BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. KLB ini merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Kejadian Luar Biasa atau wabah masih sering terjadi di daerah-daerah di wilayah Indonesia. Kejadian ini mempunyai karakter tersendiri karena kejadiannya sangat mendadak, mengenai banyak orang dan dapat menimbulkan kematian yang tinggi bila tidak ditanggulangi dengan segera.
Salah satu penyakit yang masih sering menimbulkan KLB atau wabah adalah penyakit rabies. Penyakit rabies merupakan penyakit zoonotik yang sangat penting artinya bagi kesehatan masyarakat karena mengakibatkan kematian pada penderita apabila tidak mendapatkan perawatan medis. Hampir sebagian besar wilayah di Indonesia masih dinyatakan sebagai daerah tertular rabies. Upaya pemberantasan rabies yang dilakukan pemerintah masih banyak mengalami kendala. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut maka penulis tertarik untuk membahas tentang epidemiologi rabies dan investigasi KLB/wabah rabies di Indonesia.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai studi kasus investigasi KLB/wabah rabies. Disamping itu juga bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan dalam bidang ilmu Investigasi Wabah.
C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari pemakalahan ini adalah :
- Menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai studi kasus investigasi wabah rabies secara lebih terperinci.
- Sebagai bahan bacaan atau literatur institusi pendidikan Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya serta masyarakat pada umumnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Rabies
Rabies merupakan salah satu penyakit infeksi pada manusia yang paling lama dikenal. Istilah rabies sudah dikenal sejak zaman Babilonia sekitar abad ke-23 SM dan Democritus menulis secara jelas tentang hewan yang menderita rabies pada tahun 500 SM. Tulisan tentang rabies pada manusia dengan gejala hidrofobia dibuat oleh Celsus pada abad pertama dan gejala klinis rabies ditulis secara jelas oleh dokter Italia bernama Fracastoro pada abad ke-16. Pada tahun 1880 Louis Pasteur mendemonstrasikan adanya infeksi pada susunan saraf pusat (SSP) sedangkan virus rabies sendiri baru dapat diperlihatkan dengan mikroskop elektron pada tahun 1960.(1)
Rabies adalah infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf pusat manusia dan mamalia (ensefalitis virus) dengan mortalitas 100 %. Penyebabnya adalah virus rabies yang termasuk genus Lyssa virus, famili Rhabdoviridae. Virus rabies single stranded RNA berbentuk seperti peluru berukuran 180 x 75 nm. Rabies adalah kera, musang, serigala, raccoon, kelelawar. Virus masuk melalui kulit yang terluka atau melalui mukosa utuh seperti konjungtiva mata, mulut, anus, genitalia eksterna, atau transplantasi kornea. Infeksi melalui inhalasi virus sangat jarang ditemukan, pernah dilaporkan pada 3 kasus. (1)
Walaupun telah tersedia vaksin rabies yang efektif dan aman bagi manusia dan hewan sehingga rabies dapat dicegah (vaccine-preventable disease), sampai saat ini rabies masih menjadi masalah kesehatan penting di erbagai negara Asia, Afrika dan Amerika Latin mengingat ketersediaan vaksin dan imunoglobulin yang terbatas dan relatif mahal; sebagian besar pasien meninggal tanpa penanganan memadai. Boleh dikatakan rabies merupakan penyakit zoonosis mematikan yang terabaikan (neglected zoonotic disease). Tanggal 28 September telah ditetapkan oleh WHO sebagai hari rabies sedunia (World Rabies Day).(1)
B. Epidemiologi Rabies
Rabies adalah penyakit virus zoonotik yang menginfeksi domestik dan hewan liar. Hal ini ditularkan kepada binatang lain dan manusia melalui kontak dekat dengan air liur dari hewan yang terinfeksi (mis. gigitan, goresan, menjilat di atas pecahan kulit dan selaput lendir). Setelah gejala penyakit berkembang, rabies adalah fatal bagi hewan dan manusia. Gejala pertama rabies biasanya tidak spesifik dan menyarankan keterlibatan pernapasan, gastrointestinal dan / atau sistem saraf pusat. Pada tahap akut, tanda-tanda hiperaktif (marah rabies) atau paralysis (dumb rabies) mendominasi. Dalam kedua marah dan bodoh rabies, kelumpuhan pada akhirnya berkembang menjadi kelumpuhan lengkap diikuti dengan koma dan kematian dalam semua kasus, biasanya akibat kegagalan pernapasan. Kematian terjadi selama tujuh hari pertama sakit tanpa perawatan intensif. (2)
Di sebagian besar negara, hanya satu spesies hewan darat mempertahankan Rabies di alam (misalnya, rubah merah di Eropa Barat, anjing di kebanyakan negara berkembang). Di negara-negara tertentu, Namun, berbeda dan independen siklus hutan, dan abu-abu rubah di Amerika Serikat, musang, anjing, kelelawar, rubah, dan serigala di Afrika Selatan, anjing dan serigala di Iran, anjing dan rubah di Israel). Selain itu, seperti yang diamati di beberapa negara di mana hanya anjing rabies dilaporkan sebelumnya, satwa liar termasuk Rabies kelelawar mungkin muncul ketika insiden anjing rabies secara drastis dikurangi atau dihilangkan penyakit pada anjing (misalnya, Brasil, Korea Selatan, Amerika Serikat).(2)
Di sebagian besar negara-negara Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah, anjing terus menjadi host utama dan bertanggung jawab atas sebagian besar kematian rabies manusia yang terjadi di seluruh dunia. Sebaliknya, di Amerika utara, paling didokumentasikan Rabies manusia kematian terjadi sebagai akibat infeksi dari virus rabies kelelawar dan di Australia setidaknya dua kematian manusia telah terjadi dari pemaparan ke yang sebelumnya tidak dikenali virus rabies. (2)
Manusia juga terinfeksi rabies terinfeksi gigitan kucing, spesies karnivora liar seperti rubah, rakun, sigung, serigala dan serigala. Sapi, kuda, rusa dan herbivora lainnya dapat terinfeksi rabies dan walaupun mereka bisa menularkan virus kepada binatang lain dan manusia, hal ini jarang terjadi. (2)
Anak-anak adalah korban utama anjing rabies. Empat puluh persen dari orang (2)usia 5-15 tahun. Mayoritas gigitan yang tidak dilaporkan dan tidak dikenali oleh kedua orangtua dan pejabat kesehatan. Akibatnya, anak-anak tidak terkena sering menerima tepat waktu dan lengkap perawatan pasca pajanan, dan proporsi yang jauh lebih tinggi dari anak-anak muda kontrak dan mati terdiagnosis rabies dari perkiraan dari Asia. Strategi WHO untuk pencegahan rabies manusia yaitu dengan mempromosikan akses yang lebih luas sesuai perawatan pasca-paparan menggunakan kultur jaringan modern atau embrio unggas yang diturunkan dari vaksin Rabies melalui :(2)
- Penggunaan multisitus intradermal rejimen untuk mengurangi biaya perawatan pasca pajanan
- Mungkin produksi dalam negeri rabies biologis, yang pendek kritis pasokan global, terutama rabies immunoglobulin
- Melanjutkan pendidikan dan kesehatan hewan rabies profesional dalam pencegahan dan pengendalian
Rabies ditemukan pada hampir semua negara di dunia, kecuali Australia, Inggris, sebagian besar Skandinavia, Islandia, Yunani, Portugal, Uruguay, Chili, Papua Nugini, Selandia Baru, Brunai, Jepang, Taiwan. Jumlah kematian karena rabies di seluruh dunia diperkirakan mencapai 55.000 orang per tahun dan terbanyak di negara Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Eurasia.(1)
Negara endemis rabies antara lain India, Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, China, Filipina, Thailand, Indonesia, Meksiko, Brasilia, Amerika Serikat dan Amerika Tengah. Negara dengan kejadian rabies tertinggi di dunia adalah India dengan 30.000 kasus kematian per tahun atau 3 : 100.000 penduduk (1990 2002), kurang lebih 60 % dari kematian karena rabies di seluruh dunia. Sampai tahun 2001 di Indonesia terdapat 7 provinsi yang dinyatakan bebas rabies yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Bali, NTB, Maluku dan Papua. Tahun 2007 terdapat 10 provinsi dari 33 provinsi yang dinyatakan bebas rabies yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY Yogyakarta, Bali, NTB, Irjabar, Papua.(1)
Ilustrasi jumlah kematian orang karena rabies di setiap Negara di Asia tahun 2001 dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 1. Ilustrasi Jumlah Kematian Orang karena Rabies di Setiap Negara di Asia Tahun 2001
Sumber : Organisasi Kesehatan Dunia/WHO
Dari gambar tersebut terlihat bahwa jumlah kematian orang karena rabies di Asia yang paling tinggi (> 100.000) ditempati oleh India. Dari tahun 1997 sampai 2003 dilaporkan lebih dari 86.000 kasus gigitan hewan tersangka rabies di seluruh Indonesia (rata- rata 12.400 kasus per tahun) dan yang terbukti rabies 538 orang (rata-rata 76 kasus per tahun). Dari tahun 2004 sampai 2007 dilaporkan berturut-turut 1.308, 889, 1.708, 1.396 kasus gigitan hewan tersangka rabies di Indonesia. Kejadian sesungguhnya mungkin lebih besar karena sebagian pasien meninggal di rumah tanpa terdiagnosis. Di Provinsi Kalimantan Timur dari tahun 2001 sampai 2006 tercatat 15 kasus kematian karena rabies (data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur).(1)
Kejadian rabies lebih banyak pada laki-laki. Laporan dari India tahun 1992 2002 atas lebih dari 9.000 kasus menunjukkan 71,1 % pasien rabies adalah laki-laki; dewasa (> 14 tahun) lebih banyak daripada anak-anak (64,7 % : 35,3 %). Laki-laki lebih banyak kontak dengan hewan pembawa virus rabies sehubungan dengan kegemaran memelihara hewan dan aktivitas di luar rumah, seperti bekerja di ladang, bekerja di hutan, berburu. Di Indonesia hewan penggigit yang paling banyak adalah anjing (90 %), kucing (6 %), monyet dan lain-lain (4 %).(1)
Penelitian di India menunjukkan hewan penggigit adalah anjing (96,2 %), kucing (1,7 %), hewan lain (2,1 %). Di Brazilia hewan penggigit terbanyak adalah serigala, anjing, kucing dan kelelawar. Pada bulan Juli – September 2005 dilaporkan 6 kematian karena rabies yang disebabkan oleh gigitan kelelawar vampir (Desmodus rotundus) di daerah pedesaan Alto Turi, Provinsi Maranhao, Brazilia; di daerah ini gigitan kelelawar vampir sering terjadi (3,9% populasi atau lebih dari 900 orang selama tahun 2004). Harijanto dari Sulawesi Utara mendapatkan bahwa kasus rabies paling banyak terjadi karena gigitan anjing di ekstremitas bawah. Penelitian di India yang mencakup lebih dari 9.000 kasus selama 10 tahun menunjukkan lokasi gigitan terbanyak adalah ekstremitas bawah (56,2 %), ekstremitas atas (20,9 %) dan tangan (17,0 %), lokasi lain adalah kepala/ leher (11,5 %), badan (1,7 %), lain-lain (2,1 %).(1)
Berikut ini adalah peta dunia yang menggambarkan kejadian rabies pada tahun 2007. Pada gambar tersebut terlihat bahwa hampir seluruh Negara di belahan dunia terserang oleh kasus rabies. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar berikut.
Gambar 2. Presence/Absence of Rabies in 2007
Sumber : Organisasi Kesehatan Dunia/WHO
Sedangkan negara yang beresiko rabies di dunia dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 3. Rabies, Countries at Risk
Sumber : WHO
Pada ganbar tersebut terlihat bahwa hamper semua benua di dunia beresiko tinggi terhadap rabies. Benua Asia dan Afrika sebagian besar berada pada zona resiko tinggi terhadap rabies.
1. Gambaran Klinis
Gejala klinis rabies terbagi 4 stadium berdasarkan diagnosa klinik :(3)
- Stadium Prodroma, dengan gejala awal demam, malaise, mual dan rasa nyeri tenggorokan. Dan biasanya sulit didiagnosa.
- Stadium sensoris, rasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka. Diikuti gejala cemas dan reaksi berlebihan terhadap rangsangan sensorik.
- Stadium exitasi, tonus otot-otot aktifitas simpatis jadi meninggi, gugup, kejang, sakit kepala berat, sulit menelan, hipersalivasi, keringat banyak (hiperhidrosis), hidrophobi, photophobi, aerophobia.
- Stadium Paralyse, terjadi inkontinensia urine, paralyse ascendens, koma dan meninggal karena kelumpuhan otot pernafasan.
2. Etiologi
Virus Rabies termasuk golongan Rhabdovirus, berbentuk peluru dengan komposisi RNA, Lipid, Karbohidrat dan Protein. Sifat virus rabies cepat mati dengan sinar ultraviolet dan zat pelarut lemak serta di luar jaringan hidup, dapat diinaktifkan dengan B-propiolakton, phenol, halidol azirin, tahan hidup dalam beberapa minggu di dalam gliserin pada suhu kamar. (3)
3. Masa Inkubasi dan Patogenitas
Masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi, mulai dari 7 hari sampai lebih dari 1 tahun, rata-rata 1-2 bulan, tergantung jumlah virus yang masuk, berat dan luasnya kerusakan jaringan tempat gigitan, jauh dekatnya lokasi gigitan ke sistem saraf pusat, persarafan daerah luka gigitan, sistem kekebalan tubuh. Pada gigitan di kepala, muka, leher 30 hari; gigitan di lengan, tangan, jari tangan 40 hari; gigitan di tungkai, kaki, jari kaki 60 hari (Webster).(1)
Penelitian epidemiologis di India menunjukkan pada gigitan di ekstremitas bawah masa inkubasi 15 545 hari (rata-rata 75 hari), sedangkan gigitan pada tangan 8-360 hari (rata-rata 60 hari), gigitan pada badan rata-rata 45 hari, dan gigitan pada kepala/wajah 12-180 hari (rata-rata 22 hari). Masa inkubasi kebanyakan 3- 90 hari (53,2 %), 15 30 hari (17,9 %), 91-180 hari (14,0 %), masa inkubasi antara 0-14 hari 5,1 %, 181- 365 hari 5,1 %, lebih dari 1 tahun 4,7 %. Data menunjukkan 85 % kasus masa inkubasinya antara 2 minggu sampai 6 bulan. Penelitian lain di Bangalore, India menunjukkan 95 % kasus masa inkubasinya < 6 bulan.(1)
Penyebaran virus secara sentripetal melalui endoneurium sel Schwann dan aliran aksoplasma, mencapai ganglion dorsalis dalam waktu 60 72 jam. Selanjutnya virus menyebar dengan kecepatan 3 mm/ jam menuju SSP (otak dan medula spinalis) melalui cairan serebrospinal. Di otak virus memperbanyak diri di semua neuron, kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen, saraf volunteer maupun saraf otonom, selanjutnya mencapai otot skeletal, otot jantung, medula adrenal, ginjal, mata, pankreas. Pada tahap berikutnya virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, sistem respirasi, urin dan air susu.(1)
4. Sumber dan Cara Penularan
Sumber penyakit Rabies adalah anjing, kucing, kera serta hewan liar lainnya (fox, raccoon, harimau, kelelawar). Cara penularan melalui gigitan dan non gigitan (aerogen, transplantasi, kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa). (3)
5. Prognosis
Kematian karena rabies boleh dikatakan 100 % bila virus sudah mencapai sistem saraf. Dari tahun 1875 sampai 1972 dilaporkan 10 pasien sembuh dari rabies namun sejak tahun 1972 sampai sekarang belum ada pasien rabies yang dilaporkan hidup.(1)
Berbagai penelitian dari tahun 1986 sampai 2000 yang melibatkan lebih dari 800 kasus gigitan anjing rabies yang segera mendapat Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) menunjukkan angka survival 100 %. Data dari India yang (1)kasus rabies), menunjukkan hanya 20,9 % pasien mendapat VAR dan hanya 1,3 % mendapat SAR, 40,5 % pasien tidak mendapatkan terapi sama sekali; hanya 55,8 % pasien yang sempat dirawat di rumah sakit dan 50,6 % pasien dilaporkan meninggal di menunjukkan 1.617 kasus gigitan anjing yang dilaporkan dan 855 (52,9 %) pasien mendapat VAR. (1)
6. Pengobatan
Setiap kasus gigitan hewan penular rabies ditangani dengan cepat melalui pencucian luka gigitan dengan sabun/detergen lain, kemudian diberikan antibiotic. Penyuntikan dengan Vaksin Anti Rabies diberikan pada hari ke 0 sebanyak 2 dosis secara intramuskuler (i.m) di lengan kiri dan kanan. Suntikan kedua dilanjutkan pada hari ke 7 sebanyak 1 dosis dan hari ke 21 sebanyak 1dosis. (3)
Kombinasi VAR dan SAR, SAR diberikan saat bersamaan dengan VAR pada hari ke 0, sebagian disuntikan pada bekas luka gigitan dan sisanya disuntikan secara i.m pada bagian tubuh lain yang letaknya berbeda dengan penyuntikan VAR. Pemberian booster VAR pada hari ke 30 sebanyak 1dosis. (3)
Penanganan meliputi isolasi pasien untuk menghindari rangsangan yang menimbulkan spasme otot dan mencegah penularan; penanganan luka dengan pencucian, desinfeksi, debridement, pemberian tetanus toksoid atau tetanus imunoglobulin serta antibiotik; pemberian vaksin anti rabies (VAR) dan atau serum anti rabies (SAR); terapi simptomatik dan suportif seperti pemberian sedatif, analgetik, antikonvulsan; terapi terhadap komplikasi respirasi dan kardiovaskuler seperti pemasangan ventilator, defibrilasi.(1)
Vaksin rabies dianjurkan diberikan pada semua orang dengan riwayat kontak dengan hewan pengidap rabies, kecuali kontak hanya jilatan pada kulit utuh. Vaksin rabies yang lazim saat ini adalah tissue culture vaccine, suatu inactivated vaccine yang ditumbuhkan pada kultur sel seperti human diploid cell vaccine (HDCV), diproduksi sejak tahun 1964 dengan nama dagang Imovax®, purified vero cell rabies vaccine (PVRV), diproduksi mulai tahun 1985 dengan nama Verorab®, purified chick embryo cell vaccine (PCEC) dengan nama Rabipur® yang mulai dipasarkan tahun 1985. Vaksin generasi lama seperti suckling mouse brain vaccine (SMBV), suatu nerve tissue vaccine dan duck embryo vaccine (DEV), suatu non-nerve tissue vaccine, tidak digunakan lagi karena dapat menimbulkan komplikasi ensefalomielitis post-vaksinasi dan reaksi anafilaksis.(1)
Namun demikian nerve tissue vaccine masih diproduksi dan dipergunakan di beberapa negara Asia. WHO merekomendasikan pemberian VAR secara intramuskuler pada otot deltoid atau anterolateral paha 0,5 ml pada hari 0, 3, 7, 14, 28 (regimen Essen), sedangkan Depkes RI menganjurkan pemberian tiga kali pada hari 0, 7, 21 (regimen Zagreb). Karena mahalnya harga vaksin, di Thailand digunakan regimen Thai Red Cross Intradermal (TRC-ID), dengan pemberian 0,1 ml intradermal 2 dosis pada hari 0, 3, 7 kemudian 1 dosis pada hari 28 dan 90.22 Jika sudah mendapat vaksin rabies dalam 5 tahun terakhir, bila digigit anjing tersangka rabies, vaksin diberikan hanya 2 dosis yaitu hari 0 dan 3, namun bila gigitan dikategorikan berat, vaksin diberikan lengkap.(1)
VAR dapat diberikan pada ibu hamil atau bayi. SAR diberikan pada orang dengan luka gigitan multipel, luka lebar dan dalam, jilatan pada mukosa, luka di leher dan kepala, jari tangan atau kaki, atau di genitalia. Human rabies immune globulin (BayRab®, Imogam®) diberikan dengan dosis tunggal 20 IU/ kgBB : setengah dosis infiltrasi daerah sekitar luka dan setengah dosis intramuskuler di tempat yang berlainan dengan suntikan VAR, diberikan pada hari yang sama dengan dosis pertama VAR. Pemberian VAR maupun SAR dapat menimbulkan efek samping ringan lokal maupun sistemik seperti nyeri, eritema, edema tempat suntikan, demam, nyeri kepala, mual, nyeri otot, nyeri sendi. Pada pemberian HDCV gejala seperti sindrom Guillain Barre sangat jarang terjadi, sedangkan ensefalomielitis tidak pernah dilaporkan lagi pada pemberian PVRV. Reaksi anafilaksis sangat jarang. (1)
Dalam dekade terakhir ini tidak ada perkembangan yang berarti dalam penanganan infeksi rabies. Jackson dkk menuliskan perlunya penanganan rabies secara lebih agresif dengan pemberian VAR, SAR, ribavirin, interferon alfa dan ketamin. (1)
7. Pencegahan
Diperlukan kontrol terhadap hewan pengidap rabies dan anjing liar, vaksinasi hewan peliharaan yang berpotensi terkena rabies, vaksinasi profilaksis (pre-exposure immunization) pada individu berisiko tinggi terpapar virus rabies seperti dokter hewan, pekerja di kebun binatang, petugas karantina hewan, penangkap binatang, petugas laboratorium penelitian yang bekerja dengan virus rabies dan wisatawan ke daerah endemis rabies seperti Meksiko, Thailand, Filipina, India, Sri Lanka.(1)
Beberapa penelitian menunjukkan risiko rabies karena gigitan anjing di daerah endemis 1 3,6 : 1000 wisatawan/ bulan. Vaksinasi profilaksis diberikan secara intramuskuler (0,5 ml) pada hari 0, 7 dan 28 lalu booster setelah 1 tahun dan tiap 5 tahun. Dosis VAR pada anak sama dengan orang dewasa. Pada wanita hamil dan menyusui sebaiknya vaksinasi profilaksis ditunda. Efektifitas vaksin dilaporkan mencapai 100 %. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah pencucian luka secara benar dan pemberian segera VAR dan SAR pada pasien yang mengalami gigitan hewan pengidap rabies karena bila virus sudah mencapai sistem saraf kematian mencapai 100 %.(1)
C. Upaya Penanggulangan KLB Rabies
-
- Penanggulangan : (3)
- Pencucian luka gigitan hewan penular rabies dengan sabun atau detergen dengan air mengalir selama 10-15 menit
- Penyuntikan dengan vaksin anti rabies diberikan pada hari ke 0 sebanyak 2 dosis secara intramuskuler di lengan kiri dan kanan. Suntikan ke dua dilanjutkan pada hari ke 7 sebnayak 1 dosis dan hari ke 21 sebanyak 1 dosis
- Membentuk dan mengaktifkan rabies center
- Melaksanakan vaksinasi pada anjing-anjing yang berpemilik dan eliminasi terhadap anjing yangtidak berpemilik
- Penyuluhan tentang bahaya rabies serta pencegahannya kepada masyarakat
- Pembatasan laulintas hewan penular rabies
- Surveilans ketat pada KLB : (3)
- Perkembangan jumlah kasus gigitan dan kasus rabies
- Perkembangan populasi hewan tersangka rabies D. Sistem Kewaspadaan Dini KLB Rabies (3)
- Jumlah kasus gigitan hewan tersangka rabies
- Jumlah populasi hewan penular rabies
- Jumlah populasi hewan tersangka rabies
- Pengawasan lalu lintas hewan antar daerah
BAB III
INVESTIGASI RABIES
A. Situasi Rabies di Indonesia
1. Situasi Rabies Berdasarkan Waktu
Penyakit rabies telah menyerang hampir di semua provinsi di Indonesia. Jumlah kasus gigitan hewan penular rabies (GPHR) pada tahun 2005 sebanyak 17.651 kasus, tahun 2006 sebanyak 15.814 kasus, tahun 2007 sebanyak 9.746 kasus. Jumlah pemberian vaksin anti rabies sebanyak 11.514 pada tahun 2005, 10.536 tahun 2006, 6.137 pada tahun 2007. Sedangkan jumlah kasus penyakit rabies yang menyebabkan kematian (Lyssa) sebanyak 147 kasus pada tahun 2005, 136 kasus pada tahun 2006, dan 87 kasus pada tahun 2007. Pada grafik dibawah ini terlihat situasi rabies di Indonesia yang menggambarkan perubahan kasus GHPR, jumlah pemberian VAR dan kasus yang menyebabkan lyssa dari tahun ke tahun (2001-2007).(4-6)
Grafik 1. Situasi Rabies di Indonesia Tahun 2001-2006
Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2005-2007) terjadi penurunan kasus GHPR. Dari 17.651 menjadi 9.746. Pola serupa terjadi pada indikator VAR dari 11.514 menjadi 6.137. kasus rabies yang menyebabkan kematian juga menurun dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2005 terdapat 147 kasus yang kemudian turun menjadi 136 kasus pada tahun 2006. Angka ini kembali turun menjadi 87 kasus pada tahun 2007. (4-6) untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Grafik 2. Situasi Rabies di Indonesia Tahun 2003-2007
Kasus rabies di Kota Padang pada tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas sebanyak 236 kasus gigitan, dan pada Rumah Sakit ada 191 gigitan. Jumlah yang mendapatkan VAR, Puskesmas sebanyak 149 Kuer dan Rumah sakit sebanyak 191 Kuer. Kasus gigitan Rabies terbanyak ada pada wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya, Andalas, dan Nanggalo. Sedangkan Puskesmas Air Tawar bebas kasus gigitan Rabies. Dari semua kasus ini specimen yang positif sebanyak 7 kasus, dan menyebabkan kematian 1 orang di wilayah Puskesmas Pemancungan. (7)
Tingginya populasi anjing di Kota Padang, maka kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) juga cukup tinggi. Untuk mencegah terjadinya penyakit rabies, disamping melakukan pemeliharaan hewan dengan baik, dengan pemberian vaksinasi secara rutin dan tidak dibiarkan lepas, juga pada setiap kasus gigitan HPR harus ditangani dengan baik dan benar, dimana setiap kasus gigitan HPR, penanganan yang utama sesegeranya mencuci luka / bekas gigitan dengan sabun dan air mengalir selama ± 10 – 15 menit dan diberikan VAR sesuai dengan protap yang ada. Apabila HPR bisa di observasi, dilakukan observasi selama 14 hari. Bila hewan tersebut menderita rabies, akan mati setelah beberapa hari menggigit, maka penderita harus diberikan VAR. (7)
Bila HPR tidak bisa diobservasi karena hilang, maka penderita yang digigit HPR juga diberikan VAR. Untuk pemberian SAR melihat tempat luka / besar / luas gigitan. Pada luka yang besar dan banyak serta serta tempat gigitan yang dekat ke kepala selain pemberian VAR juga diiringi dengan pemberian SAR. Untuk tahun 2007 ini jumlah kasus gigitan HPR cukup tinggi, yaitu sebanyak 427 kasus dan yang diberi VAR sebanyak 340 kasus. Dari seluruh kasus tersebut yang positif rabies sebanyak 7 kasus dan meninggal 1 kasus. Kasus ini naik dibanding tahun 2006 sebanyak 340 kasus yang diberi VAR sebanyak 201 kasus dan turun dibanding tahun 2005 sebanyak 487 kasus dan yang diberi VAR sebanyak 381 kasus. (7)
Ilustrasi penyebaran Rabies di Indonesia berdasarkan awal tahun penyebarannya di setiap provinsi dapat dilihat pada gambar berikut.(8)
Gambar 4. Ilustrasi Penyebaran Rabies di Indonesia Pasca 1945 sampai Tahun 2005 berdasar awal tahun penyebarannya di Setiap Provinsi
Sumber : WHO
2. Situasi Rabies Berdasarkan Tempat
Jumlah kabupaten/kota terjangkit rabies di Indonesia pada tahun 2005 sebanyak 186 kabupaten/kota. Pada awal tahun 2005 terjadi KLB rabies di provinsi kalimantan barat dan maluku utara yang pada tahun sebelumnya masih merupakan daerah bebas rabies, sehingga saampai saat ini rabies telah terjangkit di 22 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia. Peta daerah tertular rabies tahun 2005 dapat dilihat pada gambar berikut:(4)
Gambar 5.
Pada tahun 2006, jumlah kabupaten/kota terjangkit rabies sebanyak 199 kabupaten/kota dari 23 provinsi. Bertambah beberapa kabupaten/kota yang terjangkit rabies bila dibandingkan tahun 2005. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar di bawah ini.(5)
Gambar 6. Daerah Tertular Rabies Tahun 2006
Sumber Ditjen PP-PL, Depkes RI
Situasi penyakit rabies ditinjau dari kasus GHPR dan lyssa di Indonesia per proinsi tahun 2005 terlihat pada grafik di bawah ini. Dari grafik, provinsi yang memiliki jumlah kasus GHPR paling tinggi adalah NTT, sedangkan Lyssa yang tertinggi adalah pada provinsi Sulawesi Tengah. Untuk lebih jelas dapat dilihat grafik di bawah ini.(4)
Grafik 3. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan Lyssa Per Provinsi di Indonesia Tahun 2005
Sedangkan, situasi penyakit rabies ditinjau dari kasus GHPR dan lyssa di Indonesia per proinsi tahun 2006 terlihat pada grafik di bawah ini. Dari grafik, provinsi yang memiliki jumlah kasus GHPR paling tinggi dilaporkan dari sumatera barat (2.538 kasus) sedangkan terkecil adalah banten (10 kasus). Kasus penyakit rabies yang menyebabkan kematian pada manusia (lyssa) terbanyak dilaporkan dari Sulawesi utara (21 kasus) dan Sulawesi tengah (15 kasus). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik di bawah ini.(5)
Sumber : Ditjen PP-PL Depkes RI
Grafik 4. Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan Lyssa per Provinsi di Indonesia Tahun 2006
Gambar 7. Daerah Tertular dan Daerah Bebas Rabies di Indonesia berdasar Kabupaten dan Tingkat Prevalensinya tahun 2005
Gambar 8. Jumlah Spesimen Positif Rabies Pada Hewan
Tahun 2000-2007
Jumlah specimen positif rabies berfluktuasi selama tahun 2000-2007. Jumlah specimen positif pada tahun 2007 sebanyak 1.396. angka ini turun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.708. sepanjang tahun 2007 terdapat beberapa provinsi yang berhasil menekan jumlah lyssa menjadi 0 kasus. Provinsi tersebut antara lain: jawa barat, sumatera selatan, Bengkulu, Kalimantan barat, Kalimantan tengah, dan Kalimantan selatan.(6)
B. Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Dan Kasus Rabies Di Wilayah Kerja Puskesmas Kotapadang Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2006
Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Menular dan Gigitan Hewan Tersangka Rabies (GHTR) masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat kecamatan Kota padang. Pada Tahun 2006 di wilayah puskesmas Kotapadang KLB diare dan kasus gigitan hewan tersangka rabies mengalami peningkatan. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar, disamping juga berdampak pada ekonomi dan social masyarakat. (9)
Penyakit Rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Ditularkan oleh hewan penular Rabies terutama anjing, kucing dank era melalui gigitan, aerogen, trnsplantasi atau kontak dengan bahan yang mengandung virus rabies pada kulit yang lecet atau mukosa. Angka kematian (CFR) mencapai 100% dengan menyerang pada semua umur dan jenis kelamin. Kekebalan alamiah pada manusia sampai saat ini belum diketahui. (9)
Telah terjadi KLB jika memenuhi salah satu kriteria : (9)
- Peningkatan jumlah kasus gigitan hewan tersangka rabies menurut periode waktu (mingguan/harian) di suatu kecamatan, desa/kelurahan dibandingkan dengan periode sebelumnya.
- Terdapat satu kasus klinis Rabies pada manusia yang ditandai denga Hydrophobia.
Pada tahun 2006 telah terjadi kasus rabies (gigitan anjing) di wilayah kerja Puskesmas Kota padang Kecamatan Kotapadang sebanyak 12 kasus tanpa kematian. Pada grafik di bawah ini dapat dilihat distribusi frekuensi kasus rabies (Gigitan Hewan Tersangka Rabies) mulai minggu ke 25 – minggu ke 50 tahun 2006. Frekuensi Kasus Gigitan Hewan Tersangka Rabies Minggu Ke 25 – 50 Tahun 2006. (9)
Data yang diperoleh didapat dari laporan Puskesmas Pembantu (Pustu), tenaga kesehatan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kotapadang dan laporan Poliklinik Umum Puskesmas Kotapadang. Dari kasus rabies yang ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Kotapadang tidak terjadi kasus kematian. (9)
Kegiatan yang dilakukan. (9)
- Menerima laporan dari petugas Puskesmas Pembantu, bidan desa, perawat dan Poliklinik umum Puskesmas Kotapadang.
- Mengirimkan laporan mingguan (W2) ke Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong.
- Mengumpulkan data penderita yang berobat di Pustu, Bidan desa dan perawat.
Penanganan Penderita
Penanganan yang dilakukan terhadap penderita yaitu : (9)
- Perlu dilakukannya kewaspadaan terhadap penderita terkena gigitan hewan tersangka rabies.
- Melakukan disinfektan atau membersihkan luka bekas gigitan hewan tersangka rabies menggunakan air dan sabun/deterjen.
- Memberikan bantuan obat-obatan atau memberikan vaksin anti rabies yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong.
Saran
Dari kasus rabies (gigitan anjing) yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Kota padang dapat disarankan beberapa hal : (9)
- Perlu dilakukannya kerjasama lintas sektoral dengan Dinas Peternakan dalam hal pelaksanaan vaksinasi pada anjing-anjing yang berpemilik dan eliminasi terhadap anjing yang tidak berpemilik.
- Melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai tanda – tanda atau gejala dari anjing rabies dan cara penanggulangan dini apabila terjadi gigitan hewan tersangka rabies.
- Perlunya penyediaan stock obat vaksin anti rabies (VAR) di puskesmas yang akan dapat membantu pengobatan lanjutan dari penderita kasus rabies.
Kesimpulan
Pada tahun 2006 terjadi Kasus Rabies (gigitan anjing) dengan jumlah kasus sebanyak 12 Kasus dengan tanpa kematian. (9)
- C. Informasi KLB Penyakit Rabies Kab. Morowali Bulan Januari – Juni 2008
Penyakit Rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus Rabies yang ditularkan oleh hewan penular seperti anjing, kucing, kera melalui gigitan dan non gigitan (aerogan, transplantasi, kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa). (10)
Virus Rabies termasuk golongan Rhabdovirus berbentuk peluru dengan komposisi RNA, Lipid, Karbohidrat dan Protein. Penyakit Rabies secara epidemiologi tersebar luas di seluruh dunia dengan CFR 100 % yang menyerang semua umur dan jenis kelamin. Batasan kejadian luar biasa (KLB) secara epidemiologi adalah bila ditemukan satu kasus dengan gejala klinis yang ditandai dengan hydrofobia. Diagnosa KLB Rabies dapat ditegakkan berdasarkan, sebagai berikut : (10)
- Terjadi kasus rabies pada manusia.
- Terdapat cluster kasus gigitan hewan tersangka rabies pada manusia.
Berdasarkan laporan Kepala Puskesmas Beteleme beberapa tempat wilayah kerja puskesmas Beteleme ditemukan adanya beberapa masyarakat yang digigit anjing dimana sampai Bulan Juni telah dilaporkan sebanyak 19 kasus gigitan aning dengan dua penderita diantaranya meninggal dunia dengan CFR 14,3 %. Dari 19 penderita hanya satu penderita yang mendapatkan penyuntikan Vaksin Anti Rabies (VAR). Demikian pula di wilayah kerja Puskesmas Bantula di Kelurahan Bahontula dan Kolonodale telah dilaporkan adanya gigitan anjing sebanyak 4 kasus dan semuanya telah dilakukan penyuntikan VAR sebagai upaya antisipasi dini. (10)
Tujuan penyelidikan epidemiologi ini adalah untuk mengetahui : (10)
- Keadaan kemungkinan permasalahan yang timbul sebagai akibat terjadinya peningkatan kasus Rabies, mengenai jumlah penduduk yang terkena, jumlah kematian kasus, penyebab dan sumber penularan.
- Mencari alternatif pemecahan untuk mengatasi masalah dan menentukan tindakan intervensi untuk pencegahan selanjutnya.
Daerah sasaran penyelidikan epidemiologi adalah daerah dimana terjadi peningkatan kasus atau terdapatnya kasus. Data dikumpulkan adalah data penderita Rabies berdasarkan distribusi umur, jenis kelamin, kematian. Data kasus yang berkunjung ke pelayanan kesehatan dan kunjungan ke lapangan pada saat penyelidikan epidemiologi. Data yang dikumpulkan diolah dalam bentuk tabel dan grafik. (10)
Jumlah penderita berdasarkan data hasil investigasi Puskesmas Beteleme dari tanggal 2 Januari sampai dengan 30 Mei 2008 berjumlah 14 penderita dengan 2 orang meninggal dunia dengan CFR 14,3 %. Kasus di wilayah kerja Puskesmas Kolonodale dari tanggal 16 Juni sampai dengan 23 Juni berjumlah 4 kasus tanpa kematian (CFR 0 %), lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini. (10)
Berdasarkan pengamatan di lokasi KLB, distribusi penderita menyebar ke desa tetangga bila dilihat dari kasus awal dari Desa Beteleme kemudian menyebar ke desa lainnya hingga mencapai 9 desa lainnya. Bila dibandingkan dengan wilayah kerja Puskesmas Beteleme dari 4 kasus gigitan yang terjadi di Kelurahan Bahontula dan Kolonodale adalah dua kelurahan yang bertetangga / berbatasan langsung, mengalami penyebaran. (10)
Kejadian Luar Biasa rabies berdasarkan hasil investigasi dimulai minggu pertama Januari sampai dengan minggu ke-25 Juni tahun 2008 dengan jumlah kasus sebanyak 23 penderita (CFR 14,3 %). Kasus tersebar di dua wilayah kerja Puskesmas, yaitu Beteleme dan Kolonodale. Dari hasil investigasi di lapangan dari 23 penderita yang tergigit anjing dengan lokasi gigitan adalah kaki dan tangan dengan anjing yang berbeda antara desa satu dengan yang lainnya. (10)
Faktor yang menunjang penyebaran kasus Rabies adalah kebiasaan masyarakat memelihara anjing dengan menjadikan anjing tersebut bagian dari kehidupan keluarga dan kurangnya kesadaran untuk memberi vaksinasi ke anjing peliharaan. Data dari Dinas Pertanian dan Peternakan diperoleh bahwa tidak seluruhnya populasi anjing di kedua kecamatan tersebut mendapatkan vaksinasi anti rabies. (10)
Ketersediaan bahan logistik vaksin anti rabies di Kabupaten Morowali belum memadai sehingga menyulitkan penanggulangan kasus serta mahalnya biaya VAR menyulitkan penderita untuk mendapatkannya.
Dari kasus tersebut berikut pemecahan masalah yang dapat dilakukan dengan cara : (10)
- Melakukan vaksinasi seluruh anjing yang ada diwilayah tersebut dalam hal ini perlu kerjasama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan.
- Penyediaan logistik Vaksin Anti Rabies di Kabupaten.
- Koordinasi penanggulangan Lintas Program baik di Kabupaten maupun Provinsi.
- Penyuluhan.
- Pengobatan dan Perawatan.
- Pengamatan Pasca KLB.
D. Investigasi Rabies di Lampung Selatan
Banyaknya kasus gigitan hewan penular rabies yang terjadi hal ini dimungkinkan banyaknya populasi hewan penular rabies di masyarakat baik yang terpelihara maupun yang liar sehingga resiko terjadi gigitan semakin tinggi. Sedangkan untuk kasus gigitan yang mengakibatkan korban meninggal dunia berdasarkan hasil penyelidikan dilapangan terjadi karena adanya luka gigitan yang serius (luka pada daerah syaraf/banyak luka) tetapi penderita tidak berobat/terlambat berobat setelah mengalami gigitan. Untuk pengobatan kasus GHPR hampir 95 % mendapat suntikan vaksin anti rabies (VAR). (11)
Penanganan kasus yang terjadi selain pengobatan diunit puskesmas juga ada yang mendapat layanan di Rumah Sakit Umum (rujukan puskesmas). Proporsi kasus gigitan menurun hewan penggigit pada tahun 2007 dapat digambarkan dengan grafik berikut ini : (11)
Grafik 48
Proporsi kasus gigitan menurut jenis hewan penggigit
Kabupaten lampung selatan tahun 2007
Adapun upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan khususnya Program P2 Rabies Tahun 2007 adalah dengan melaksanakan kegiatan Pengadaan VAR/SAR, Penyuluhan tentang Penyakit Rabies dan juga Pengobatan terhadap penderita rabies. (11)
Beberapa permasalahan yang dihadapi yang sering terjadi yaitu masih adanya daerah rawan kasus GHTR (tingginya populasi hewan penyebab kasus gigitan misalnya anjing), Masih juga ada perilaku masyarakat yang tidak langsung berobat setelah terkena gigitan sehingga terlambat mendapatkan penanganan. Selain itu juga belum optimalnya penanganan kasus GHTR baik dalam penatalaksanaan kasus maupun ketersediaan stok VAR/SAR yang sering mengalami keterlambatan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilaksanakan sosialisasi penyakit Rabies, kerjasama lintas sektoral dan kesinambungan penatalaksanaan kasus serta ketersediaan vaksin. (11)
E. Investigasi Kasus KLB Rabies Di Puskesmas Tentena Kec. Pamona Utara Kab. Poso Maret 2008
Penyakit Rabies atau lebih dikenal penyakit anjing gila merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus. Di Indonesia penyakit rabies telah dikenal sejak tahun 1884 pada seekor kuda dan pada tahun 1889 diketemukan pada anjing dan kerbau, sedangkan pada manusia baru diketahui pada tahun 1894. Kabupaten Poso merupakan daerah endemis rabies, khususnya wilayah kerja Puskesmas Tentena Kecamatan Pamona Utara karena setiap tahunnya ada dilaporkan kasus rabies. (12)
Berdasarkan laporan secara lisan Puskesmas Tentena pada tanggal 22 Maret 2008 bahwa telah terjadi peningkatan kasus gigitan anjing secara bermakna sejak tanggal 25 Januari 2008 sampai tanggal 27 Januari 2008 dengan sebanyak 10 kasus gigitan dengan gejala positif rabies 1 orang penderita. Dari data tersebut diatas telah dapat dikategorikan terlah terjadi kasis Kejadian Luar Biasa (KLB) di wilayah kerja Puskesmas Tentena. (12)
Tujuan dilaksanakannya investigasi ini guna mengetahui gambaran secara epidemiologi KLB Rabies dan faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya KLB pada wilayah kerja Puskesmas Tentena. (12)
Kejadian gigitan pertama terjadi pada tanggal 25 Januari 2008 dengan kasus gigitan 2 orang saat memberi makan pada seekor anak anjing (sebut saja anjing A) dengan lokasi gigitan pada kaki dan tangan. Kejadian pertama tersebut dianggap oleh pemiliknya kejadian biasa saja, tetapi pada esok harinya tanggal 26 Januari 2008 anjing A tersebut menggigit kembali sebanyak 4 orang dengan lokasi gigitan pada kaki dan akhirnya anjing tersebut dibunuh oleh pemiliknya. (12)
Pada tanggal 27 Januari 2008 terjadi gigitan kembali sebanyak 3 orang yang digigit oleh anjing B (saudara anak anjing A) dengan lokasi pada kaki sehingga anjing B tersebut juga dibunuh kembali oleh pemiliknya tanpa ada pemeriksaan laboratorium. Pada tanggal 29 Maret 2008 salah satu kasus gigitan dengan gejala positif rabies meninggal dalam perawatan RS GKST Tentena. Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Tim Investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Poso dapat dilihat pada tabel berikut ini. (12)
Berdasarkan data diatas terlihat bahwa telah terjadi peningkatan kasus gigitan anjing dari tanggal 25 Januari 2008 dengan 2 kasus gigitan, tanggal 26 Januari 2008 dengan kasus 4 gigitan dan pada tanggal 27 Januari 2008 sebanyak 4 kasus gigitan, dengan lokasi tempat kejadian di RW2 RT7 di Tentena Wilayah Puskesmas Tentena Kec. Pamona Utara oleh 2 ekor anjing penggigit. Pada tabel berikut dapat digambarkan lokasi gigitan dan bentuk tipe gigitan yang terjadi pada 10 kasus gigitan yang terjadi. (12)
Beradasarkan tabel diatas terlihat bahwa lokasi gigitan terbanyak pada kaki sebanyak 7 kasus gigitan, oada tangan terdapat 2 kasus gigitan dan pada pantat terdapat 1 kasus gigitan, sedangkan tipe gigitan yang terbanyak berupa sayatan dengan 6 kasus gigitan, tipe gigitan parut sebanyak 3 kasus gigitan dan tipe tembus terdapat 1 kasus gigitan. (12)
Berdasarkan hasil investigasi yang telah dilakukan bahwa setelah terjadi gigitan selama kurang lebih satu bulan telah timbul gejala rabies pada satu kasus gigitan berjenis kelamin laki-laki umur 10 tahun, lokasi gigitan pada kaki tipe gigitan tembus dengan gejala yang timbul sebagai berikut : (12)
- Berkeringat banyak.
- Sulit Menelan.
- Peka terhadap sinar.
- Peka pada suara.
- Air liur berlebihan.
- Takut pada air.
- Air mata berlebihan.
- Kejang-kejang.
- Nyeri tekan disekitar luka.
Pada tanggal 29 Maret 2008 satu kasus tersebut meninggal, sedangkan 9 kasus lainnya tidak terdapat gejala rabies. Upaya yang dilakukan keluarga pada kasus gigitan anjing adalah : (12)
- Semua kasus gigitan oleh keluarga diberikan perawatan luka dengan mencuci luka gigitan dengan menggunakan air jeruk.
- Membawa penderita kasus gigitan ke petugas kesehatan setelah terjadi gigitan.
- Minum obat sesuai anjuran petugas kesehatan.
- Membunuh dua ekor anjing yang menggigit dan menguburnya tanpa diperiksa dan dikonsultasikan dengan petugas kehewanan dan petugas kesehatan.
Upaya yang dilakukan petugas Puskesmas dan petugas Dinas Kesehatan diantaranya : (12)
- Tanggal 22 Maret 2008 petugas Puskesmas melaporkan secara lisan kejadian tersebut ke Dinas Kesehatan Kab. Poso.
- Tanggal 23 Maret 2008 petugas Program Rabies Dinas Kesehatan Kab. Poso meninjau lokasi kejadian dan memberikan vaksin anti rabies (VAR) sebanyak 6 kasus gigitan.
- Salah seorang kasus gigitan mendapat perawatan di Rumah Sakit GKST Tentena dan meninggal pada tanggal 29 Maret 2008.
- Tanggal 2 April 2008 tim investigasi Dinas Kesehatan Kab. Poso melaksanakan investigasi dilingkungan tempat tinggal kasus gigitan.
- Memberikan suntikan VAR kembali kepada seluruh kasus gigitan berjumlah 10 kasus dari 2 ekor anjing yang menggigit.
Kesimpulan yang dapat diambil dari investigasi ini diantaranya telah terjadi KLB di wilayah kerja Puskesmas Tentena Kecamatan Pamona Utara yang terjadi kasus gigitan tersangka rabies dari tanggal 25 Januari sampai tanggal 27 Januari 2008 dengan jumlah kasus sebanyak 10 kasus gigitan dan meninggal 1 orang pada tanggal 29 Maret 2008. Anjing yang menggigit sebanyak 2 ekor anak anjing yang berasal dari induk yang sama (satu induk). Kejadian kasus gigitan tersebut oleh masyarakat terlambat dilaporkan kepada petugas kesehatan dan petugas kehewanan. (12)
Tim Investigasi dalam kasus ini menyarankan perlunya sosialisasi dalam penanganan kasus rabies di masyarakat sehingga masyarakat lebih memahami dan mengetahui masalah rabies, petugas kesehatan terutama petugas puskesmas supaya lebih tanggap dalam mengantisipasi kejadian yang terjadi sehingga tidak ada keterlambatan dalam penanganan kasus yang terjadi dan perlu koordinasi yang lebih intensif antara Dinas Pertanian dan Peternakan dengan Dinas Kesehatan dalam penanganan kejadian kasus gigitan anjing yang mana hewannya harus ditangani secara tepat dan cepat oleh Dinas Pertanian dan Kehewanan dan Dinas Kesehatan yang menangani manusianya. (12)
F. Kajian Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies Kasus Rabies Serta Pembebasan Rabies Terpadu Di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan Tahun 1993-1999 (Skripsi)
Penyakit rabies merupakan suatu penyakit zoonosis bersifat akut dan sulit diberantas, sehingga pemberantasannya merupakan program prioritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran epidemiologi kasus gigitan hewan penular rabies dan kasus rabies gambaran epidemiologi kasus gigitan hewan penular rabies serta evaluasi pembebasan rabies terpadu di Kabupaten Sindenreng Rappang. Metode penelitian ini menggunakan analisis data sekunder dengan sumber data dari dinkes, dinas peternakan dan tim koordinasi pembebasan rabbies tingakt Kabupaten. (13)
Hasil penelitian didapatkan bahwa pada hewan yang teridentifikasi menggigit manusia, anjing merupakan kelompok terbanyak (92,79%), pada penderita rabies ternyata (100%) penular utamanya adalah anjing. Untuk kelompok umur didapatkan usia diatas atau sama dengan 15 th merupakan kelompok terbanyak pada kasus gigitan (56,77%) dan kasus rabies (45%). menurut jenis kelamin masih didominasi kaum laki-laki pada kasus gigitan (56,91%) pada kasus rabies (90%). letak luka gigitan kaki merupakan yang beresiko untuk mendapatkan gigitan , pada kasus gigitan(55,48%) pada kasus rabies (40%). menurut masa inkubasi terbukti kepala mempunyai masa inkubasi lebih pendek (30,43 rata-rata hari) dari pada letak luka daerah lain. Lama kesakitan berkisar antara 4-5,5 hari. Berkaitan dengan Pasteru Treatment ternyata penderita rabies 95% tidak mendapatkan vaksinasi. Untuk penderita menurut evaluasi tim Koordinasi Pmbebasan Rabies ternyata sarana penunjang vaksinasi alokasinya berkisar (2,69%-73,78%) dari kebutuhan sedangkan racun berkisar (15,03-47,8%) dari kebutuhan, disamping itu Rabies Centre baru 5-11 yang dibutuhkan. (13)
Melihat fakta-fakta yang ada sehingga diperlukan sarana berupa vaksin, racun dan penambahan pelayanan Rabies Centre, serta sosialisasi rabies sehinga mempunyai dampak terhadap kasus rabies dan dapat menurunkan kematian karena rabies menjadi 0 kasus. (13)
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Diare merupakan gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi, malabsorpsi, alergi, keracunan, defisiensi dan sebab-sebab lain..
Terjadinya KLB diare pada suatu wilayah tertentu apabila memenuhi salah satu kriteria:
- Angka kesakitan dan atau kematian di suatu wilayah menunjukan kenaikan mencolok selama 3 kurun waktu observasi (harian atau mingguan).
- Jumlah penderita dan atau kematian di suatu wilayah menunjukan kenaikan 2 kali atau lebih dalam periode waktu tertentu (harian, mingguan dan bulanan) dibandingkan dengan angka rata-rata dalam satu tahun terakhir.
- Peningkatan CFR (Case Fatality Rate) pada suatu wilayah dalam waktu 1 bulan dibandingkan dengan CFR bulan lalu.
- Peningkatan jumlah kesakitan atau kematian dalam periode waktu (mingguan, bulanan) di suatu wilayah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun yang lalu.
- KLB kolera berlaku ketentuan :
- Daerah endemis, peningkatan jumlah penderita dengan gejala klinis kolera terutama yang menyerang golongan umur > 5 tahun atau dewasa.
- Daerah bebas, terdapat satu atau lebih penderita atau kematian karena diare dengan gejala klinis kolera dalam satu kecamatan, desa/kelurahan.
- Apabila ada peningkatan kasus diare dan ditemukan satu spesimen positif Vibrio cholera dari pemeriksaan usap dubur.
Berdasarkan laporan tahunan dinas kesehatan kota Padang edisi tahun 2008 dan 2009, selama tahun 2006, 2007 dan 2008 tidak ditemukan KLB diare di kota Padang.B. Saran
Untuk menanggulangi peningkatan kasus dan KLB Diare diperlukan pemantapan sistem kewaspadaan dini (SKD) di Puskesmas dan di Pustu. Selain itu diperlukan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga peningkatan kasus diare dapat dicegah.
LAMPIRAN
Lampiran 1
Form penyelidikan KLB rabies
Provinsi : kab./kota :
Kecamatan : puskesmas :
Desa : dusun/RT :
I. IDENTITAS
Nama : umur : sex :
Alamat : pekerjaan :
II. IDENTIFIKASI PENYAKIT
Gejala yang timbul
- Berkeringat banyak b. sulit menelan c. peka pada sinar
- Peka pada suara e. air liur berlebihan f. takut pada air
- Air mata berlebihan h. kejang-kejang i. nyeri tekan sekitar luka
- Apakah pernah digigit hewan/anjing : ya/tidak, kapan :………………………………………
- Hewan apa yang menggigit : anjing/kucing/kera/………………………………..
- Lokasi gigitan di : muka/telinga/leher/tangan-kaki/perut/pantat
- Bagaimana tipe luka gigitan :sayatan/cakar/parut/tembus
- Riwayat gigitan :tiba-tiba/memegang/mengganggu/galak
- Setelah menggigit apakah hewan tersebut di bunuh : ya/tidak, kalo tidak diapakan?
III. RIWAYAT PENGOBATAN
-
- Bagaimana merawat luka : dicuci dengan air/air & sabun/yodiumtintur/antiseptik lain
- Dimana mendapatkan pengobatan pertama kali : …………………………………………………………
- Obat yang sudah diberikan : ………………………………………………………..
- Apakah penderita diberikan VAR? ya/tidak, berapa kali diberikan suntikan VAR :…………………
- Bagaimana kondisi pasien setelah mendapatkan suntikan VAR : sembuh/mati/tidak tahu
IV. RIWAYAT KONTAK
-
- Apakah di rumah/sekitar rumah banyak orang yang digigit oleh hewan yang sama? Ya/tidak, kapan………………………….
- Apakah hanya ada 1 hewan yang menggigit orang di lokasi kejadian? Ya/tidak, kalau lebih berapa………………………
V. PEMERIKSAAN SPESIMEN
-
- Sediaan yang diambil : otak hewan tersangka, hasil Lab : +/-
Tanggal penyelidikan :
Lampiran 2
Surveilans ketat pada KLB RABIES
Laporan Surveilans ketat gigitan anjing/hewan lain pada KLB RABIES
Puskesmas/RS : …………………………………….
Puskesmas : …………………………………….
Kabupaten/kota : …………………………………….
Tanggal laporan KLB/Mg : ……………………/minggu 18
| Tempat tinggal |
Lokasi pekerjaan |
Minggu kejadian |
total |
AR |
CFR |
| 14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
| P |
M |
P |
M |
P |
M |
P |
M |
P |
M |
P |
M |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
DAFTAR PUSTAKA
1.Gunawan CA. Rabies: Diagnosis dan Penatalaksanaan. Samarinda; 2009 [updated2009; cited]; CDK 172/vol.36 no.6/September – Oktober 2009:[Available from: http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/09_172Rabiesdiagnosispenatalaksanaan.pdf/09_172Rabiesdiagnosispenatalaksanaan.html.
2.WHO. Rabies. 2009 [updated 2009; cited]; Available from: http://www.who.int/rabies/rabies_maps/en/index.html.
3.DepkesRI. Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (Pedoman Epidemiologi Penyakit). Departemen Kesehatan RI & Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan; 2007.
4.DepkesRI. Profil Kesehatan Indonesia 2005. Jakarta; 2006.
5.DepkesRI. Profil Kesehatan Indonesia 2006. Jakarta; 2007 Contract No.: Document Number|.
6.DepkesRI. Profil Kesehatan Indonesia 2007 Jakarta; 2008 Contract No.: Document Number|.
7.Dinkespadang. Profil Kesehatan Kota Padang Tahun 2007 Padang; 2007 Contract No.: Document Number|.
8.Kanisius. Pencegahan dan Penangendalian Rabies Penyakit Menular pada Hewan dan Manusia. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI); 2007.
9.DinkeskabRejangLebong. Laporan Kegiatan Surveilans Puskesmas Kotapadang tahun 2006 (Kejadian Luar Biasa Penyakit dan Kasus Gigitan Hewan Tersangka Rabies di Wilayah Kerja Puskesmas Kotapadang Tahun 2006). Rejang Lebong; 2006 Contract No.: Document Number|.
10.Dinkesprovsulteng. Informasi KLB Penyakit Rabies Kab. Morowali Bulan Januari – Juni 2008 Sulawesi Tengah; 2009 [updated 2009; cited]; Available from: http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/2009/04/14/informasi-klb-penyakit-rabies-kab-morowali-bulan-januari-juni-2008/.
11.Dinkeslampungselatan. Upaya Pemberantasan Penyakit Menular (Program P2 Rabies). Lampung; 2008 [updated 2008; cited 2009]; Available from: http://keslamsel.wordpress.com/2008/06/18/upaya-pemberantasan-penyakit-menular.
12.Dinkesprovsulteng. Investigasi Kasus KLB Rabies Di Puskesmas Tentena Kec. Pamona Utara Kab. Poso. 2008 [updated 2008; cited]; Available from: http://dinkesprovsulteng.wordpress.com/2009/04/10/laporan-hasil-investigasi-kasus-klb-rabies-di-puskesmas-tentena-kec-pamona-utara-kab-poso-maret-2008.
13.Alisyar A. Kajian Kasus Gigitan Hewan Penular rabies Kasus Rabies serta Pembebasan Rabies Terpadu di kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan Tahun 1993-1999. Sulawesi Selatan: Undip; 2000.