digunakan dalam bidang kependudukan untuk menaksir tingkat pertumbuhan penduduk. Tingkay pertumbuhan yang tinggi merupakan hal yang tidak menguntungkan bagi pembangunan kesehatan. Rate ini juga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan program keluarga berencana.

Jumlah kelahiran dapat diperoleh dari hasil sensus, survei keluarga, laporan dari rumah sakit, puskesmas dan laporan dari penolong persalinan diluar sarana kesehatan. Untuk negara maju, jumlah kelahiran dapat diperoleh dari sistem registrasi vital.

C. Rate Fertilitas Menurut Golongan Umur ( Age Specific Fertility Rate = ASFR )

ASFR adalah jumlah kelahiran hidup oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicatat selama satu tahun per 1000 penduduk wanita pada golongan umur tersebut pada pertengahan tahun yang sama.

RUMUS:

jumlah kelahiran hidup oleh ibu pada golongan umur

tertentu yang dicatat selama satu tahun

ASFR =                   ________________________________________ x 1000

Jumlah penduduk wanita pada golongan umur

yang sama pada pertengahan tahun yang sama

Perhitungan ASFR ialah untuk memperhalus perhitungan rate fertilitas umum. Hal ini disebabkan karena tingkat kesuburan berbeda pada setiap golongan umur. Perhitungan ASFR biasanya dilakukan dengan interval 5 tahun hingga seluruhnya terdapat 7 kelas dan masing- masing kelas dihitung rate fertilitasnya. Dari perhitungan ASFR ini dapat disusun distribusi frekuensi menurut golongan umur dan diketahui golongan umur mana yang mempunyai tingkat kesuburan tertinggi. Pengetahuan ini penting untuk menentukan prioritas sasaran program keluarga bencana.

Untuk menghindari ketidaktepatan yang disebabkan karena variasi dalam perkawinan, misalnya anak pungut dan lain- lain, maka kadang- kadang dilakukan penghitungan ASFR pada wanita yang menikah dan mempunyai anak sendiri.

Secara matematis, rumus ASFR dapat ditulis sebagai berikut:

nBx

nfx = ______ x k

nFx

Dimana:

nfx = rate fertilitas pada golongan umur x sampai umur x + n

nBx = jumlah kelahiran hidup oleh ibu umur x sampai umur x + n yang dicatat selama satu tahun.

nFx = jumlah penduduk wanita usia subur berumur x sampai umur x + n pada pertengahan tahun yang sama

D. Rate Fertilitas Total ( Total Fertility Rate = TFR )

Rate fertilitas total merupakan jumlah rate fertilitas menurut golongan umur yang dicatat selama satu tahun. Rate ini menyatakan jumlah anak yang dilahirkan 1000 wanita pada golongan umur tertentu selama masa reproduksi. Bila konstanta ( k ) sama dengan satu, maka angka ini akan menunjukakan rata- rata jumlah anak yang dilahirkan oleh tiap wanita golongan umur tertentu selama masa reproduksi.

Bila interval distribusi wanita usia subur adalah 5 tahun, maka rate fertilitas total sama dengan rate fertilitas pada setiap umur dikalikan dengan 5.

RUMUS:

TFR = jumlah ASFR dengan k = 1 x interval.

Rate fetilitas total meupakan alternatif dari gross fertility rate, tetapi dengan satu keuntungan yaitu setiap golongan umur dihitung per orang. Disamping keuntungan ini, rate fertilitas total mempunyai kelemahan yaitu semua wanita selama masa reproduksi tidak ada yang meninggal dan semuanya menikah dan mempunyai anak dengan pola seperti rate fertilitas menurut golongan umur. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan, dimana sebagian wamita akan meninggal dan sebagian lagi tidak menikah atau mandul. Raet ini bersama dengan rate fertilitas yang lain dapat digunakan untuk menentukan prioritas sasaran keluarga berencana.

Rate fertilitas total dapat juga dihitung secara tidak langsung. Perhitungan ini sama dengan standarisasi tidak langsung rate kematian kasar. Cara ini digunakan bila tidak terdapat data tentang ASFR. Bila pada suatu sensus diperoleh distribusi penduduk wanita menurut golongan umur dan jumlah kelahiran. Untuk menghitung rate fertilitas total digunakan ASFR populasi lain yang dianggap sebagai standar, maka dapat dihitung jumlah kelahiran pada setiap golongan umur yang diharapkan terjadi bila mempunyai ASFR seperti populasi standar. Kemudian dihitung indeks kelahiran yaitu rasio antar jumlah kelahiran yang nyata dengan jumlah kelahiran yang diharapkan. Indeks kelahiran ini dikalikan dengan ASFR populasi standar, lalu dikaitkan dengan interval. Contoh:

Umur

1

Penduduk

Wanita

2

ASFR populasi

Standar

3

Keahiran yang

Diharapkan

4 = 2×3

Hasil koreksi

3 x 1,0948

15-19

8.806

0.0993

874,436

0,1087

20-24

7.876

0.2784

2192,678

0,3048

25-29

5.759

0.2575

1482,943

0,2819

30-34

5.352

0.1976

1057,555

0,2163

35-39

6.182

0.1410

871,662

0,1544

40-44

5.051

0.0512

258,611

0,0561

Jumlah

6737,885

1,1222

Kelahiran yang diharapkan pada populasi standar = 7377

Rasio : 7377/6738 = 1,0948

TFR : 1,1222 x 5 = 5,61

E. Gross Reproduction Rate (GRR)

Gross reproduction rate ialah Total Fertility Rate dikalikan dengan proporsi kelahiran bayi wanita. Dengan kata lain, Gross Reproduction Rate ialah jumlah bayi wanita yang dilahirkan oleh 1000 wanita selama masa reproduksi.

RUMUS :

Jumlah kelahiran bayi wanita yan dicatat selama satu tahun

GRR = ___________________________________________ x 1000

Jumlah penduduk wanita usia subur pada Pertengahan tahun.

Rate ini dapat digunakan untuk menafsirkan tingkat kelahiran dan pertumbuhan penduduk, karena sebagai pembilang digunakan kelahiran bayi wanita yang diharapkan kelak dapat bereproduksi.

Gross Reproduction Rate dapat juga dihitung dengan rumus:

GRR = i ∑ ASFRf

i = interval umur yang digunakan

ASFRf = rate fertilitas tiap golongan umur untuk bayi wanita

F. Rasio Jenis Kelamin Saat lahir (Sex Ratio at Birth)

Rasio ini menyatakan perkawinan antara kelahiran bayi laki-laki dengan 100 kelahiran bayi wanita.

RUMUS:

Jumah kelahiran bayi laki-laki

Sex Ratio at Birth = x 100

Jumlah kelahiran bayi wanita

Perhitungan ini relatif mudah dikerjakan, karena hanya membutuhkan jumlah kelahiran . Jumlah kelahiran dapat diperoleh dari survai penduduk atau sensus atau catatan Kantor Wilayah. Bagi negara maju, jumlah kelahiran dapat diperoleh dari sistem registrasi vital. Perbandingan jenis kelamin saat lahir ini diperlukan untuk menghitung Gross Reproduction Rate.

G. Rasio Anak-Ibu (Child-Women Ratio)

Rasio Anak-Ibu ialah perbandingan antara anak balita dengan wanita usia subur.

RUMUS:

Jumlah balita

CWR =

Jumlah wanita usia subur

Po-4

CWR =                           x k

f15-49

Po-4 = jumlah anak berumur 0-4 tahun kedua jenis kelamin

f15-49 = jumlah wanita berumur antara 15-49 tahun.

k = konstante = 1000

Indeks ini digunakan untuk mengukur insidensi kelahiran oleh wanita berumur antara 15-49 tahun dalam suatu populasi. Rasio ini sangat bermanfaat bila pencatatan kelahiran tidak ada atau tidak lengkap. Pengukuran insidensi kelahiran dengan child-women ratio ini tidak langsung menyatakan jumlah kelahiran sebenarnya, tetapi merupakan jumlah anak 0-4 tahun yang diperoleh dari hasil sensus.

Bila pencatatan dilakukan dengan sempurna jumlah balita yang dihasilkan dapat digunakan untuk menyatakan jumlah balita yang berhasil hidup selama 5 tahun sebelum dilakukan sensus.

Penggunaan Rate Fertilitas Berdasarkan Tahun Penanggalan

Bila hanya diketahui jumlah kelahiran saja, maka digunakan rate kelahiran kasar. Bila di samping jumlah kelahiran diketahui pula distribusi penduduk menurut umur, dapat digunakan General Fertility Rate atau Total Fertility Rate yang dihitung secara tidak langsung. Bila hanya data distribusi penduduk menurut golongan umur yang diperoleh, maka digunakan rasio anak wanita untuk menggambarkan fertilitas.

Seperti halnya dengan rate kematian kasar, rate kelahiran kasar banyak digunakan, selain karena perhitungannya relatif mudah dan cepat, juga mudah dimengerti oleh banyak orang.

Di bawah ini akan diberikan sebuah contoh perhitungan rate fertilitas yang telah dibahas dalam bab ini.

Dari hasil survei bulan Agustus 1084 di sebuah Desa di kabupaten Bandung diperoleh distribusi penduduk menurut golongan umur untuk wanita usia subur dan jumlah kelahiran pada tiap golongan umur. Jumlah penduduk 4.955. rasio jenis kelamin waktu lahir 102. Jumlah penduduk balita 735. Data yang diperoleh dapat disusun dalam bentuk tabel berikut:

Umur

Penduduk wanita

Jumlah Kelahiran hidup

15-24

234

19

20-24

221

54

25-29

121

24

30-34

119

13

35-39

131

9

40-44

98

5

Jumlah

924

124

Sex ratio waktu lahir = 102

1. ASFR

15-19 = 19/234 = 0.0812

20-24 = 54/221 = 0,2443

25-29 = 24/121 = 0,1983

30-34 = 13/119 = 0,1092

35-39 = 9/131 = 0,0687

40-44 = 5/98 = 0,0510

____________________

0,7527 atau 752,7

2. GFR

124/924 X 1.000 = 134.2 O/OO

3. Total Fertility Rate :

0,7527 x 5 = 3,7635 (±4)

4. GRR: Sex Ratio = 102

Proporsi bayi wanita = 100/202

= 0.4950

GRR ialah TFR untuk wanita = 3763,5 x 0,4950

= 1862,9 0/00

GRR dapat juga dihitung dengan rumus:

5 ∑ ASFR untuk wanita.

0,0812 x 0,4950 = 0,04020

0,2443 x 0,4950 = 0,12093

0,1983 x 0,4950 = 0,09816

0,1092 x 0,4950 = 0,05404

0,0687 x 0,4950 = 0,03400

0,0510 x 0,4950 = 0,02524

0,37257 x 5 = 1,8629

= 1862,9 0 /00

5. Rate kelahiran kasar.

Jumlsh penduduk desa tersebut 4.955

Jumlah kelahiran 124

CBR = 124/4.955 X 1.000 = 25 0/00

6. Child Women Ratio

Jumlah penduduk balita : 735

Jumlah wanita usia subur (15-44) : 924

C – W ratio = 735/924 = 0,7955

Statistika pelayanan kesehatan


Statistika pelayanan kesehatan ialah semua catatan yang disusun secara sistematis dan terus-menerus tentang hal-hal yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Yang termasuk dalam statistik pelayanan kesehatan antara lain:

A. Rasio Penduduk terhadap Sarana Pelayanan Kesehatan

Rasio ini menggambarkan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan. Sarana pelayanan kesehatan ialah Rumah Sakit, Puskesmas, Puskesmas pembantu, Puskesmas Keliling, Pos KIA, balai Pengobatan dan lain-lain. Rasio ini berupa perbandingan antara jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu dengan jumlah sarana pelayanan kesehatan yang terdapat di wilayah tersebut.

Rumus:

Jumlah penduduk suatu wilayah tertentu

_______________________________________________________

Jumlah sarana pelayanan kesehatan yang terdapat diwilayah tersebut

Dari rasio ini dapat diketahui banyaknya penduduk yang harus dilayani oleh sebuah sarana pelayanan kesehatan. Angka ini dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai kecukupan penyediaan sarana pelayanan kesehatan. Indikator tersebut harus disertai dengan kriteria standar dan target yag diinginkan. Kriteria standar untuk kecukupan tidak sama pada setiap wilayah, tergantung dari kebutuhan masyarakat dan jenis pelayanan. Karena itu sebaiknya kriteria standat ditentukan oleh masing-masing daerah.

Perhitungan rasio ini pada berbagai wilayah akan menghasilkan distribusi sarana kesehatan yang dapat digunakan sebagai pegangan untuk menyusun rancana pemerataan saran pelayanan kesehatan.

Gambaran sarana kesehatan di Sumbar pada tahun 2006

1. Puskesmas

Pada tahun 2005 jumlah puskesmas di Sumatera Barat sebanyak 216 buah dan meningkat menjadi 230 buah pada tahun 2006, dengan jumlah puskesmas perawatan sebanyak 65 buah (28,26%). Secara konseptual puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan dapat melayani sasaran penduduk rata-rata 30.000 penduduk. Dengan jumlah puskesmas tersebut berarti 1 puskesmas di Sumatera Barat rata-rata melayani sebanyak 34.927 jiwa, puskesmas pembantu pada tahun 2006 berjumlah 819 buah.

Rasio puskesmas pembantu terhadap puskesmas pada tahun 2006 rata-rata 3,7 : 1 artinya setiap puskesmas didukung oleh 3 sampai 4 puskesmas pembantu dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain itu dalam menjalankan tugas operasionalnya didukung oleh puskesmas keliling sebanyak 216 buah.

2. Rumah Sakit

Di provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 terdapat sebanyak 47 rumah sakit dengan rincian rumah sakit pemerintah sebanyak 20 rumah sakit dengan rasio 1: 917.199, rumah sakit swasta 13 rumah sakit dengan rasio 1: 596.179 dan rumah sakit khusus 14 dengan rasio 1: 642.039.

3. Sarana Produksi dan Distribusi Sediaan Farmasi & Alat Kesehatan

Salah satu indicator penting untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan adalah jumlah sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi dan alat kesehatan. Data yang berhasil dikumpulkan tahun 2006 adalah jumlah apotik di provinsi Sumatera Barat sebayak 49 apotik, industri obat tradisional 6 dan industri kecil obat tradisional 72, gudang farmasi kabupaten/kota sebanyak 9 serta took obat 276.

4. Sarana Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) diantaranya adalah posyandu dan polindes.

Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, KB, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangan posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata, yaitu posyandu pratama, madya, purnama dan posyandu mandiri. Jumlah posyandu di Sumatera Barat menurut profil kesehatan tahun 2006, bahwa jumlah posyandu yang ada sebanyak 6.680 posyandu, dengan rincian posyandu pratama 1.326 (19,850%), posyandu madya 2.807 (42,02%), poyandu purnama 2.109 (31,57%), dan posyandu mandiri 438 (6,56%).

B. Rasio antara Jumlah Penduduk dengan Jumlah Tenaga Kesehatan

Rasio ini dapat berupa perbandingan antara jumlah penduduk suatu wilayah dengan jumlah petugas kesehatan tertentu atau sebaliknya.

Rumus:

Jumlah penduduk suatu wilayah tertentu

________________________________________

Jumlah petugas kesehatan tertentu

Atau

Jumlah petugas kesehatan tertentu

________________________________ x 10.000

Jumlah penduduk suatu wilayah tertentu

Rasio ini dihitung untuk setiap jenis petugas kesehatan, misalnya rasio antara jumlah penduduk dan dokter, antara jumlah penduduk dan dokter gigi, antara jumlah penduduk dan bidan, antara penduduk dan perawat, antara penduduk dan kader kesehatan dan lain-lain.

Besarnya rasio ini selain dipengaruhi oleh jumlah penduduk, dipengaruhi pula oleh jenis pelayanan kesehatan. Misalnya, besarnya rasio antara jumlah penduduk dan dokter akan berbeda dengan rasio antara penduduk dan bidan, karena sebagai penyebut untuk rasio penduduk dan penduduk meliputi seluruh penduduk , sedangkan penyebut untuk rasio penduduk dan bidan, adalah jumlah penduduk yang mempunyai risiko untuk hamil yaitu wanita usia subur.

Manfaat

Rasio ini dapat digunakan sebagai indikator untuk menyusun rencana dalam penyediaan jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang dibutuhkan, hingga pendidikan, latihan dan penyebaran tenaga kesehatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Dari rasio ini dapat diketahui jumlah penduduk yang harus dilayani oleh seorang tenaga kesehatan tertentu, karena itu rasio ini dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai kecukupan penyediaan tenaga kesehatan untuk suatu jenis pelayanan kesehatan.

Sumber Data

Untuk jumlah tenaga kesehatan dapat diperoleh dari catatan pegawai dan untuk dukun bayi dapat diperoleh dari catatn di kantor wilayah. Jumlah penduduk dapat diperoleh dari catatan di kantor wilayah atau dari hasil sensus.

Variasi

Rasio ini bervariasi tergantung dari jenis petugas kesehatan. Misalnya, rasio antara jumlah penduduk dan jumlah dokter bervariasi antara 1000 : 1 sampai 50.000 : 1, sedangkan variasi antara jumlah penduduk dan dokter gigi antara 100 : 1 sampai 10.000 : 1. Untuk rasio bidan atau dukun bayi dapat diperkirakan dari angka kelahiran. Selain bervariasi antara berbagai jenis pelayananterdapat pula variasi antara berbagai wilayah. Bila rasio ini akan digunakan untuk mengadakan perbandingan dengan wilayah lain ketepatan pencatatn jumlah penduduk harus sama agar tidak menimbulkan kesalahan dalam menari kesimpulan.

Berdasarkan profil kesehatan Sumbar, jumlah dan jenis SDM kesehatan di Provinsi Sumatera Barat terdiri dari, Dokter umum 831 orang, dokter spesialis 185 orang, ass apoteker 120 orang dan gizi 141 orang, dll.

C. Presentase Jumlah Pengunjung dengan Jumlah Penduduk

Proporsi ini merupakan perbandingan antara jumlah pengunjung dalam suatu periode tertentu per 100 penduduk. Presentase ini juga merupakan presentase penduduk yang menggunakan sarana kesehatan yang tersedia.

Rumus:

Jumlah pengunjung yang dicatat selama periode tertentu

______________________________________ x 100

Jumlah penduduk

Proporsi ini bermacam-macam tergantung dari jenis pelayanan, misalnya pelayanan pemeriksaan ibu hamil, pertolongan persalinan, pelayanan keluarga berencana, pelayanan balita dan lain-lain. Proporsi ini dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui penggunaan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat.

Proporsi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

1. Jarak antara rumah penduduk dengan letak sarana pelayanan kesehatan atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai sarana pelayanan kesehatan. Semakin jauh jarak atau makin banyak waktu yang dibutuhkan penduduk untuk mencapai sarana pelayanan kesehatan, proporsi ini makin kecil.

2. Kualitas pelayanan

Pelayanan kesehatan yang tersedia harus mempenuyai kualitas yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Kualitas pelayanan kesehatan yang dapat diterima tergantung dari wilayah, tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan lain-lain.

3. Sosial ekonomi

Yang termasuk dalam sosial ekonomi ialah kemampuan masyarakat untuk membiayai pelayanan kesehatan yang diterima.

4. Jenis pelayanan kesehatan

Jenis pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan meninggikan proporsi ini, sebaliknya pelayanan kesehatan yang belum dirasakan kebutuhannya akan menurunkan proporsi. Misalnya, bila suatu wilayah dimana masih belum dirasakan kebutuhan akan pelayanan kesehatan jiwa, tersedianya jenis pelayanan ini kurang mendapat pengunjung.

Sumber data

Dari hasil sensus atau catatan di kantor wilayah, sedangkan jumlah pengunjung diperoleh dari catatan di sarana kesehatan.

Rate kunjungan

Rate ini menyatakan jumlah kujungan yang dicatat selama periode tertentu per 1000 penduduk yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan. Rate ini bermacam-macam sesuai dengan jenis pelayanan, misalnya rate kunjungan untuk balai pengobatan, pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan bayi dan anak-anak, dll. Bila rate ini dibagi 1000 akan menghasilkan frekuensi rata-rata kunjungan per orang per periode tertentu, misalnya 1 tahun.

Rumus:

Jumlah kunjungan yang dicatat selama 1 periode

________________________________________________________

Jumlah penduduk yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan dalam periode yang sama

Manfaat

Untuk mengetahui gambaran umum tentang penggunan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat. Rate ini dapat juga digunakan untuk merencanakan jumlah dan jenis obat-obatan yang dibutuhkan. Bial persentasi penduduk yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan cukup tinggi, rate ini dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat morbiditas wilayah tersebut. Dari rate ini juga dapat diperhitungkan beban kerjja dari tiap petugas kesehatan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi:

1. Jarak atau waktu yang diperlukan penduduk yang membutuhkan untuk mencapai sarana pelayanan kesehatan. Bila jaraknya terlalu jauh, penduduk akan segan untuk berobat ke sarana tersebut atau melakukan kunjungan ulang. Faktor jarak atau waktu ini tergantung pula dari jenis pelayanan.

2. Pengertian sakit oleh masyarakat

Pengertian sakit bervariasi antara berbagai wilayah,, antara kota dan desa,dll. Pengertian sakit penduduk pedesaan pada umumnya adalah keadaan yang dirasakan badan, misalnya panas, pusing sakit perut, diare, muntah, atau nyeri anggota badan, hingga mengalami gangguan fungsi.

3. Kualitas pelayanan

Kualitas pelayanan termasuk tenaga yangg melayani, obat-obat yang diberikan. Pada umumnya pengertian kualitas oleh penduduk pedesaan ialah dengan sekali berobat gejala penyakit yang diderita telah hilang atau berkurang.

4. Biaya yang harus dikeluarkan penduduk yang mebutuhkan sarana pelayanan kesehatan. Biaya ini meliputi biaya perjalanan dari rumah sampai ke rumah lagi dan biaya pengobatan.

5. Waktu

Bila sarana pelayanan kesehatan memberikan pelayanan di waktu penduduk sedang melakukan kegiatan sehari-hari akan mengurangi jumlah kunjungan. Hal ini disebabkan karena penderita yang sakitnya tidak parah akan tetap melakukan kegiatan sampai selesai. Demikian pula, bila dibutuhkan pelayanan kesehatan tidak dapat melayani, masyarakat akan menggunakan sarana lain.

Sumber data

Untuk jumlah kunjungan dan jumlah penduduk yang menggunakan sarana pelayanan kesehatan dapat diperoleh dari catatan sarana pelayanan kesehatan. Bila sebagai penyebut digunakan jumlah penduduk yang seharusnya menggunakan, maka untuk memperoleh datanya menjadi sulit karena haerrus disesuaikan dengan pen gertian penduduk tentang sakit dan harus dilakukan survei atau sensus.

Variasi

Rate ini bervariasi antara berbagai wilayah, antara berbagai jenis pelayanan dan variasi berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan.

D. Rate Kunjungan dan Frekuensi Kunjungan

Rata-rata frekuensi kunjungan adalah rasio antara jumlah pengunjung atau kunjungan baru ditambah dengan jumlah jumlah kunjungan atau kunjungan lama dengan jumlah pengunjung dalam satu periode tertentu.

Rumus :

Jumlah kunjungan baru + kunjungan lama yang dicatatselama satu periode tertentu _________________________________________________

Jumlah kunjungan baru dalam periode yang sama

Atau

B + L

____________

B

B = Kunjungan baru

Yang dimaksud dengan kunjungan baru ialah semua kunjungan untuk pertama kali dalam suatu periode tertentu. Kunjungan ini dapat berupa kasus baru atau lanjutan dari periode sebelumnya.

L= Kunjungan lama

Yang dimaksud dengan kunjuungan lama ialah semua kunjungan ulang yang dilakukan dalam periode tertentu.

Manfaat

Suatu keuntungan dalam perhitungan rasio ini adalah pembilang dan penyebut dapat diperoleh dari catatan di sarana kesehatan. Rasio ini dapat digunakan untuk mengetahui frekuensi rata-rata penggunaan sarana pelayanan kesehatan. Bila semua pendekatan dapat dipenuhi. Frekuensi rata-rata ialah 3-4 kali per tahun per penduduk yang menggunakan.

Variasi

Rasio ini bervariasi tergantung dari jenis pelayanan, jenis penyakit, rate morbiditas dan kualitas pelayanan. Rata-rata frekuensi kunjungan yang tinggi dapat disebabkan karena banyaknya penderita penyakit kronis atau kualitas pelayanan yang rendah sehingga seorang penderita harus berkali-kali melakukan kunjungan. Bila kualitas pelayanan telah baik dan tidak banyak penderita penyakit kronis, maka tingginya rata-rata frekuensi kunjungan dapat menggambarkan tingginya rate morbiditas dan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang disediakan.

Variasai antara berbagai jenis pelayanan kesehatan dapat disebabkan karena pembilangnya yang berbeda, misalnya, pembilang untuuk pelayanan pengobatan umum berasal dari seluruh penduduk, sedangkan untuk pelayanan pemeriiksaan ibu hamil tergantung dari tingginya angka kelahiran.

Gambaran kunjungan neonatus dan kunjungan bayi di sumbar pada tahun 2006 adalah:

1. Kunjungan Neonatus

Gambaran Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 jumlah neonatal 89.204 dengan jumlah neonatal risti yang dirujuk 376 (0,42%).

2. Kunjungan Bayi

Untuk jumlah bayi di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 mencapai 107.526 bayi dengan cakupan kunjungan sebanyak 183.209 bayi (170 %), ini jika dilihat sudah melebihi 100%, disini dapat dikatakan bahwa beberapa bayi yang melakukan kunjungan beberapa kali, hal ini disebabkan karena telah tinginya kesadaran ibu-ibu untuk membawa bayinya berkunjung ke pusat pelayanan dasar baik untuk pemeriksaan kesehatan bayi maupun untuk penimbangan berat badan bayi.

E. Proporsi Penduduk yang Tidak Menggunakan Sarana Pelayanan Kesehatan

Proporsi ini adalah persentasi tidak diigunakannya sarana pelayanan kesehatan yang tersedia oleh penduduk yang seharusnya menggunakannya.

Rumus

Jumlah penduduk yang tidak menggunakan sarana pelayanan kesehatan

________________________________________________________

Jumlah penduduk yang seharusnya menggunakan sarana tersebut

Jumlah penduduk yang tidak menggunakan sarana pelayanan kesehatan dapat dipperoleh dari survai penduduk. Dalam survai ini dapat diketahui pula sebab-sebab tidak menggunakan. Data ini dapat digunakan untuk menyusun rencana dalam mengatasi sebab tidak menggunakan. Jumlah penduduk yang tidak menggunakan dapat juga diperoleh secara tidak langsung dari persentasi pengunjung, tetapi dengan cara ini tidak dapat diperoleh inforasi tentang sebab-sebab tidak menggunakan. Proporsi ini berlaku untuk semua jenis pelayanan kesehatan yang tersedia.

Contoh :

Dari hasil suatu survai diketahui bahwa jumlah bayi berumur kurang dari 14 bulan adalah 350 sedangkan yang datang ke sarana kesehatan untuk diimunisai adalah 200 bayi. Ini berarti terdapat sebanyak 150 orang orang yang tidak menggunakan sarana pelayanan kesehatan ialah 150/350 x 100= 42,86%. Angka ini dapat digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan kesehatan.

F. Presentase Ibu Hamil yang Melakukan Pemeriksaan Antenatal

Perhitungan persentasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk sebagai berikut :

1. Pemeriksaan antenatal yang dilakukan minimal 1x pada setiap kehamilan. Angka ini menyatakan persentasi wanita hamil yang melakukan pemeriksaan minimal 1x, terhadap perkiraan persalinan.

Rumus

Jumlah wanita hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal minimal 1x

_____________________________________________________ x 100

Jumlah perkiraan persalinan

Angka ini merupakan salah satu indikator untuk mengukur jangkauan pelayanan kesehatan terhadapibu hamil. Indikator ini kurang berbobot, karena kriteria yang digunakan terlalu ringan yaitu hanya satu kali pemeriksaan antenatal setiap kehamilan. Indikator ini akan lebih baik bila digunakan kriteria 3 atau 4 kali pemeriksaan antenatal pada setiap kehamilan.

2. Proporsi wanita hamil yang melakukan minimal 4x pemeriksaan antenatal terhadap jumlah perkiraan persalinan.

Rumus

Jumlah wanita hamil yang melakukan minimal 4x pemeriksaan antenatal setiap kehamilan

____________________________________________________________________________x100

Jumlah perkiraan persalinan

3. Rata-rata frekuensi pemeriksaan antenatal.

Indeks ini merupakan rasio antara jumlah kunjungan baru ditambah dengan kunjungan lama dibagi dengan kunjungan baru.

Rumus

B + L

___________

B

Kelemahan perhitungan ini ialah tidak menggambarkan kohor dari ibu-ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal. Sebagai kriteria standar untuk menilai jangkauan pelayanan kesehatan terhadap pemeriksaan ibu hamil dapat digunakan rata-rata frekuensi 4 kali pemeriksaan. Disamping ketiga ukuran tersebut, lamanya kehamilann pada pemeriksaan antenatal yang 1, dapat juga diperhitungkan. Angka ini selain dappat digunakan untuk mengukur jangkauan pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil, dapat jug adigunakan untuk mengetahui tingkat pengertian ibu tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan.

Rata-rata frekuensi pemeriksaan antenatal dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berrikut :

1. Jarak,ekonomi, budaya dan waktu

2. Kelengkapan laporan

3. Cara pelayanan

4. Pelayanan Antenatal (K4)

Gambaran Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 dari 118.348 ibu hamil cakupan K4 sebanyak 90.016 (76,06 %). Sedangkan target cakupan kunjungan ibu hamil K4 untuk tahun 2006 sebesar 81%.

G. Presentase Balita yang Mendapat Imunisasi

Persentasi ini menyatakan jumlah balita dalam periode tertentu yang telah mendapat imunisasi lengkap atau imunisasi khusus per 100 balita. Yang dimaksud dengan imunisasi lengkap untuk balita ialah DTP 1 dan II, BCG Polio dan Cacar.

Rumus

Jumlah balita yang telah mendapat imunisasi

________________________________________ x 100

Jumlah balita

Sumber data

Jumlah balita dapat diperoleh dari hasil sensus atau survai penduduk atau catatan di Kantor Wilayah. Jumlah balita yang telah mendapat imunisasi dapat diperoleh dari catatan di KIA atau petugas imunisasi. Untuk mengetahui jumlah balita yang akan mendapatkan imunisasi untuk pertama kali, biasanya tidak banyak mengalami kesuliran, tetapi untuk imunisasi ulang, ketepatan jumlah balita yang akan mendapatlan imunisasi ulang tergantung dari kelengkapan pencatatan. Bila catatan tidak lengkap, akan mengalami kesulitan untuk mencari jumlah balita yang akan mendapat imunisasi ulang. Hal ini terutama pada imunisasi yang tidak meninggalkan bekas. Untuk imunisasi yang meninggalkan bekas seperti BCG atau cacar dapat dilakukan “scar” survai.

Manfaat

Angka ini dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat, untuk mengukur jagkauan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Dengan imunisasi, diharapkan insidensi morbiditas dan mortalitas yamg disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi akan menurun. Bila terdapat persentasi imunisasi yamg rendah, sebaiknya persentasi tersebut dinyatakan secara negatif yaitu dinyatakan perssentasi balita yang belum mendapat imunisasi, dengan maksud untuk menarik perhatian para pengambil keputusan untuk segera mengambil tidakan.

Bila terdapat kesulitan dalam mengumpulkan jumlah balita, dapat digunakan persentasi imunisasi terhadap bayi yang berumur kurang dari 1 tahun atau yang berumur 3-14 bulan. Untuk imunisasi penuh minimal dibutuhkan 3x kontak dengan petugas imunisasi atau sarana pelayanan kesehatan untuk bayi dan anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi :

1. Pengertian masyarakat tentang manfaat imunisasi pada bayi dan anak.

2. Faktor jarak dan biaya

3. Faktor pelayanan dan penyediaan vaksin

4. Ketepatan pencatatan dan laporan

Sumatera Barat telah mencapai desa/ kelurahan UCI sebesar 76,55% dari 2.981 desa/ kelurahan yang ada dari 18 kab/ kota. Ada 3 kab/kota yang telah mencapai UCI 100% adalah kota Solok, kota Padang Panjang dan kota Payakumbuh. Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT (3 kali), polio (4 kali), hepatitis B (3 kali) dan imunisasi campak (1 kali), yang dilakukan melalui pelayanan rutin di posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Cakupan imunisasi BCG sebesar (97,58%), DPT 1 (94,03%), DPT 3 (82,74%), polio 3 (89,71%), campak (84,73%) dan Hepatitis B 3 (83,29%).

H. Presentase Persalinan oleh Nakes

Proporsi ini ialah jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga terlatih per 100 perkiraan persalinan. Tenaga terlatih ialah dokter, bidan dan dukun bayi yang telah mengikuti kursus.

Rumus

Jumlah pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih

_________________________________________ x 100

Jumlah perkiraan persalinan

Sumber data

Jumlah pertolongan persalinan dapat diperoleh dari catatan di sarana pelayananan kesehatan, laporan dari bidan dan dukun bayi yang melakukan pertolongan persalinan di luar sarana pelayanan kesehatan. Yang menjadi hambatan ialah kurangnya laporan dari dukun bayi. Jumlah perkiraan persalinan dapat diperoleh dari hasil sensus.

Faktor-faktor yang mempengaruhi :

1. Kemudahan pendekatan secara fisik

2. Faktor kebiasaan masyarakat untuk melahirkan di rumah ditolong oleh dukun bayi.

Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan di Sumatera Barat berdasarkan hasil pengumpulan data/ indikator kinerja SPM bidang kesehatan di 19 kabupaten/ kota di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah persalinan 112.969, jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan 85.404 (75.6%).

I. Presentase Pasangan Usia Subur yang Menjadi Akseptor KB

Proporsi ini menyatakan jumlah akseptor KB atau current user per 100 pasangan usia subur.

Rumus

Jumlah akseptor KB atau current user

__________________________________ x 100

Jumlah pasangan usia subur

Proporsi ini dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur jangkauan pelayanan KB, mengukur tingkat pencapaian target atau keberhasilan program KB.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proporsi ini adalah :

1. Penerangan atau penyuluhan

2. Cara pelayanan pada masyarakat dan persediaan alat kontrasepsi

3. Hambatan budaya

4. Cara kontrasepsi yang dapat diterima oleh masyarakat

Sumber data

Jumlah pasangan usia subur dapat dipperoleh dari hasil sensus atau survai penduduk atau dari catatan yang terdapat di kantor wilayah, sedangkan untuk jumlah akseptor dapat diperoleh dari catatan di sarana pelayanan kesehatan atau laporan petugas lapangan KB.

Untuk cakupan pelayanan KB aktif tahun 2006di Sumbar adalah 487.218 (67,50%) dari 721.757 orang pasangan usia subur, kalau dilihat dari target 70%, ini dapat dilihat bahwa kesadaran masyarakat untuk ikut ber KB sudah ada.

J. Presentase Penderita Penyakit Kronis yang Berobat

Persentase ini merupakan perbandingan antara jumlah penderita penyakit kronis yang berobat dengan perkiraan jumlah penderita penyakit tersebut.

Rumus

Jumlah penderita penyakit kronis tertentu yang berobat

___________________________________________ x 100

Jumlah perkiraan jumlah penderita penyakit tersebut

Angka ini dapat digunakan untuk mengukur jangkauan pelayanan kesehatan terhadap penderita penyakit kronis dan pprogram pemberantasan penyakit.

Sumber data

Untuk pembilang dapat diperoleh dari sarana pelayanan kesehatan, sedangkan penyebut dapat diperoleh dari hasil survai penyakit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi :

1. Kesadaran dan pengertian penderita untuk berobat

2. Tersedianya alat-alat untuk menegakkan diagnosa dan obat-obat yang dibutuhkan

3. Biaya pengobatan yang masih dapat dijangkau oleh masyarakat

4. Kriteria penyakit yang digunakan

5. Ketetapan pencatatan dan laporan

K. Presentase Penderita Penyakit Kronis yang Melakukan Pengobatan Secara Teratur

Persentase ini menyatakan perbandingan antara jumlah penderita penyakit kronis yang berobat secara rutin dengan jumlah penderita penyakit tersebut.

Rumus

Jumlah penderita penyakit kronis yang berobat secara rutin

________________________________________ x100

Jumlah penderita penyakit tersebut

Angka ini dapat digunakan untuk mengukur jangkauan terhadap pemberantasan penyakit kronis.

Sumber data

Untuk pembilang dapat diperoleh dari catatan penderita yang terdapat di saraa pelayanan kesehatan, sedangkan untuk penyebut diperoleh dari hasil survai penyakit atau catatan petugas survailan epidemiologi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi:

1. Kesadaran penderita untuk berobat secara teratur sampai sembuh.

2. Penerangan pada penderita tentang bahaya penyakit yang diderita.

3. Persediaan obat yang dibutuhkan dan harga yang masih dapat dijangkau.

4. Kualitas pelayanan.

5. Jarak antara rumah penderita dengan lokasi sarana pelayanan kesehatan.

Kepustakaan:

Budiarto, Eko. 1985. Pengantar Statistika Kesehatan. Bandung: Alumni

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. 2007. Profil Kesehatan Tahun 2006. Padang: Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat

Konsep orang, waktu dan tempat dalam epidemiologi


Dalam studi epidemiologi, ada dua kegiatan pokok dan terpisah yang harus dilakukan. Pertama, adalah studi terhadap jumlah dan distribusi penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan, dan kematian dalam populasi. Untuk melakukan studi ini, ahli epidemiologi harus mengakaji semua aspek waktu, tempat, dan orang. Pengkajian rinci terhadap setiap elemen tersebut dilakukan dan dianalisis dalam studi epidemiologi deskriptif.

A. Person (Orang)

Banyak fokus kita ketahui bahwa epidemiologi yang ditujukan pada aspek orang dalam hal penyakit, ketidakmampuan, cedera, dan kematian. Studi epidemiologi umumnya berfokus pada beberapa karakteristik demografi utama dari aspek manusia yaitu usia, jenis kelamin, ras/etnik, status perkawinan, pekerjaan, dan lain-lain.

1. Usia

Variabel usia merupakan hal yang penting karena semua rate morbiditas dan rate mortalitas yang dilaporkan hampir selalu berkaitan dengan usia. Usia termasuk variabel penting dalam mempelajari suatu masalah kesehatan karena:

a. Ada kaitannya dengan daya tahan tubuh

Pada umumnya daya tahan tubuh orang dewasa lebih kuat daripada bayi dan anak-anak.

b. Ada kaitannya dengan ancaman terhadap kesehatan

Orang dewasa yang karena pekerjaannya ada kemungkinan menghadapi ancaman penyakit lebih berat dari pada ank-anak.

c. Ada kaitannya dengan kebiasaan hidup

Dibandingkan anak-anak, orang dewasa yang karena kebiasaan hidupnya ada kemungkinan terkena penyakit akibat kesalahan kebiasaan hidup tersebut.

Adanya perbedaan penyebaran penyakit di setiap kelompok usia disebabkan oleh:

a. Adanya faktor tertentu pada kelompok usia tersebut yang menyebabkan mereka mudah terserang. Misalnya, campak pada anak-anak. Kesimpulannnya anak-anak tidak mempunyai kekebalan terhadap campak.

b. Adanya faktor tertentu pada kelompok usia lain yang menyebabkan mereka sulit terserang. Misalnya campak jarang ditemkan pada orang dewasa. Kesimpulannnya orang dewasa mempunyai kekebalan terhadap campak.

c. Adanya peristiwa tertentu yang pernah dialami oleh kelompok umur tertentu. Misalnya TBC paru banyak ditemukan pada penduduk berumur 20 tahun ke atas. Kesimpulannya imunisasi BCG baru berjalan baik sejak 20 tahun yang lalu.

a. Hubungan umur dengan mortalitas

Walaupun secara umum kematian dapat terjadi pada setiap golongan usia tetapi dari berbagai catatan diketahui bahwa frekuansi kematian pada setiap golongan usia berbeda-beda, yaitu kematian tertinggi terjadi pada golongan umur 0-5 tahun dan kematian terendah terletak pada golongan umur 15-25 tahun dan akan meningkat lagi pada umur 40 tahun ke atas.

Dari gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa secara umum kematian akan meningkat dengan meningkatnya umur. Hal ini disebabkan berbagai faktor, yaitu pengalaman terpapar oleh faktor penyebab penyakit, faktor pekerjaan, kebiasaan hidup atau terjadinya perubahan dalam kekebalan.

b. Hubungan Usia dengan Morbididtas

Kita ketahui bahwa pada hakikatnya suatu penyakit dapat menyerang setiap orang pada semua golongan umur, tetapi ada penyakit-penyakit tertentu yang lebih banyak menyerang golongan usia tertentu. Penyakit-penyakit kronis mempunyai kecendrungan meningkat dengan bertambahnya umur, sedangkan penyakit-penyakit akut tidak mempunyai suatu kecendrungan yang jelas.

Anak berumur 1-5 tahun lebih banyak terkena infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA). Ini disebabkan perlindungan kekebalan yang diperoleh dari ibu yang melahirkannya hanya sampai pada 6 bulan pertama setelah melahirkan, sedangkan setelah itu kekebalan menghilang dan ISPA mulai menunjukkkan peningkatan.

Sebelum ditemukan vaksin, banyak terjadi pada anak-anak berumur muda, tetapi setelah program imunisasi dijalankan, umur penderita bergeser ke umur yang lebih tua. Walaupun program imunisasi telah lama dijalankan di Indonesia, tetapi karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat yan masih rendah terutama di daerah pedesaan sering kali target cakupan imunisasi tidak tercapai yang berarti masih banyak anak atau bayi yang tidak mendapatkan imunisasi. Gambaran ini tidak hanya terjadi pada negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi terjadi juga pada negara maju.

Penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan karsinoma lebih banyak menyerang orang dewasa dan lanjut usia, sedangkan penyakit kelamin, AIDS, kecelakaan lalu lintas, penyalahgunaan obat terlarang banyak terjadi pada golongan usia produktif yaitu remaja dan dewasa. Hubungan antara usia dan penyakit tidak hanya pada frekuensinya saja, tetapi pada tingkat beratnya penyakit, misalnya stapilococcus dan eschericia coli akan menjadi lebih berat bila menyerang bayi daripada golongan umur lain karena bayi masih sangat rentan terhadap infeksi.

c. Hubungan Tingkat Perkembangan Manusia Dengan Morbiditas

Dalam perkembangan secara alamiah, manusia mulai dari sejak dilahirkan hingga akhir hayatnya senantiasa mengalami perubahan baik fisik maupun psikis. Secara garis besar, perkembangan manusia secara alamiah dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu fase bayi dan anak-anak, fase remaja dan dewasa muda, fase dewasa dan lanjut usia.

Dalam setiap fase perkembangan tersebut, manusia mengalami perubahan dalam pola distribusi dan frekuensi morbiditas dan mortalitas yang disebabkan terjadinya perubahan dalam kebiasaan hidup, kekebalan, dan faal.

2. Jenis Kelamin

Hubungan Penyakit Dengan Jenis Kelamin

Secara umum, setiap penyakit dapat menyerang manusia baik laki-laki maupun perempuan, tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan pekerjaan, kebiasaan hidup, kesadaran berobat, perbedaan kemampuan atau kriteria diagnostik beberapa penyakit, genetika atau kondisi fisiologis. Penyakit-penyakit yang lebih banyak menyerang perempuan daripada laki-laki antara lain:

1. Tireotoksikosis

2. Diabetes melitus

3. Obesitas

4. Kolesisitis

5. Rematoid artritis

Selain itu, terdapat pula penyakit yang hanya menyerang perempuan, yaitu penyakit yang berkaitan dengan organ tubuh perempuan seperti karsinoma uterus, karsinoma mamae, karsinoam serviks, kista ovarii, dan adneksitis. Penyakit-penyakit yang lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan antara lain:

1. Penyakit jantung koroner

2. Infark miokard

3. Karsinoma paru

4. Hernia inguinalis

Selain itu, terdapat pula penyakit yang hanya menyerang laki-laki seperti karsinoma penis, orsitis, hipertrofi prostat, dan karsinoma prostat.

3. Suku Bangsa

Suku bangsa atau golongan etnik adalah sekelompok manusia dalam suatu populasi yang memiliki kebiasaan atau sifat biologis yang sama. Walaupun klasifikasi penyakit berdasarkan suku bangsa sulit dilakukan baik secara praktis maupun secara konseptual, tetapi karena terdapat perbedaan yang besar dalam frekuensi dan beratnya penyakit diantara suku bangsa maka dibuat klasifikasi walaupun kontroversi. Pada umumnya penyakit yang berhubungan dengan suku bangsa berkaitan dengan faktor genetik atau faktor lingkungan, misalnya:

1. Penyakit sickle cell anemia

2. Hemofilia

3. Kelainan biokimia sperti glukosa 6 fosfatase

4. Karsinoma lambung

Disamping ketiga fakor yang telah diuraikan di atas terdapat pula faktor-faktor lain yang berkaitan dengan variabel “orang”, yaitu:

1. Sosial ekonomi

2. Budaya/agama

3. Pekerjaan

4. Status marital

5. Golongan darah

6. Infeksi alamiah

7. Kepribadian

4. Sosial ekonomi

Terdapatnya perbedaan penyebaran masalah kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor:

a. Perbedaan kemampuan ekonomi dalam mencegah atau mengobati penyakit.

b. Perbedaan sikap hidup dan perilaku yang dimiliki.

Keadaan sosial ekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi frekuensi distribusi penyakit tertentu, misalnya TBC, infeksi akut gastrointestinal, ISPA, anemia, melnutrisi, dan penyakit parasit yang banyak terdapat pada penduduk golongan sosial ekonomi rendah. Penyakit jantung koroner, hipertensi, obesitas, kadar kolesterol tinggi, dan infark miokard yang banyak terdapat pada penduduk golongan sosial ekonomi yang tinggi.

5. Budaya/agama

Dalam beberapa hal terdapat hubungan antara kebudayaan masyarakat atau agama dengan frekuensi penyakit tertentu, misalnya:

1. Balanitis, karsnoam penis banyak terdapat pada orang yang tidak melakukan sirkumsisi disertai dengan higiene perorangan yang jelek.

2. Trisinensis jarang terdapat pada orang Islam dan orang Yahudi karena mereka tidak memakan babi.

3. Kelainan fungsi hati jarang ditemukan pada pemeluk agama islam karena ajaran agama islam tidak membenarkan meminum alkohol.

6. Pekerjaan

Berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada frekuensi dan distirbusi penyakit. Hal ini disebabkan sebagian hidupnya dihabiskan di tempat pekerjaan dengan berbagai suasana dan lingkungan yang berbeda. Misalnya, pekerjaan yang berhubungan dengan bahan fisika, panas, bising, dan kimia seperti pekerja pabrik asbes yang banyak menderita karsinoma paru dan gastrointestinal serta mesotelioma, sedangkan fibrosis paru banyak terdapat pada pekerja yang terpapar oleh silikon bebas, atau zat radioaktif seperti petugas di bagian radiologi dan kedokteran nuklir.

Pekerja di bidang pertambangan, konstruksi bangunan atau pertanian, dan pengemudi kendaraan bermotor mempunyai risiko yang lebih beasr untuk mengalami trauma atau kecelakaan dibandingkan dengan pekerja kantor.

Pada dasarnya hubungan antara pekerjaan dengan masalah kesehatan disebabkan oleh:

a. Adanya risiko pekerjaan

Setiap pekerjaan mempunyai risiko tertentu dan karena itulah macam penyakit yang dideritanya akan berbeda pula. Misalnya buruh berisiko lebih besar terkena penyakit silikosis.

b. Adanya seleksi alamiah dalam memilih pekerjaan

Seseorang yang betrubuh lemah secara naluriah menghindari macam pekerjaan fisik yang berat, demikian sebaliknya yang bertubuh kuat.

c. Adanya perbedaan status sosial ekonomi

Perbedaan pekerjaan menyebabkan perbedaan status sosial ekonomi sehigga menyebabkan perbedaan penyakit yang dideritanya.

7. Status Marital

Adanya hubungan antara status marital dengan frekuensi distribusi morbiditas telah lama diketahui, tetapi penyebab pastinya belum diketahui. Ada yang berpendapat bahwa hubungan status marital dengan morbiditas dikaitkan dengan faktor psikis, emosional, dan hormonal atau berkaitan dengan kehidupan seksual, kehamilan, melahirkan, dan laktasi.

Lebih banyak ditemukan pada perempuan yang tidak menikah dibandingkan dengan perempuan yang menikah, sebaliknya karsinom serviks lebih banyak ditemukan pada perempuan yang menikah daripada yang tidak menikah atau menikah pada usia yang sangat muda atau sering berganti pasangan. Kehamilan dan persalinan merupakan merupakan faktor risiko terjadinya eklamsia dan praeklamsia yang dapat menyebabkan kematian ibu. Angka kematian ibu di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain.

8. Golongan Darah ABO

Golongan darah juga dapat mempengaruhi insidensi suatu penyakit, misalnya orang-orang dengan golongan darah A meningkatkan risiko terserang karsinoma lambung, sedangkan golongan darah O lebih banyak terkena ulkus duodeni.

B. Time (Waktu)

Variabel waktu merupakan faktor kedua yang harus diperhatikan ketika melakukan analisis morbiditas dalam studi epideiologi karena pencatatan dan laporan insidensi dan prevalensi penyakit selalu didasarkan waktu, apakah mingguan, bulanan atau tahunan.

Laporan morbiditas ini menjadi sangat penting artinya dalam epidemiologi karena didasarkan pada kejadian yang nyata dan bukan berdasarkan perkiraan atau estimasi. Selain itu dengan pencatatan dan laporan morbiditas dapat diketahui adanya perubahan-perubahan insidensi dan prevalensi penyakit hingga hasilnya dapat digunakan untuk menyusun perencanaan dan penanggulangan masalah kesehatan.

Mempelajari morbiditas berdasarkan waktu juga penting untuk mengetahui hubungan antara waktu dan insiden penyakit atau fenomena lain, misalnya penyebaran penyakit saluran pernapasan yang terjadi pada waktu malam hari karena terjadinya perubahan kelembaban udara atau kecelakaan lalu lintas yang sebagian besar terjadi pada waktu malam hari.

Pengetahuan tentang penyebaran masalah kesehatan menurut waktu akan membantu dalam memahami:

a. Kecepatan perjalanan penyakit

Apabila suatu penyakit dalam waktu yang singkat menyebar dengan pesat, berarti perjalanan penyakit tersebut berlangsung cepat.

b. Lama terjangkitnya suatu penyakit

Lama terjangkitnya suatu penyakit dapat pula diketahui dari penyebaran penyakit menurut waktu, yakni dengan memanfaatkan keterangan tentang waktu terjangkitnya penyakit dan keterangan tentang waktu lenyapnya penyakit tersebut.

Penyebaran masalah kesehatan menurut waktu dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:

a. Sifat penyakit yang ditemukan

Secara umum disebutkan bahwa penyakit infeksi lebih cepat menyebar daripada penyakit bukan infeksi. Hal yang berperan di sini adalah sifat bibit penyakit yang ditemukan yang dibedakan atas patogenisiti, virulensi, antigenisiti, dan infektiviti.

b. Keadaan tempat terjangkitnya penyakit

Untuk penyakit infeksi keadaan yang paling penting adalah yang menyangkut ada tidaknya reservoir bibit penyakit, yang jika dikaitkan dengan keadaan tempat terjangkitnya penyakit disebut dengan nama environmental reservoir yakni lingkungan alam di sekitar manusia.

c. Keadaan penduduk

Penyebaran masalah kesehatan menurut waktu juga dipengaruhi oleh keadaan penduduk, baik yang menyangkut ciri-ciri manusianya dan ataupun yang menyangkut jumlah dan penyebaran penduduk tersebut.

d. Keadaan pelayanan kesehatan yang tersedia

Jika keadaan pelayanan kesehatan baik, maka penyebaran suatu masalah kesehatan dapat dicegah sehingga waktu terjangkitnya penyakit dapat diperpendek.

Fluktuasi insiden penyakit yang diketahui terdiri dari:

1. Variasi Jangka Pendek

a. Sporadis

Kejadian ini relatif berlangsung singkat, umumnya berlangsung di beberpa tempat, dan pada waktu pengamatan masing-masing kejadian tidak saling berhubungan, misalnya dalam proses penyebarannya. Contoh: penyebaran penyakit DHF

b. Endemis

Penyakit menular yang terus menerus terjadi di suatu tempat atau prevalensi suatu penyakit yang biasanya terdapat di suau tempat.

c. Pandemis

Penyakit yang berjangkit/menjalar ke beberapa negara atau seluruh benua. Misalnya: Flu (1914), Kholera (1940), AIDS (1980), SARS (2003).

d. Epidemis

Kenaikan kejadian suatu penyakit yang berlangsung secara cepat dan dalam jumlah yang secara bermakna melebihi insidens yang diperkirakan.

2. Variasi Berkala

a. Kecendrungan sekuler (secular trend)

Kecendrungan sekuler ialah terjadinya perubahan penyakit atau KLB dalam waktu yang lama. Lamanya waktu dapat bertahun-tahun sampai beberapa dasawarsa. Kecendrungan sekuler dapat terjadi pada penyakit menular maupun penyakit infeksi nonmenular. Misalnya, terjadinya pergeseran pola penyakit menular ke penyakit yang tidak menular yang terjadi di negara maju pada beberapa dasawarsa terakhir.

Pengetahuan tentang perubahan tersebut dapat digunakan dalam penilaian keberhasilan upaya pemberantasan dan pencegahan penyakit. Kecendrungan sekuler juga dapat digunakan unuk mengetahui perubahan yang terjadi pada mortalitas.

Dalam mempelajari kecendrungan sekuler tentang mortalitas, harus dikaitkan dengan sejauh mana perubahan insiden dan sejauh mana perubahan tersebut menggambarkan kelangsungan hidup penderita.

Angka kematian akan sejalan dengan angka insiden (insidence rate) pada penyakit yang fatal dan bila kematian terjadi tidak lama setelah diagnosis, misalnya karsinoma paru-paru, karena memenuhi kriteria di atas.

b. Variasi siklik

Variasi siklik ialah terulangnya kejadian penyakit setelah beberapa tahun, tergantung dari jenis penyakitnya, misalnya epidemi campak biasanya berulang setelah 2-3 tahun kemudian. Variasi siklik biasanya terjadi pada penyakit menular karena penyakit noninfeksi tidak mempunyai variasi siklik.

c. Variasi musim

Variasi musim ialah terulangnya perubahan frekuensi insidensi dan prevalensi penyakit yang terjadi dalam 1 tahun. Dalam mempelajari morbiditas dan mortalitas, variasi musim merupakan salah satu hal yang sangat penting karena siklus penyakit terjadi sesuai dengan perubahan musim dan berulang setiap tahun.

Variasi musim sangat penting dalam menganalisis data epidemiologi tentang kejadian luar biasa untuk menentukan peningkatan insidensi suatu penyakit yang diakibatkan variasi musim atau memang terjadinya epidemi. Bila adanya variasi musim tidak diperhatikan, kita dapat menarik kesimpulan yang salah tentang timbulnya KLB.

Disamping itu, pengetahuan tentang variasi musim juga dibutuhkan pada penelitian epidemiologi karena penelitian yang dilakukan pada musim yang berbeda akan menghasilkan frekuensi distribusi penyakit yang berbeda pula. Penyakit-penyakit yang mempunyai variasi musim antara lain: diare, influenza, dan tifus abdominalis.

Beberapa ahli memasukkan variasi musim ke dalam variasi siklik karena terjadinya berulang, tetapi di sini dipisahkan karena pada variasi musim, terulangnya perubahan insidensi penyakit dalam waktu yang pendek sesuai dengan perubahan musim, sedangkan pada variasi siklik fluktuasi perubahan insiden penyakit terjadi lebih lama yaitu suatu penyakit dapat terulang 1 atau 2 tahun sekali.

d. Variasi random

Variasi random diartikan sebagai terjadinya epidemi yang tidak dapat diramalkan sebelumnya, misalnya epidemi yang terjadi karena adanya bencana alam seperti banjir dan gempa bumi.

C. Place (Tempat)

Variabel tempat merupakan salah satu variabel penting dalam epidemiologi deskriptif karena pengetahuan tentang tempat atau lokasi KLB atau lokasi penyakit- penyakit endemis sangat dibutuhkan ketika melakukan penelitian dan mengetahui sebaran berbagai penyakit di suatu wilayah sehingga dari keterangan yang diperoleh akan diketahui:

a. Jumlah dan jenis masalah kesehatan yang ditemukan di suatu daerah.

b. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan di suatu daerah.

c. Keterangan tentang faktor penyebab timbulnya masalah kesehatan di suatu daerah.

Batas suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan:

1. Geografis

Ditentukan berdasarkan alamiah, administratif atau fisik, institusi, dan instansi. Dengan batas alamiah dapat dibedakan negara yang beriklim tropis, subtropis, dan negara dengan empat musim. Hal ini penting karena dengan adanya perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan dalam pola penyakit baik distribusi frekuensi penyakit maupun jenis penyakit. Dari batas administratif dapat ditentukan batas propinsi, kabupaten, kecamatan atau desa dengan sungai, jalan kereta api, jembatan dan lainnya sebagai batas fisik.

2. Batas institusi

Dapat berupa industri, sekolah atau kantor, dan lainnya sesuai dengan timbulnya masalah kesehatan.

Contoh kejadian penyakit berdasarkan tempat yaitu:

a. TBC, pada daerah penduduk padat dengan sosial ekonomi rendah

b. Cholera, pada daerah penduduk padat dengan linkungan jelek

c. Asbestosis, pada pekerja pabrik asbes.

Penyebaran masalah kesehatan menurut tempat, secara umum terdiri dari:

1. Penyebaran satu wilayah

Masalah kesehatan hanya ditemukan di satu wilayah saja. Batasan wilayah yang dimaksudkan tergantung dari sistem kepemerintahan yang dianut. Misalnya satu kecamatan saja, satu kelurahan saja, dsb. Pembagian menurut wilayah yang sering dipergunakan adalah desa dan kota.

2. Penyebaran beberapa wilayah

Penyebaran beberapa wilayah tergantung dari sistem kepemerintahan yang dianut. Misalnya beberapa kecamatan saja, beberapa kelurahan saja, dsb.

3. Penyebaran satu negara (nasional)

Masalah kesehatan ditemukan di semua wilayah negara tersebut.

4. Penyebaran beberapa negara (regional)

Masalah kesehatan dapat menyebar ke beberapa negara. Masuk atau tidaknya suatu penyakit ke suatu negara dipengaruhi oleh faktor:

a. Keadaan geografis negara tersebut dalam arti apakah ditemukan keadaan-keadaan geografis tertentu yang menyebabkan suatu penyakit dapat terjangkit atau tidak di negara tersebut.

b. Hubungan komunikasi yang dimiliki, dalam arti apakah letak negara tersebut berdekatan dengan negara yang terjangkit penyakit, bagaiman sistem transportasi antar negara, hubungan antar penduduk, apakah egara tersebut terbuka untuk penduduk yang berkunjung dan menetap, dsb.

c. Peraturan perundangan yang berlaku, khususnya dalam bidang kesehatan.

5. Penyebaran banyak negara (internasional)

Masalah kesehatan ditemukan di banyak negara, yang pada saat ini dengan kemajuan sistem komunikasi dan transportasi amat sering terjadi.

Kepustakaan:

Azwar, azrul.1999. Pengantar Epidemologi. Jakarta: Binarupa Aksara

Budiarto, eko dkk. 2003. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Kasjomo, Subaris Heru dkk. 2008. Intisari Epidemiologi. Jakarta: Mitra Cendikia Press

Timmreck, Thomas C. dkk. 2005. Epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

epidemiologi hepatitis B


A. Definisi Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Mula-mula dikenal sebagai serum hepatitis dan telah menjadi epidemi pada sebagian Asia dan Afrika. Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan berbagai negara Asia. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut hepatitis akut sedangkan hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut hepatitis kronis.
Hepatis B nama lainnya adalah:
1. Serum hepatitis
2. Australia antigen hepatitis
3. Sebutan laboratorium HB

B. Transmisi Hepatitis B
Penyakit Hepatitis B disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB). Virus Hepatitis B dapat hidup dalam tubuh manusia dan simpanse. Tetapi binatang sebagai sumber virus alami, belum diketahui. Penularan Hepatitis B dapat terjadi melalui darah atau produk darah seperti penularan diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual). Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan.
Hepatitis B berpotensi menularkan virus ke orang lain, seperti melalui:
1. Darah
2. Bagian-bagian darah
3. Air ludah (saliva)
4. Cairan rongga paru (pleura)
5. Cairan rongga perut (peritoneum)
6. Cairan otak dan sumsum tulang belakang
7. Cairan sendi (synovia)
8. Cairan ketuban (amnion)
9. Cairan mani (semen)
10. Cairan kelamin perempuan (vagina)
Penularan virus bisa melalui:
1. Kulit
2. Jaringan bawah kulit
3. Pembuluh darah (intravena)
4. Melalui otot (intramuscular)
5. Jaringan tubuh yang diawetkan (fioksasi)
6. Jalur tangan-tinja-mulut (oral-fecal route)
7. Penularan melalui gigitan serangga belum bias dibuktikan
Masa inkubasi:
1. Biasanya 45-180 hari dengan batas 60-90 hari
2. Paling cepat 2 minggu setelah infeksi virus Hepatitis B, sudah bias dideteksi HbsAg dalam darah penderita
3. perubahan infeksi akut menjadi kronis, sesuai dengan umur penderita. Makin tua umur, makin besar kemungkinan menjadi kronis, kemudian berlanjut menjadi pengerutan jaringan hati (sirosis). Bila umur masih berlanjut, berubah menjadi keganasan kanker hati.
4. Diperkirakan 15-25% penderita Hepatitis B kronis akan meninggal premature.penderita Hepatitis B tidak selalu didahului jelas menderita Hepatitis B dengan jaundice (sakit kuning)
5. kanker hati primer, 80% disebabkan infeksi Hepatitis B yang berubah menjadi kronis yang lama-lama menjadi kronis, yang berlanjut menjadi pengerutan jaringan hati (sirosis) dan selanjutnya menjadi kanker hati yang fatal.

C. Gejala dan Diagnosa Hepatitis B
Gejala hepatits B secara umum, mulai dari yang ringan mirip flu sampai yang fullminant dan terjadi kerusakan jaringan hati sampai meninggal.
1. Hanya sebagian kecil penderita yang terinfeksi virus Hepatitis B yang menunjukkan sakit dan gejala terlihat gejala klinis.
2. Pada penderita anak-anak hanya 10% yang memperlihatkan gejala kuning dibandingkan dengan penderita dewasa yang sampai 30-50% penderita memperlihatkan gejala kuning.
Perjalanan Penyakit:
1. Perlahan-lahan nafsu makan turun disertai keluhan mual dan rasa tidak enak dalam perut.
2. Kadang-kadang dikeluhkan rasa sakit persendian
3. Bisa timbul bintik-bintik merah di kulit yang disusul gejala jaundice.
4. keluhan demam biasanya ringan atau mungkin malah tidak ada. Pada keadaan ini, pemeriksaan serologi dan fungsi hati merupakan penunjang diagnosa.
5. Pada beberapa penderita bisa penyakit berat (fulminant), dimana jaringan hati rusak dan bisa fatal (mematikan).
6. Kematian penderita hepatitis b sekitar 1% dan akan lebih tinggi pada usia lanjut.
7. Jenis hepatitis b yang fulminant, bisa terjadi pada penderita ibu hamil dan bayi baru lahir yang tertular hepatitis b dari ibunya.
8. Jenis hepatitis b yang khronis, merupakan jenis yang dikhawatirkan pada infeksi virus hepatitis b yang terjadi pada:
a. 1-2% penderita berusia dewasa
b. 90% penderita bayi baru lahir
c. 20-50% penderita berusia 1-5 tahun
d. 1-10% penderita anak lebih besar
Hepatitis B bisa kronis pada penderita yang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Seperti infeksi HIV, diperkirakan dalam setahun, jutaan manusia meninggal karena terinfeksi virus Hepatitis B dan penderita baru terinfeksi virus Hepatitis B tetap terjadi 4 juta orang tisp tahunnya.
Dibandingkan virus AIDS (HIV), virus Hepatitis B (HBV) seratus kali lebih ganas (infectious), dan sepuluh kali lebih banyak (sering) menularkan. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata.
Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati. Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi. Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi.
1. Secara serologi
Pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5).
2. Pemeriksaan virologi,
Dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum, sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus.
3. Pemeriksaan biokimiawi
Penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktifitas kroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif.
4. Pemeriksaan histologi
Menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral.
Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.
Seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium.
Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).Selanjutnya, dari hasil pemeriksaan nanti, kemudian dokter akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya.
Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap penyakit hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan. Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

D. Epidemiologi hepatitis B
Penularan Hepatitis B terjadi melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B. Penularan biasanya terjadi melalui beberapa cara antara lain, penularan dari ibu ke bayi saat melahirkan, hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, maupun penggunaan alat kebersihan diri (sikat gigi, handuk) secara bersama-sama.
Di dunia, setiap tahun sekitar 10-30 juta orang terkena penyakit Hepatitis B. Walaupun penyakit Hepatitis B bisa menyerang setiap orang dari semua golongan umur tetapi umumnya yang terinfeksi adalah orang pada usia produktif. Ini berarti merugikan baik bagi si penderita, keluarga, masyarakat atau negara karena sumber daya potensial menjadi berkurang.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Hepatitis B endemik di China dan bagian lain di Asia te rmasuk di Indonesia. Sebagian besar orang di kawasan ini bisa terinfeksi Hepatitis B sejak usia kanak-kanak. Di sejumlah negara di Asia, 8-10 persen populasi orang dewasa mengalami infeksi Hepatitis B kronik. Penyakit hati yang disebabkan Hepatitis B merupakan satu dari tiga penyebab kematian dari kanker pada pria, dan penyebab utama kanker pada perempuan.
Infeksi tersembunyi dari penyakit ini membuat sebagian besar orang merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi dan berpotensi untuk menularkan virus tersebut kepada orang lain. Penderita penyakit itu umumnya tidak mengalami gejala tertentu yang khas, dan baru bisa diketahui melalui tes kesehatan. Oleh karena itu, penderita dan kelompok yang memiliki faktor risiko hepatitis B perlu menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Presiden Perkumpulan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Prof Dr Laurentius A Lesmana, mengungkapkan tingkat prevalensi penyakit hepatitis B di Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Secara keseluruhan jumlahnya mencapai 13,3 juta penderita. Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Provinsi tahun 2003 (lampiran), di Indonesia jumlah kasus Hepatitis B sebesar 6.654 sedangkan di Sumbar 649, berada pada urutan ke tiga setelah DKI Jakarta dan Jatim.Dari sisi jumlah, Indonesia ada di urutan ketiga setelah Cina (123,7 juta) dan India (30-50 juta) penderita. Tingkat prevalensi di Indonesia antara 5-10%.
Pada level dunia, penderita hepatitis B memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Menurut Prof Lesmana, jumlah penderita hepatitis B di kawasan Asia Pasifik memang lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Hal itu bisa terjadi karena di Eropa atau Amerika, hepatitis B diderita oleh orang dewasa. Sedangkan di Asia Pasifik umumnya diidap oleh kalangan usia muda.
Pertumbuhan penderita hepatitis B tersebut, lanjut Prof Laurentius dipengaruhi oleh masalah demografi, social dan faktor lingkungan. Di sisi lain juga karena faktor virus yaitu genotip dan mutasi virus. Secara genotip, Indonesia merupakan daerah menonjol untuk jenis hepatitis B dan C.
Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya. Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular.
1. Secara vertikal, terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.
2. Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama serta hubungan seksual dengan penderita.
Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang diterima dari pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang diterima terkena reaktif Hepatitis, Sipilis terlebih-lebih HIV/AIDS.

Prevalensi infeksi virus Hepatitis B
1. Di Amerika diperkirakan 0,5% orang dewasa sudah terinfeksi virus Hepatitis B. Atau, dari 200 orang, 1 orang diantaranya sudah terinfeksi virus Hepatitis B.
2. Di Negara dengan tingkat prevalensi tinggi (Hbs Ag>8%), penularan banyak terjadi pada bayi baru lahir dan anak yang masih usia muda.
3. Di Negara dengan tingkat prevalensi sedang (Hbs Ag 2-7%) penularan bisa terjadi pada semua golongan umur.
4. Di Negara dengan prevalensi rendah (Hbs Ag <2%) infeksi seringnya terjadi pada kelompok umur dewasa.

E. Pencegahan dan Penanggulangan Hepatitis B
1. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
2. Hindari kontak atau penularan melalui suntikan, tato, hubungan seksual tidak aman,dll.
3. Penggunaan jarum sekali pakai
4. pemeriksaan darah donor terhadap hepatitis virus
5. vaksinasi hepaititis B
Kebanyakan infeksi virus Hepatitis B tidak bisa dicegah dengan pemberian vaksinasi Hepatitis B karena:
a. Kejadian infeksi pada usia anak yang tertular dari ibu dengan HbsAg negative.
b. Penularan terjadi pada pelaku homoseksual, pengguna obat narkotik suntikan dan petugas laboratorium yang sehari-hari bekerja mengolah darah, pada pasien yang mendapat cuci darah.
c. Penularan virus Hepatitis B terjadi melalui transfuse darah.
Di Indonesia, darah yang dipakai untuk transfusi darah disaring dengan pemeriksaan HbsAg.
Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.
Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.

Saat ini, pengobatan hepatitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi. Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine. Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi.

kepustakaan:

Terapi Hepatitis B dengan Obat Lini Depan.2007. Diakses dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=172376

Waspadai Virus “Pintar” Penyebab Kanker Hati. 2008 Diakses dari: http://www.dinkessumbar.org/index.php?file_id=14&class=news&act=read&news_id=296

Yatim, Faisal. 2007. Macam-macam Penyakit Menular & Cara pencegahannya. Jakarta: Pustaka Obor Populer

Hepatitis. Diakses dari: Pusat informasi penyakit infeksi, http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=37

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai