Konsep orang, waktu dan tempat dalam epidemiologi

17 12 2008

Dalam studi epidemiologi, ada dua kegiatan pokok dan terpisah yang harus dilakukan. Pertama, adalah studi terhadap jumlah dan distribusi penyakit, kondisi, cedera, ketidakmampuan, dan kematian dalam populasi. Untuk melakukan studi ini, ahli epidemiologi harus mengakaji semua aspek waktu, tempat, dan orang. Pengkajian rinci terhadap setiap elemen tersebut dilakukan dan dianalisis dalam studi epidemiologi deskriptif.

A. Person (Orang)

Banyak fokus kita ketahui bahwa epidemiologi yang ditujukan pada aspek orang dalam hal penyakit, ketidakmampuan, cedera, dan kematian. Studi epidemiologi umumnya berfokus pada beberapa karakteristik demografi utama dari aspek manusia yaitu usia, jenis kelamin, ras/etnik, status perkawinan, pekerjaan, dan lain-lain.

1. Usia

Variabel usia merupakan hal yang penting karena semua rate morbiditas dan rate mortalitas yang dilaporkan hampir selalu berkaitan dengan usia. Usia termasuk variabel penting dalam mempelajari suatu masalah kesehatan karena:

a. Ada kaitannya dengan daya tahan tubuh

Pada umumnya daya tahan tubuh orang dewasa lebih kuat daripada bayi dan anak-anak.

b. Ada kaitannya dengan ancaman terhadap kesehatan

Orang dewasa yang karena pekerjaannya ada kemungkinan menghadapi ancaman penyakit lebih berat dari pada ank-anak.

c. Ada kaitannya dengan kebiasaan hidup

Dibandingkan anak-anak, orang dewasa yang karena kebiasaan hidupnya ada kemungkinan terkena penyakit akibat kesalahan kebiasaan hidup tersebut.

Adanya perbedaan penyebaran penyakit di setiap kelompok usia disebabkan oleh:

a. Adanya faktor tertentu pada kelompok usia tersebut yang menyebabkan mereka mudah terserang. Misalnya, campak pada anak-anak. Kesimpulannnya anak-anak tidak mempunyai kekebalan terhadap campak.

b. Adanya faktor tertentu pada kelompok usia lain yang menyebabkan mereka sulit terserang. Misalnya campak jarang ditemkan pada orang dewasa. Kesimpulannnya orang dewasa mempunyai kekebalan terhadap campak.

c. Adanya peristiwa tertentu yang pernah dialami oleh kelompok umur tertentu. Misalnya TBC paru banyak ditemukan pada penduduk berumur 20 tahun ke atas. Kesimpulannya imunisasi BCG baru berjalan baik sejak 20 tahun yang lalu.

a. Hubungan umur dengan mortalitas

Walaupun secara umum kematian dapat terjadi pada setiap golongan usia tetapi dari berbagai catatan diketahui bahwa frekuansi kematian pada setiap golongan usia berbeda-beda, yaitu kematian tertinggi terjadi pada golongan umur 0-5 tahun dan kematian terendah terletak pada golongan umur 15-25 tahun dan akan meningkat lagi pada umur 40 tahun ke atas.

Dari gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa secara umum kematian akan meningkat dengan meningkatnya umur. Hal ini disebabkan berbagai faktor, yaitu pengalaman terpapar oleh faktor penyebab penyakit, faktor pekerjaan, kebiasaan hidup atau terjadinya perubahan dalam kekebalan.

b. Hubungan Usia dengan Morbididtas

Kita ketahui bahwa pada hakikatnya suatu penyakit dapat menyerang setiap orang pada semua golongan umur, tetapi ada penyakit-penyakit tertentu yang lebih banyak menyerang golongan usia tertentu. Penyakit-penyakit kronis mempunyai kecendrungan meningkat dengan bertambahnya umur, sedangkan penyakit-penyakit akut tidak mempunyai suatu kecendrungan yang jelas.

Anak berumur 1-5 tahun lebih banyak terkena infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA). Ini disebabkan perlindungan kekebalan yang diperoleh dari ibu yang melahirkannya hanya sampai pada 6 bulan pertama setelah melahirkan, sedangkan setelah itu kekebalan menghilang dan ISPA mulai menunjukkkan peningkatan.

Sebelum ditemukan vaksin, banyak terjadi pada anak-anak berumur muda, tetapi setelah program imunisasi dijalankan, umur penderita bergeser ke umur yang lebih tua. Walaupun program imunisasi telah lama dijalankan di Indonesia, tetapi karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat yan masih rendah terutama di daerah pedesaan sering kali target cakupan imunisasi tidak tercapai yang berarti masih banyak anak atau bayi yang tidak mendapatkan imunisasi. Gambaran ini tidak hanya terjadi pada negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi terjadi juga pada negara maju.

Penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan karsinoma lebih banyak menyerang orang dewasa dan lanjut usia, sedangkan penyakit kelamin, AIDS, kecelakaan lalu lintas, penyalahgunaan obat terlarang banyak terjadi pada golongan usia produktif yaitu remaja dan dewasa. Hubungan antara usia dan penyakit tidak hanya pada frekuensinya saja, tetapi pada tingkat beratnya penyakit, misalnya stapilococcus dan eschericia coli akan menjadi lebih berat bila menyerang bayi daripada golongan umur lain karena bayi masih sangat rentan terhadap infeksi.

c. Hubungan Tingkat Perkembangan Manusia Dengan Morbiditas

Dalam perkembangan secara alamiah, manusia mulai dari sejak dilahirkan hingga akhir hayatnya senantiasa mengalami perubahan baik fisik maupun psikis. Secara garis besar, perkembangan manusia secara alamiah dapat dibagi menjadi beberapa fase yaitu fase bayi dan anak-anak, fase remaja dan dewasa muda, fase dewasa dan lanjut usia.

Dalam setiap fase perkembangan tersebut, manusia mengalami perubahan dalam pola distribusi dan frekuensi morbiditas dan mortalitas yang disebabkan terjadinya perubahan dalam kebiasaan hidup, kekebalan, dan faal.

2. Jenis Kelamin

Hubungan Penyakit Dengan Jenis Kelamin

Secara umum, setiap penyakit dapat menyerang manusia baik laki-laki maupun perempuan, tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan pekerjaan, kebiasaan hidup, kesadaran berobat, perbedaan kemampuan atau kriteria diagnostik beberapa penyakit, genetika atau kondisi fisiologis. Penyakit-penyakit yang lebih banyak menyerang perempuan daripada laki-laki antara lain:

1. Tireotoksikosis

2. Diabetes melitus

3. Obesitas

4. Kolesisitis

5. Rematoid artritis

Selain itu, terdapat pula penyakit yang hanya menyerang perempuan, yaitu penyakit yang berkaitan dengan organ tubuh perempuan seperti karsinoma uterus, karsinoma mamae, karsinoam serviks, kista ovarii, dan adneksitis. Penyakit-penyakit yang lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan antara lain:

1. Penyakit jantung koroner

2. Infark miokard

3. Karsinoma paru

4. Hernia inguinalis

Selain itu, terdapat pula penyakit yang hanya menyerang laki-laki seperti karsinoma penis, orsitis, hipertrofi prostat, dan karsinoma prostat.

3. Suku Bangsa

Suku bangsa atau golongan etnik adalah sekelompok manusia dalam suatu populasi yang memiliki kebiasaan atau sifat biologis yang sama. Walaupun klasifikasi penyakit berdasarkan suku bangsa sulit dilakukan baik secara praktis maupun secara konseptual, tetapi karena terdapat perbedaan yang besar dalam frekuensi dan beratnya penyakit diantara suku bangsa maka dibuat klasifikasi walaupun kontroversi. Pada umumnya penyakit yang berhubungan dengan suku bangsa berkaitan dengan faktor genetik atau faktor lingkungan, misalnya:

1. Penyakit sickle cell anemia

2. Hemofilia

3. Kelainan biokimia sperti glukosa 6 fosfatase

4. Karsinoma lambung

Disamping ketiga fakor yang telah diuraikan di atas terdapat pula faktor-faktor lain yang berkaitan dengan variabel “orang”, yaitu:

1. Sosial ekonomi

2. Budaya/agama

3. Pekerjaan

4. Status marital

5. Golongan darah

6. Infeksi alamiah

7. Kepribadian

4. Sosial ekonomi

Terdapatnya perbedaan penyebaran masalah kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor:

a. Perbedaan kemampuan ekonomi dalam mencegah atau mengobati penyakit.

b. Perbedaan sikap hidup dan perilaku yang dimiliki.

Keadaan sosial ekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi frekuensi distribusi penyakit tertentu, misalnya TBC, infeksi akut gastrointestinal, ISPA, anemia, melnutrisi, dan penyakit parasit yang banyak terdapat pada penduduk golongan sosial ekonomi rendah. Penyakit jantung koroner, hipertensi, obesitas, kadar kolesterol tinggi, dan infark miokard yang banyak terdapat pada penduduk golongan sosial ekonomi yang tinggi.

5. Budaya/agama

Dalam beberapa hal terdapat hubungan antara kebudayaan masyarakat atau agama dengan frekuensi penyakit tertentu, misalnya:

1. Balanitis, karsnoam penis banyak terdapat pada orang yang tidak melakukan sirkumsisi disertai dengan higiene perorangan yang jelek.

2. Trisinensis jarang terdapat pada orang Islam dan orang Yahudi karena mereka tidak memakan babi.

3. Kelainan fungsi hati jarang ditemukan pada pemeluk agama islam karena ajaran agama islam tidak membenarkan meminum alkohol.

6. Pekerjaan

Berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada frekuensi dan distirbusi penyakit. Hal ini disebabkan sebagian hidupnya dihabiskan di tempat pekerjaan dengan berbagai suasana dan lingkungan yang berbeda. Misalnya, pekerjaan yang berhubungan dengan bahan fisika, panas, bising, dan kimia seperti pekerja pabrik asbes yang banyak menderita karsinoma paru dan gastrointestinal serta mesotelioma, sedangkan fibrosis paru banyak terdapat pada pekerja yang terpapar oleh silikon bebas, atau zat radioaktif seperti petugas di bagian radiologi dan kedokteran nuklir.

Pekerja di bidang pertambangan, konstruksi bangunan atau pertanian, dan pengemudi kendaraan bermotor mempunyai risiko yang lebih beasr untuk mengalami trauma atau kecelakaan dibandingkan dengan pekerja kantor.

Pada dasarnya hubungan antara pekerjaan dengan masalah kesehatan disebabkan oleh:

a. Adanya risiko pekerjaan

Setiap pekerjaan mempunyai risiko tertentu dan karena itulah macam penyakit yang dideritanya akan berbeda pula. Misalnya buruh berisiko lebih besar terkena penyakit silikosis.

b. Adanya seleksi alamiah dalam memilih pekerjaan

Seseorang yang betrubuh lemah secara naluriah menghindari macam pekerjaan fisik yang berat, demikian sebaliknya yang bertubuh kuat.

c. Adanya perbedaan status sosial ekonomi

Perbedaan pekerjaan menyebabkan perbedaan status sosial ekonomi sehigga menyebabkan perbedaan penyakit yang dideritanya.

7. Status Marital

Adanya hubungan antara status marital dengan frekuensi distribusi morbiditas telah lama diketahui, tetapi penyebab pastinya belum diketahui. Ada yang berpendapat bahwa hubungan status marital dengan morbiditas dikaitkan dengan faktor psikis, emosional, dan hormonal atau berkaitan dengan kehidupan seksual, kehamilan, melahirkan, dan laktasi.

Lebih banyak ditemukan pada perempuan yang tidak menikah dibandingkan dengan perempuan yang menikah, sebaliknya karsinom serviks lebih banyak ditemukan pada perempuan yang menikah daripada yang tidak menikah atau menikah pada usia yang sangat muda atau sering berganti pasangan. Kehamilan dan persalinan merupakan merupakan faktor risiko terjadinya eklamsia dan praeklamsia yang dapat menyebabkan kematian ibu. Angka kematian ibu di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara lain.

8. Golongan Darah ABO

Golongan darah juga dapat mempengaruhi insidensi suatu penyakit, misalnya orang-orang dengan golongan darah A meningkatkan risiko terserang karsinoma lambung, sedangkan golongan darah O lebih banyak terkena ulkus duodeni.

B. Time (Waktu)

Variabel waktu merupakan faktor kedua yang harus diperhatikan ketika melakukan analisis morbiditas dalam studi epideiologi karena pencatatan dan laporan insidensi dan prevalensi penyakit selalu didasarkan waktu, apakah mingguan, bulanan atau tahunan.

Laporan morbiditas ini menjadi sangat penting artinya dalam epidemiologi karena didasarkan pada kejadian yang nyata dan bukan berdasarkan perkiraan atau estimasi. Selain itu dengan pencatatan dan laporan morbiditas dapat diketahui adanya perubahan-perubahan insidensi dan prevalensi penyakit hingga hasilnya dapat digunakan untuk menyusun perencanaan dan penanggulangan masalah kesehatan.

Mempelajari morbiditas berdasarkan waktu juga penting untuk mengetahui hubungan antara waktu dan insiden penyakit atau fenomena lain, misalnya penyebaran penyakit saluran pernapasan yang terjadi pada waktu malam hari karena terjadinya perubahan kelembaban udara atau kecelakaan lalu lintas yang sebagian besar terjadi pada waktu malam hari.

Pengetahuan tentang penyebaran masalah kesehatan menurut waktu akan membantu dalam memahami:

a. Kecepatan perjalanan penyakit

Apabila suatu penyakit dalam waktu yang singkat menyebar dengan pesat, berarti perjalanan penyakit tersebut berlangsung cepat.

b. Lama terjangkitnya suatu penyakit

Lama terjangkitnya suatu penyakit dapat pula diketahui dari penyebaran penyakit menurut waktu, yakni dengan memanfaatkan keterangan tentang waktu terjangkitnya penyakit dan keterangan tentang waktu lenyapnya penyakit tersebut.

Penyebaran masalah kesehatan menurut waktu dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu:

a. Sifat penyakit yang ditemukan

Secara umum disebutkan bahwa penyakit infeksi lebih cepat menyebar daripada penyakit bukan infeksi. Hal yang berperan di sini adalah sifat bibit penyakit yang ditemukan yang dibedakan atas patogenisiti, virulensi, antigenisiti, dan infektiviti.

b. Keadaan tempat terjangkitnya penyakit

Untuk penyakit infeksi keadaan yang paling penting adalah yang menyangkut ada tidaknya reservoir bibit penyakit, yang jika dikaitkan dengan keadaan tempat terjangkitnya penyakit disebut dengan nama environmental reservoir yakni lingkungan alam di sekitar manusia.

c. Keadaan penduduk

Penyebaran masalah kesehatan menurut waktu juga dipengaruhi oleh keadaan penduduk, baik yang menyangkut ciri-ciri manusianya dan ataupun yang menyangkut jumlah dan penyebaran penduduk tersebut.

d. Keadaan pelayanan kesehatan yang tersedia

Jika keadaan pelayanan kesehatan baik, maka penyebaran suatu masalah kesehatan dapat dicegah sehingga waktu terjangkitnya penyakit dapat diperpendek.

Fluktuasi insiden penyakit yang diketahui terdiri dari:

1. Variasi Jangka Pendek

a. Sporadis

Kejadian ini relatif berlangsung singkat, umumnya berlangsung di beberpa tempat, dan pada waktu pengamatan masing-masing kejadian tidak saling berhubungan, misalnya dalam proses penyebarannya. Contoh: penyebaran penyakit DHF

b. Endemis

Penyakit menular yang terus menerus terjadi di suatu tempat atau prevalensi suatu penyakit yang biasanya terdapat di suau tempat.

c. Pandemis

Penyakit yang berjangkit/menjalar ke beberapa negara atau seluruh benua. Misalnya: Flu (1914), Kholera (1940), AIDS (1980), SARS (2003).

d. Epidemis

Kenaikan kejadian suatu penyakit yang berlangsung secara cepat dan dalam jumlah yang secara bermakna melebihi insidens yang diperkirakan.

2. Variasi Berkala

a. Kecendrungan sekuler (secular trend)

Kecendrungan sekuler ialah terjadinya perubahan penyakit atau KLB dalam waktu yang lama. Lamanya waktu dapat bertahun-tahun sampai beberapa dasawarsa. Kecendrungan sekuler dapat terjadi pada penyakit menular maupun penyakit infeksi nonmenular. Misalnya, terjadinya pergeseran pola penyakit menular ke penyakit yang tidak menular yang terjadi di negara maju pada beberapa dasawarsa terakhir.

Pengetahuan tentang perubahan tersebut dapat digunakan dalam penilaian keberhasilan upaya pemberantasan dan pencegahan penyakit. Kecendrungan sekuler juga dapat digunakan unuk mengetahui perubahan yang terjadi pada mortalitas.

Dalam mempelajari kecendrungan sekuler tentang mortalitas, harus dikaitkan dengan sejauh mana perubahan insiden dan sejauh mana perubahan tersebut menggambarkan kelangsungan hidup penderita.

Angka kematian akan sejalan dengan angka insiden (insidence rate) pada penyakit yang fatal dan bila kematian terjadi tidak lama setelah diagnosis, misalnya karsinoma paru-paru, karena memenuhi kriteria di atas.

b. Variasi siklik

Variasi siklik ialah terulangnya kejadian penyakit setelah beberapa tahun, tergantung dari jenis penyakitnya, misalnya epidemi campak biasanya berulang setelah 2-3 tahun kemudian. Variasi siklik biasanya terjadi pada penyakit menular karena penyakit noninfeksi tidak mempunyai variasi siklik.

c. Variasi musim

Variasi musim ialah terulangnya perubahan frekuensi insidensi dan prevalensi penyakit yang terjadi dalam 1 tahun. Dalam mempelajari morbiditas dan mortalitas, variasi musim merupakan salah satu hal yang sangat penting karena siklus penyakit terjadi sesuai dengan perubahan musim dan berulang setiap tahun.

Variasi musim sangat penting dalam menganalisis data epidemiologi tentang kejadian luar biasa untuk menentukan peningkatan insidensi suatu penyakit yang diakibatkan variasi musim atau memang terjadinya epidemi. Bila adanya variasi musim tidak diperhatikan, kita dapat menarik kesimpulan yang salah tentang timbulnya KLB.

Disamping itu, pengetahuan tentang variasi musim juga dibutuhkan pada penelitian epidemiologi karena penelitian yang dilakukan pada musim yang berbeda akan menghasilkan frekuensi distribusi penyakit yang berbeda pula. Penyakit-penyakit yang mempunyai variasi musim antara lain: diare, influenza, dan tifus abdominalis.

Beberapa ahli memasukkan variasi musim ke dalam variasi siklik karena terjadinya berulang, tetapi di sini dipisahkan karena pada variasi musim, terulangnya perubahan insidensi penyakit dalam waktu yang pendek sesuai dengan perubahan musim, sedangkan pada variasi siklik fluktuasi perubahan insiden penyakit terjadi lebih lama yaitu suatu penyakit dapat terulang 1 atau 2 tahun sekali.

d. Variasi random

Variasi random diartikan sebagai terjadinya epidemi yang tidak dapat diramalkan sebelumnya, misalnya epidemi yang terjadi karena adanya bencana alam seperti banjir dan gempa bumi.

C. Place (Tempat)

Variabel tempat merupakan salah satu variabel penting dalam epidemiologi deskriptif karena pengetahuan tentang tempat atau lokasi KLB atau lokasi penyakit- penyakit endemis sangat dibutuhkan ketika melakukan penelitian dan mengetahui sebaran berbagai penyakit di suatu wilayah sehingga dari keterangan yang diperoleh akan diketahui:

a. Jumlah dan jenis masalah kesehatan yang ditemukan di suatu daerah.

b. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan di suatu daerah.

c. Keterangan tentang faktor penyebab timbulnya masalah kesehatan di suatu daerah.

Batas suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan:

1. Geografis

Ditentukan berdasarkan alamiah, administratif atau fisik, institusi, dan instansi. Dengan batas alamiah dapat dibedakan negara yang beriklim tropis, subtropis, dan negara dengan empat musim. Hal ini penting karena dengan adanya perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan dalam pola penyakit baik distribusi frekuensi penyakit maupun jenis penyakit. Dari batas administratif dapat ditentukan batas propinsi, kabupaten, kecamatan atau desa dengan sungai, jalan kereta api, jembatan dan lainnya sebagai batas fisik.

2. Batas institusi

Dapat berupa industri, sekolah atau kantor, dan lainnya sesuai dengan timbulnya masalah kesehatan.

Contoh kejadian penyakit berdasarkan tempat yaitu:

a. TBC, pada daerah penduduk padat dengan sosial ekonomi rendah

b. Cholera, pada daerah penduduk padat dengan linkungan jelek

c. Asbestosis, pada pekerja pabrik asbes.

Penyebaran masalah kesehatan menurut tempat, secara umum terdiri dari:

1. Penyebaran satu wilayah

Masalah kesehatan hanya ditemukan di satu wilayah saja. Batasan wilayah yang dimaksudkan tergantung dari sistem kepemerintahan yang dianut. Misalnya satu kecamatan saja, satu kelurahan saja, dsb. Pembagian menurut wilayah yang sering dipergunakan adalah desa dan kota.

2. Penyebaran beberapa wilayah

Penyebaran beberapa wilayah tergantung dari sistem kepemerintahan yang dianut. Misalnya beberapa kecamatan saja, beberapa kelurahan saja, dsb.

3. Penyebaran satu negara (nasional)

Masalah kesehatan ditemukan di semua wilayah negara tersebut.

4. Penyebaran beberapa negara (regional)

Masalah kesehatan dapat menyebar ke beberapa negara. Masuk atau tidaknya suatu penyakit ke suatu negara dipengaruhi oleh faktor:

a. Keadaan geografis negara tersebut dalam arti apakah ditemukan keadaan-keadaan geografis tertentu yang menyebabkan suatu penyakit dapat terjangkit atau tidak di negara tersebut.

b. Hubungan komunikasi yang dimiliki, dalam arti apakah letak negara tersebut berdekatan dengan negara yang terjangkit penyakit, bagaiman sistem transportasi antar negara, hubungan antar penduduk, apakah egara tersebut terbuka untuk penduduk yang berkunjung dan menetap, dsb.

c. Peraturan perundangan yang berlaku, khususnya dalam bidang kesehatan.

5. Penyebaran banyak negara (internasional)

Masalah kesehatan ditemukan di banyak negara, yang pada saat ini dengan kemajuan sistem komunikasi dan transportasi amat sering terjadi.

Kepustakaan:

Azwar, azrul.1999. Pengantar Epidemologi. Jakarta: Binarupa Aksara

Budiarto, eko dkk. 2003. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Kasjomo, Subaris Heru dkk. 2008. Intisari Epidemiologi. Jakarta: Mitra Cendikia Press

Timmreck, Thomas C. dkk. 2005. Epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Iklan




epidemiologi hepatitis B

15 12 2008

A. Definisi Hepatitis B
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Mula-mula dikenal sebagai serum hepatitis dan telah menjadi epidemi pada sebagian Asia dan Afrika. Hepatitis B telah menjadi endemik di Tiongkok dan berbagai negara Asia. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut hepatitis akut sedangkan hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut hepatitis kronis.
Hepatis B nama lainnya adalah:
1. Serum hepatitis
2. Australia antigen hepatitis
3. Sebutan laboratorium HB

B. Transmisi Hepatitis B
Penyakit Hepatitis B disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB). Virus Hepatitis B dapat hidup dalam tubuh manusia dan simpanse. Tetapi binatang sebagai sumber virus alami, belum diketahui. Penularan Hepatitis B dapat terjadi melalui darah atau produk darah seperti penularan diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual). Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan.
Hepatitis B berpotensi menularkan virus ke orang lain, seperti melalui:
1. Darah
2. Bagian-bagian darah
3. Air ludah (saliva)
4. Cairan rongga paru (pleura)
5. Cairan rongga perut (peritoneum)
6. Cairan otak dan sumsum tulang belakang
7. Cairan sendi (synovia)
8. Cairan ketuban (amnion)
9. Cairan mani (semen)
10. Cairan kelamin perempuan (vagina)
Penularan virus bisa melalui:
1. Kulit
2. Jaringan bawah kulit
3. Pembuluh darah (intravena)
4. Melalui otot (intramuscular)
5. Jaringan tubuh yang diawetkan (fioksasi)
6. Jalur tangan-tinja-mulut (oral-fecal route)
7. Penularan melalui gigitan serangga belum bias dibuktikan
Masa inkubasi:
1. Biasanya 45-180 hari dengan batas 60-90 hari
2. Paling cepat 2 minggu setelah infeksi virus Hepatitis B, sudah bias dideteksi HbsAg dalam darah penderita
3. perubahan infeksi akut menjadi kronis, sesuai dengan umur penderita. Makin tua umur, makin besar kemungkinan menjadi kronis, kemudian berlanjut menjadi pengerutan jaringan hati (sirosis). Bila umur masih berlanjut, berubah menjadi keganasan kanker hati.
4. Diperkirakan 15-25% penderita Hepatitis B kronis akan meninggal premature.penderita Hepatitis B tidak selalu didahului jelas menderita Hepatitis B dengan jaundice (sakit kuning)
5. kanker hati primer, 80% disebabkan infeksi Hepatitis B yang berubah menjadi kronis yang lama-lama menjadi kronis, yang berlanjut menjadi pengerutan jaringan hati (sirosis) dan selanjutnya menjadi kanker hati yang fatal.

C. Gejala dan Diagnosa Hepatitis B
Gejala hepatits B secara umum, mulai dari yang ringan mirip flu sampai yang fullminant dan terjadi kerusakan jaringan hati sampai meninggal.
1. Hanya sebagian kecil penderita yang terinfeksi virus Hepatitis B yang menunjukkan sakit dan gejala terlihat gejala klinis.
2. Pada penderita anak-anak hanya 10% yang memperlihatkan gejala kuning dibandingkan dengan penderita dewasa yang sampai 30-50% penderita memperlihatkan gejala kuning.
Perjalanan Penyakit:
1. Perlahan-lahan nafsu makan turun disertai keluhan mual dan rasa tidak enak dalam perut.
2. Kadang-kadang dikeluhkan rasa sakit persendian
3. Bisa timbul bintik-bintik merah di kulit yang disusul gejala jaundice.
4. keluhan demam biasanya ringan atau mungkin malah tidak ada. Pada keadaan ini, pemeriksaan serologi dan fungsi hati merupakan penunjang diagnosa.
5. Pada beberapa penderita bisa penyakit berat (fulminant), dimana jaringan hati rusak dan bisa fatal (mematikan).
6. Kematian penderita hepatitis b sekitar 1% dan akan lebih tinggi pada usia lanjut.
7. Jenis hepatitis b yang fulminant, bisa terjadi pada penderita ibu hamil dan bayi baru lahir yang tertular hepatitis b dari ibunya.
8. Jenis hepatitis b yang khronis, merupakan jenis yang dikhawatirkan pada infeksi virus hepatitis b yang terjadi pada:
a. 1-2% penderita berusia dewasa
b. 90% penderita bayi baru lahir
c. 20-50% penderita berusia 1-5 tahun
d. 1-10% penderita anak lebih besar
Hepatitis B bisa kronis pada penderita yang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Seperti infeksi HIV, diperkirakan dalam setahun, jutaan manusia meninggal karena terinfeksi virus Hepatitis B dan penderita baru terinfeksi virus Hepatitis B tetap terjadi 4 juta orang tisp tahunnya.
Dibandingkan virus AIDS (HIV), virus Hepatitis B (HBV) seratus kali lebih ganas (infectious), dan sepuluh kali lebih banyak (sering) menularkan. Kebanyakan gejala Hepatitis B tidak nyata.
Hepatitis B kronis merupakan penyakit nekroinflamasi kronis hati yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B persisten. Hepatitis B kronis ditandai dengan HBsAg positif (> 6 bulan) di dalam serum, tingginya kadar HBV DNA dan berlangsungnya proses nekroinflamasi kronis hati. Carrier HBsAg inaktif diartikan sebagai infeksi HBV persisten hati tanpa nekroinflamasi. Sedangkan Hepatitis B kronis eksaserbasi adalah keadaan klinis yang ditandai dengan peningkatan intermiten ALT>10 kali batas atas nilai normal (BANN). Diagnosis infeksi Hepatitis B kronis didasarkan pada pemeriksaan serologi, petanda virologi, biokimiawi dan histologi.
1. Secara serologi
Pemeriksaan yang dianjurkan untuk diagnosis dan evaluasi infeksi Hepatitis B kronis adalah : HBsAg, HBeAg, anti HBe dan HBV DNA (4,5).
2. Pemeriksaan virologi,
Dilakukan untuk mengukur jumlah HBV DNA serum, sangat penting karena dapat menggambarkan tingkat replikasi virus.
3. Pemeriksaan biokimiawi
Penting untuk menentukan keputusan terapi adalah kadar ALT. Peningkatan kadar ALT menggambarkan adanya aktifitas kroinflamasi. Oleh karena itu pemeriksaan ini dipertimbangkan sebagai prediksi gambaran histologi. Pasien dengan kadar ALT yang menunjukkan proses nekroinflamasi yang lebih berat dibandingkan pada ALT yang normal. Pasien dengan kadar ALT normal memiliki respon serologi yang kurang baik pada terapi antiviral. Oleh sebab itu pasien dengan kadar ALT normal dipertimbangkan untuk tidak diterapi, kecuali bila hasil pemeriksaan histologi menunjukkan proses nekroinflamasi aktif.
4. Pemeriksaan histologi
Menilai tingkat kerusakan hati, menyisihkan diagnosis penyakit hati lain, prognosis dan menentukan manajemen anti viral.
Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh adekuat maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.
Seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium.
Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).Selanjutnya, dari hasil pemeriksaan nanti, kemudian dokter akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya.
Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap penyakit hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan. Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

D. Epidemiologi hepatitis B
Penularan Hepatitis B terjadi melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B. Penularan biasanya terjadi melalui beberapa cara antara lain, penularan dari ibu ke bayi saat melahirkan, hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, maupun penggunaan alat kebersihan diri (sikat gigi, handuk) secara bersama-sama.
Di dunia, setiap tahun sekitar 10-30 juta orang terkena penyakit Hepatitis B. Walaupun penyakit Hepatitis B bisa menyerang setiap orang dari semua golongan umur tetapi umumnya yang terinfeksi adalah orang pada usia produktif. Ini berarti merugikan baik bagi si penderita, keluarga, masyarakat atau negara karena sumber daya potensial menjadi berkurang.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Hepatitis B endemik di China dan bagian lain di Asia te rmasuk di Indonesia. Sebagian besar orang di kawasan ini bisa terinfeksi Hepatitis B sejak usia kanak-kanak. Di sejumlah negara di Asia, 8-10 persen populasi orang dewasa mengalami infeksi Hepatitis B kronik. Penyakit hati yang disebabkan Hepatitis B merupakan satu dari tiga penyebab kematian dari kanker pada pria, dan penyebab utama kanker pada perempuan.
Infeksi tersembunyi dari penyakit ini membuat sebagian besar orang merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi dan berpotensi untuk menularkan virus tersebut kepada orang lain. Penderita penyakit itu umumnya tidak mengalami gejala tertentu yang khas, dan baru bisa diketahui melalui tes kesehatan. Oleh karena itu, penderita dan kelompok yang memiliki faktor risiko hepatitis B perlu menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Presiden Perkumpulan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Prof Dr Laurentius A Lesmana, mengungkapkan tingkat prevalensi penyakit hepatitis B di Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Secara keseluruhan jumlahnya mencapai 13,3 juta penderita. Berdasarkan data dari Profil Kesehatan Provinsi tahun 2003 (lampiran), di Indonesia jumlah kasus Hepatitis B sebesar 6.654 sedangkan di Sumbar 649, berada pada urutan ke tiga setelah DKI Jakarta dan Jatim.Dari sisi jumlah, Indonesia ada di urutan ketiga setelah Cina (123,7 juta) dan India (30-50 juta) penderita. Tingkat prevalensi di Indonesia antara 5-10%.
Pada level dunia, penderita hepatitis B memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Menurut Prof Lesmana, jumlah penderita hepatitis B di kawasan Asia Pasifik memang lebih banyak dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Hal itu bisa terjadi karena di Eropa atau Amerika, hepatitis B diderita oleh orang dewasa. Sedangkan di Asia Pasifik umumnya diidap oleh kalangan usia muda.
Pertumbuhan penderita hepatitis B tersebut, lanjut Prof Laurentius dipengaruhi oleh masalah demografi, social dan faktor lingkungan. Di sisi lain juga karena faktor virus yaitu genotip dan mutasi virus. Secara genotip, Indonesia merupakan daerah menonjol untuk jenis hepatitis B dan C.
Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya. Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular.
1. Secara vertikal, terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.
2. Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama serta hubungan seksual dengan penderita.
Sebagai antisipasi, biasanya terhadap darah-darah yang diterima dari pendonor akan di tes terlebih dulu apakah darah yang diterima terkena reaktif Hepatitis, Sipilis terlebih-lebih HIV/AIDS.

Prevalensi infeksi virus Hepatitis B
1. Di Amerika diperkirakan 0,5% orang dewasa sudah terinfeksi virus Hepatitis B. Atau, dari 200 orang, 1 orang diantaranya sudah terinfeksi virus Hepatitis B.
2. Di Negara dengan tingkat prevalensi tinggi (Hbs Ag>8%), penularan banyak terjadi pada bayi baru lahir dan anak yang masih usia muda.
3. Di Negara dengan tingkat prevalensi sedang (Hbs Ag 2-7%) penularan bisa terjadi pada semua golongan umur.
4. Di Negara dengan prevalensi rendah (Hbs Ag <2%) infeksi seringnya terjadi pada kelompok umur dewasa.

E. Pencegahan dan Penanggulangan Hepatitis B
1. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
2. Hindari kontak atau penularan melalui suntikan, tato, hubungan seksual tidak aman,dll.
3. Penggunaan jarum sekali pakai
4. pemeriksaan darah donor terhadap hepatitis virus
5. vaksinasi hepaititis B
Kebanyakan infeksi virus Hepatitis B tidak bisa dicegah dengan pemberian vaksinasi Hepatitis B karena:
a. Kejadian infeksi pada usia anak yang tertular dari ibu dengan HbsAg negative.
b. Penularan terjadi pada pelaku homoseksual, pengguna obat narkotik suntikan dan petugas laboratorium yang sehari-hari bekerja mengolah darah, pada pasien yang mendapat cuci darah.
c. Penularan virus Hepatitis B terjadi melalui transfuse darah.
Di Indonesia, darah yang dipakai untuk transfusi darah disaring dengan pemeriksaan HbsAg.
Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.
Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.

Saat ini, pengobatan hepatitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi. Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine. Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi.

kepustakaan:

Terapi Hepatitis B dengan Obat Lini Depan.2007. Diakses dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=172376

Waspadai Virus “Pintar” Penyebab Kanker Hati. 2008 Diakses dari: http://www.dinkessumbar.org/index.php?file_id=14&class=news&act=read&news_id=296

Yatim, Faisal. 2007. Macam-macam Penyakit Menular & Cara pencegahannya. Jakarta: Pustaka Obor Populer

Hepatitis. Diakses dari: Pusat informasi penyakit infeksi, http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=37