Statistika fertilitas merupakan bagian dari statistika peri kehidupan yang banyak digunakan dalam kependudukan dan kesehatan.dalam pencatatan dan pelaporan statistika fertilitas, terdapat beberapa hamabatan yang diakibatkan oleh hal- hal sebagai berikut:
1. Pencatatan yang tidak lengkap
Hal ini disebabkan karena masih banyak kelahiran yang tidak dilaporkan, terutama persalinan yang ditolong oleh dukun bayi di daerah pedesaan. Tidak dilaporkannya suatu kelahiran dapat disebabkan karena kurang pengertian tentang manfaat pelaporan atau mungkin karena prosedur pelaporan yang terlalu rumit.
2. Pelaporan yang terlambat
3. Terdapat kesalahan dalam pencatatan:
a. Tempat kelahiran
b. Umur ibu
c. Paritas
d. Interval persalinan
Di Indonesia, pencatatan kelahiran dapat dilakukan dikantor kecamatan dan di kota madya. Untuk pelaporan dikecamatan diberi surat kenal lahir sedangkan pelaporan dikota madya diberi akte kelahiran. Untuk pelaporan kelahiran yang terlambat dibutuhkan prosedur yang rumit yaitu:pembuatan akte kelahiran harus dilakukan melalui pengadilan dengan biaya yang cukup tinggi. Hal ini ungkin merupakan salah satu sebab masyarakat enggan untuk melaporkan bila telah melewati batas waktu yang telah ditetapkan.
Pengukuran fertilitas pada dasarnya ialah perbandingan antara jumlah kelahiran dan jumlah orang yang melahirkan atau orang yang mempunyai resiko untuk melahirkan.
Dalam pengukuran fertilitas terdapat dua pendekatan yaitu :
1. Fertilitas diukur berdasarkan jumlah kelahiran per orang selama usia masa subur. Periode yang digunakan ialah satu ” generasi ” masa subur yaitu kira- kira 35 tahun
2. Pengukuran fertilitas berdasarkan periode satu tahun
Meskipun cara pengukuran pertama lebih tepat dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tetapi cara ini tidak praktis karena untuk memperoleh informasi tentang fertilitas dibutuhkan waktu yang lama. Dalam praktek, pengukuran fertilitas dilakukan dengan pendekatan keduankarena selain praktis juga hailnya cukup memuaskan.
Ukuran- ukuran fertilitas yang banyak digunakan sebagai indikator kependudukan dan kesehatan adalah sebagai berikut:
- Rate Kelahiran Kasar ( Crude Birth Rate = CBR )
- Rate Fertilitas Umum ( General Fertility Rate = GFR)
- Rate Fertilitas Menurut Golongan Umur (Age Specific Fertility Rate = ASFR)
- Rate Fertilitas Total ( Total Fertility Rate = TFR )
- Gross Reproduction Rate = GFR
- Rasio Jenis Kelamin Waktu Lahir ( Sex Ratio At Birth )
- Child Women Ratio
A. Rate Kelahiran Kasar ( crude birth rate )
Rate kelahiran kasar ialah jumlah semua kelahiran hidup yang dicatat selama satu tahun per 1000 penduduk pertengahan tahun yang sama.
RUMUS:
Jumlah kelahiran hidup yang dicatat selama satu tahun
CBR = __________________________________________ x1000
Jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama
B
CBR = ______ x k
P
Dimana :
B = jumlah lahir hidup yang dicatat selama satu tahun
P = jumlah penduduk pertengahan tahun yang sama
k = konstanta = 1000
Ukuran ini disebut rate kelahiran kasar karena sebagai penyebut digunakan jumlah penduduk pertengahan tahun. Ini berarti bahwa penduduk yang tidak mempunyai resiko untuk melahirkan ikut diperhitungkan ( anak- anak, laki- laki, dan wanita usia lanjut ). untuk mengurangi kelemahan ini dilakukan pemisahan antara penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan dengan penduduk yang tidak mempunyai resiko, hingga rumus rate kelahiran kasar menjadi:
B
CBR = x k
E + N
Dimana:
B = jumlah lahir hidup yang dicatat selama satu tahun
E = jumlah penduduk pertengahan tahun yang mempunyai resiko melahirkan
N = jumlah penduduk pertengahan tahun yang tidak mempunyai resiko melahirkan
k = konstanta = 1000
Pada perbandingan antara E dan N dengan N yang tetap, maka perubahan CBR dapat menggambarkan perubahan fertilitas. Dalam kenyataan, perbandingan antara E dan N tidak tetap, tetapi karena perubahan tersebut terjadinya lambat maka perubahan CBR masih dapat digunakan untuk menggambarkan perubahan fertilitas dalam periode yang pendek. Karena itu, rate kelahiran kasar dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas secara umum.Rate ini kurang bermanfaat untuk membandingkan tingkat fertilitas antara dua wilayah, kecuali bila perbandingan antara E dan N kedua populasi mempunyai variasi yang kecil.
Rate ini kurang sensitif untuk mengukur perubahan fertilitas yang kecil, karena kenaikan angka kelahiran akan meningkatkan pula jumlah penduduk hingga perubahan tersebut tidak tampak dan seolah- olah tidak terjadi penimgkatan fertilitas. Demikian pula bila terjai sebaliknya, tidk tampak adanya penurunan fertilitas.
Tingginya rate ini dapat memberi petunjuk tentang banyaknya bayi- bayi dilahirkan oleh ibu- ibu muda dan diatas 40 tahun. CBR yang tinggi juga menyatakan interval persalinan yang pendek.
Sumber data
Untuk jumlah kelahiran dapat diperoleh dari hasil sensus atau survei keluarga, laporan kelahiran dari rumah sakit, laporan dari petugas keluarga berencana, bidan dan dukun bayi.
Laporan kelahiran dari rumah sakit tidak dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat fertilitas suatu wilayah dan bila angka ini digunakan akan menggambarkan tingkat fertilitas suatu wilayah akan menimbulkan bias yang besar.
Pada negara dengan sistem registrasi vital telah berjalan dengan baik, jumlah kelahiran dapat diperoleh dari sistem ini.
B. Rate Fertilitas Umum ( General Fertlity Rate = GFR )
Rate fertilitas umum dimaksudkan untuk memperhalus rate kelahiran kasar. Dengan rate fertilitas umum , pengukuran fertilitas dilakukan sesuai dengan populai yang sebenarnya yaitu sebagai penyebut digunakan jumlah wanita usia subur. Ini berarti wanita yang mempunyai resiko melahirkan.
Rate fertilitas umum ialah jumlah kelahiran hidup yang dicata selama satu tahun per 1000 penduduk wanita usia subur pada pertengahan tahun yang sama.
RUMUS:
Jumlah kelahiran hidup yang dicata selama satu tahun
GFR = ________________________________________________x 1000
Jumlah penduduk wanita usia subur padapertengahan
tahun yang sama
B
GFR = x k
F
Dimana:
B = jumlah kelahiran hidup yang dicatat selama satu tahun
F = Jumlah penduduk wanita usia subur pada pertengahan tahun yang sama
k = konstanta = 1000
- Batas Usia Subur
Untuk kepentingan seluruh negara, WHO menganjurkan untuk menggunakan umur 15-49 tahun sebagai batas usia subur, tetapi untuk memperoleh ketepatan yang tinggi, banyak negara menggunakan umur 15- 44 tahun sebagai batas usia subur, dengan catatan bahwa kelahiran oleh ibu berumur kurang dari 15 tahun dimasukkan dalam kelompok 15- 19 tahun dan kelahiran oleh ibu berumur diatas umur 44 tahun dimasukkan dalam kelompok umur 40-44 tahun.alasan yang dipakai untuk menggunakan umur 15- 44 tahun sebagi batas usia subur ialah dalam kenyataan jarang sekali terjadi kelahiran oleh ibu- ibu berumur lebih dari 44 tahun walaupun pada penduduk dengan tingakat fertilitas yang tinggi. Demikian pula dengan kelahiran oleh ibu- ibu berumur kurang dari 15 tahun.
- Kelemahan Rate Fertilitas Umum
Meskipun rate ini dimaksudkan untuk memperbaiki dan memperhalus rate kelahiran kasar dengan menggunakan wanita usia subur sebagai penyebut, tetapi masih terdapat beberapa kelemahan atau kritik terhidup perhitungan rate ini.
Kelemahan atau kritik tersebut adalah sebagai berikut:
1. Range umur wanita usia subur yang digunakan terlalu lebar, hingga tidak diketahui tingkat kesuburan pada tiap golongan umur.
2. Dalam kenyataan, meskipun wanita berumur 15 tahun mempunyai resiko untuk melahirkan, tetapi jarang dijumpai. Kritik ini kurang sesuai dengan keadaan di indonesia dan negara berkembang lain dimana masih banyak perkawinan usia muda.
3. Wanita berumur 45- 49 tahun telah jarang melahirkan, bahkan 80% dari wanita golongan umur ini telah mengalami menopause.
4. Wanita usia subur yang tidak menikah dan mandul ikut diperhitungkan.
- Manfaat dan Sumber Data
Rate fertilitas umum banyak digunakan dalam bidang kependudukan untuk menaksir tingkat pertumbuhan penduduk. Tingkay pertumbuhan yang tinggi merupakan hal yang tidak menguntungkan bagi pembangunan kesehatan. Rate ini juga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan program keluarga berencana.
Jumlah kelahiran dapat diperoleh dari hasil sensus, survei keluarga, laporan dari rumah sakit, puskesmas dan laporan dari penolong persalinan diluar sarana kesehatan. Untuk negara maju, jumlah kelahiran dapat diperoleh dari sistem registrasi vital.
C. Rate Fertilitas Menurut Golongan Umur ( Age Specific Fertility Rate = ASFR )
ASFR adalah jumlah kelahiran hidup oleh ibu pada golongan umur tertentu yang dicatat selama satu tahun per 1000 penduduk wanita pada golongan umur tersebut pada pertengahan tahun yang sama.
RUMUS:
jumlah kelahiran hidup oleh ibu pada golongan umur
tertentu yang dicatat selama satu tahun
ASFR = ________________________________________ x 1000
Jumlah penduduk wanita pada golongan umur
yang sama pada pertengahan tahun yang sama
Perhitungan ASFR ialah untuk memperhalus perhitungan rate fertilitas umum. Hal ini disebabkan karena tingkat kesuburan berbeda pada setiap golongan umur. Perhitungan ASFR biasanya dilakukan dengan interval 5 tahun hingga seluruhnya terdapat 7 kelas dan masing- masing kelas dihitung rate fertilitasnya. Dari perhitungan ASFR ini dapat disusun distribusi frekuensi menurut golongan umur dan diketahui golongan umur mana yang mempunyai tingkat kesuburan tertinggi. Pengetahuan ini penting untuk menentukan prioritas sasaran program keluarga bencana.
Untuk menghindari ketidaktepatan yang disebabkan karena variasi dalam perkawinan, misalnya anak pungut dan lain- lain, maka kadang- kadang dilakukan penghitungan ASFR pada wanita yang menikah dan mempunyai anak sendiri.
Secara matematis, rumus ASFR dapat ditulis sebagai berikut:
nBx
nfx = ______ x k
nFx
Dimana:
nfx = rate fertilitas pada golongan umur x sampai umur x + n
nBx = jumlah kelahiran hidup oleh ibu umur x sampai umur x + n yang dicatat selama satu tahun.
nFx = jumlah penduduk wanita usia subur berumur x sampai umur x + n pada pertengahan tahun yang sama
D. Rate Fertilitas Total ( Total Fertility Rate = TFR )
Rate fertilitas total merupakan jumlah rate fertilitas menurut golongan umur yang dicatat selama satu tahun. Rate ini menyatakan jumlah anak yang dilahirkan 1000 wanita pada golongan umur tertentu selama masa reproduksi. Bila konstanta ( k ) sama dengan satu, maka angka ini akan menunjukakan rata- rata jumlah anak yang dilahirkan oleh tiap wanita golongan umur tertentu selama masa reproduksi.
Bila interval distribusi wanita usia subur adalah 5 tahun, maka rate fertilitas total sama dengan rate fertilitas pada setiap umur dikalikan dengan 5.
RUMUS:
TFR = jumlah ASFR dengan k = 1 x interval.
Rate fetilitas total meupakan alternatif dari gross fertility rate, tetapi dengan satu keuntungan yaitu setiap golongan umur dihitung per orang. Disamping keuntungan ini, rate fertilitas total mempunyai kelemahan yaitu semua wanita selama masa reproduksi tidak ada yang meninggal dan semuanya menikah dan mempunyai anak dengan pola seperti rate fertilitas menurut golongan umur. Hal ini tidak sesuai dengan kenyataan, dimana sebagian wamita akan meninggal dan sebagian lagi tidak menikah atau mandul. Raet ini bersama dengan rate fertilitas yang lain dapat digunakan untuk menentukan prioritas sasaran keluarga berencana.
Rate fertilitas total dapat juga dihitung secara tidak langsung. Perhitungan ini sama dengan standarisasi tidak langsung rate kematian kasar. Cara ini digunakan bila tidak terdapat data tentang ASFR. Bila pada suatu sensus diperoleh distribusi penduduk wanita menurut golongan umur dan jumlah kelahiran. Untuk menghitung rate fertilitas total digunakan ASFR populasi lain yang dianggap sebagai standar, maka dapat dihitung jumlah kelahiran pada setiap golongan umur yang diharapkan terjadi bila mempunyai ASFR seperti populasi standar. Kemudian dihitung indeks kelahiran yaitu rasio antar jumlah kelahiran yang nyata dengan jumlah kelahiran yang diharapkan. Indeks kelahiran ini dikalikan dengan ASFR populasi standar, lalu dikaitkan dengan interval. Contoh:
|
Umur
1 |
Penduduk Wanita 2 |
ASFR populasi Standar 3 |
Keahiran yang Diharapkan 4 = 2×3 |
Hasil koreksi
3 x 1,0948 |
|
15-19 |
8.806 |
0.0993 |
874,436 |
0,1087 |
|
20-24 |
7.876 |
0.2784 |
2192,678 |
0,3048 |
|
25-29 |
5.759 |
0.2575 |
1482,943 |
0,2819 |
|
30-34 |
5.352 |
0.1976 |
1057,555 |
0,2163 |
|
35-39 |
6.182 |
0.1410 |
871,662 |
0,1544 |
|
40-44 |
5.051 |
0.0512 |
258,611 |
0,0561 |
|
Jumlah |
|
|
6737,885 |
1,1222 |
Kelahiran yang diharapkan pada populasi standar = 7377
Rasio : 7377/6738 = 1,0948
TFR : 1,1222 x 5 = 5,61
E. Gross Reproduction Rate (GRR)
Gross reproduction rate ialah Total Fertility Rate dikalikan dengan proporsi kelahiran bayi wanita. Dengan kata lain, Gross Reproduction Rate ialah jumlah bayi wanita yang dilahirkan oleh 1000 wanita selama masa reproduksi.
RUMUS :
Jumlah kelahiran bayi wanita yan dicatat selama satu tahun
GRR = ___________________________________________ x 1000
Jumlah penduduk wanita usia subur pada Pertengahan tahun.
Rate ini dapat digunakan untuk menafsirkan tingkat kelahiran dan pertumbuhan penduduk, karena sebagai pembilang digunakan kelahiran bayi wanita yang diharapkan kelak dapat bereproduksi.
Gross Reproduction Rate dapat juga dihitung dengan rumus:
GRR = i ∑ ASFRf
i = interval umur yang digunakan
ASFRf = rate fertilitas tiap golongan umur untuk bayi wanita
F. Rasio Jenis Kelamin Saat lahir (Sex Ratio at Birth)
Rasio ini menyatakan perkawinan antara kelahiran bayi laki-laki dengan 100 kelahiran bayi wanita.
RUMUS:
Jumah kelahiran bayi laki-laki
Sex Ratio at Birth = x 100
Jumlah kelahiran bayi wanita
Perhitungan ini relatif mudah dikerjakan, karena hanya membutuhkan jumlah kelahiran . Jumlah kelahiran dapat diperoleh dari survai penduduk atau sensus atau catatan Kantor Wilayah. Bagi negara maju, jumlah kelahiran dapat diperoleh dari sistem registrasi vital. Perbandingan jenis kelamin saat lahir ini diperlukan untuk menghitung Gross Reproduction Rate.
G. Rasio Anak-Ibu (Child-Women Ratio)
Rasio Anak-Ibu ialah perbandingan antara anak balita dengan wanita usia subur.
RUMUS:
Jumlah balita
CWR =
Jumlah wanita usia subur
Po-4
CWR = x k
f15-49
Po-4 = jumlah anak berumur 0-4 tahun kedua jenis kelamin
f15-49 = jumlah wanita berumur antara 15-49 tahun.
k = konstante = 1000
Indeks ini digunakan untuk mengukur insidensi kelahiran oleh wanita berumur antara 15-49 tahun dalam suatu populasi. Rasio ini sangat bermanfaat bila pencatatan kelahiran tidak ada atau tidak lengkap. Pengukuran insidensi kelahiran dengan child-women ratio ini tidak langsung menyatakan jumlah kelahiran sebenarnya, tetapi merupakan jumlah anak 0-4 tahun yang diperoleh dari hasil sensus.
Bila pencatatan dilakukan dengan sempurna jumlah balita yang dihasilkan dapat digunakan untuk menyatakan jumlah balita yang berhasil hidup selama 5 tahun sebelum dilakukan sensus.
Penggunaan Rate Fertilitas Berdasarkan Tahun Penanggalan
Bila hanya diketahui jumlah kelahiran saja, maka digunakan rate kelahiran kasar. Bila di samping jumlah kelahiran diketahui pula distribusi penduduk menurut umur, dapat digunakan General Fertility Rate atau Total Fertility Rate yang dihitung secara tidak langsung. Bila hanya data distribusi penduduk menurut golongan umur yang diperoleh, maka digunakan rasio anak wanita untuk menggambarkan fertilitas.
Seperti halnya dengan rate kematian kasar, rate kelahiran kasar banyak digunakan, selain karena perhitungannya relatif mudah dan cepat, juga mudah dimengerti oleh banyak orang.
Di bawah ini akan diberikan sebuah contoh perhitungan rate fertilitas yang telah dibahas dalam bab ini.
Dari hasil survei bulan Agustus 1084 di sebuah Desa di kabupaten Bandung diperoleh distribusi penduduk menurut golongan umur untuk wanita usia subur dan jumlah kelahiran pada tiap golongan umur. Jumlah penduduk 4.955. rasio jenis kelamin waktu lahir 102. Jumlah penduduk balita 735. Data yang diperoleh dapat disusun dalam bentuk tabel berikut:
|
Umur |
Penduduk wanita |
Jumlah Kelahiran hidup |
|
15-24 |
234 |
19 |
|
20-24 |
221 |
54 |
|
25-29 |
121 |
24 |
|
30-34 |
119 |
13 |
|
35-39 |
131 |
9 |
|
40-44 |
98 |
5 |
|
Jumlah |
924 |
124 |
Sex ratio waktu lahir = 102
1. ASFR
15-19 = 19/234 = 0.0812
20-24 = 54/221 = 0,2443
25-29 = 24/121 = 0,1983
30-34 = 13/119 = 0,1092
35-39 = 9/131 = 0,0687
40-44 = 5/98 = 0,0510
____________________
0,7527 atau 752,7
2. GFR
124/924 X 1.000 = 134.2 O/OO
3. Total Fertility Rate :
0,7527 x 5 = 3,7635 (±4)
4. GRR: Sex Ratio = 102
Proporsi bayi wanita = 100/202
= 0.4950
GRR ialah TFR untuk wanita = 3763,5 x 0,4950
= 1862,9 0/00
GRR dapat juga dihitung dengan rumus:
5 ∑ ASFR untuk wanita.
0,0812 x 0,4950 = 0,04020
0,2443 x 0,4950 = 0,12093
0,1983 x 0,4950 = 0,09816
0,1092 x 0,4950 = 0,05404
0,0687 x 0,4950 = 0,03400
0,0510 x 0,4950 = 0,02524
0,37257 x 5 = 1,8629
= 1862,9 0 /00
5. Rate kelahiran kasar.
Jumlsh penduduk desa tersebut 4.955
Jumlah kelahiran 124
CBR = 124/4.955 X 1.000 = 25 0/00
6. Child Women Ratio
Jumlah penduduk balita : 735
Jumlah wanita usia subur (15-44) : 924
C – W ratio = 735/924 = 0,7955
Komentar Terakhir